
"Bos, kami sudah membereskan Wicaksono."
"Kerja bagus! dia memang pantas mati. Berani-berannya mau melenyapkanku dengan cara yang sama dengan putrinya Nayla, aku tidak akan mati semudah itu."
"Sekarang kami akan pergi lagi untuk merubah identitas Bos."
"Ok, jaga diri kalian dengan baik, jangan sampai tertangkap."
"Tenang Bos, meskipun tertangkap kami tidak akan buka mulut."
**********
"Rizki sayang, setelah ayahmu menerima balasan dari segala kejahatan yang pernah dia lakukan, ibu akan pergi dari negri ini, akan ibu persembahkan jiwa raga dan semua harta yang kita miliki untuk kepentingan kemanusiaan, dan akan ibu jadikan anak-anak di jalur Gaza sebagai pengganti dirimu."
Sri membelai halus pusara Rizki, tidak lagi ada air mata yang menetes.
Setelah menaburkan bunga, dan berdoa Sri berjalan menuju empat kuburan yang tanahnya masih merah, itu lah tempat persemayaman terakhir Abah, Ambu, Arya dan Hesti. Sri pun menaburkan bunga di empat makan tersebut.
__ADS_1
*********
Berita kecelakaan yang menimpa Wicaksono menyebar ke suruh penjuru negri, meskipun semua orang mengenal orang paling berkuasa di kota Y, tetapi di saat dirinya menerima musibah seberat itu, sampai mengakibatkan didinya koma, tidak ada satupun yang merasa simpatik. Justru banyak yang bahagia dengan berita malang itu.
Hanya ada satu orang yang benar-benar sedih dan menunggu Wicaksono di IGD, ya dia Mulyadi, sopir kepercayaan Wicaksono.
Dengan gelisah Mulyadi mencoba berulang kali menghubungi seseorang, tetapi tidak pernah ada tanggapan.
"Maaf apa hubungan Bapak dengan pasien?"
Seorang dokter IGD mengapa Mulyadi yang masih saja sibuk dengan ponselnya.
"Apa tidak ada keluarga yang datang?"
"Tidak ada dok, semua keluarganya telah tewas, dan hanya ada satu putranya tapi belum bisa di hubungi."
"Baik, kalau begitu akan saya sampaikan kepada bapak saja. Untuk saat ini kondisi Bapak Wicaksono masih kritis, beliau mengalami benturan hebat di bagian kepalanya, jadi ada gumpalan darah yang harus kami keluarkan, kalau tidak itu bisa berakibat patal."
__ADS_1
"Maksud dokter harus oprasi?"
"Iya betul pak, jadi kalau bisa secepatnya pihak keluarga datang ke rumah sakit dan menandatangani surat tindakan serta jaminan biaya yang harus di keluarkan."
"Baik dok, secepatnya akan saya bawa putranya kesini."
Tanpa menunggu jawaban dari dokter yang ada di hadapannya, Mulyadi langsung pergi setengah berlari menuju parkiran rumah sakit.
Karena tergesa, banyak pasien dan suster yang dia langgar, rasa bersalahnya tidak menghiraukan semua itu.
Sudah mengabdi selama sepuluh tahun, dari Wicaksono lah dia mendapatkan penghasilan untuk mengidupi kedua anakya, bahkan mampu menyekolahkan keduanya sampai Perguruan tinggi. Sejak istrinya meninggal setelah melahirkan putra keduanya, Mulyadi yang kerja serabutan jadi semakin terpuruk, dia harus menjaga kedua putranya yang berusia dua tahun dan satu bulan.
Dia dan istrinya anak yatim piatu, tidak ada sanak saudara di kota besar itu, dia hanya memiliki sepetak tanah yang di atasnya berdiri bangunan rumah yang sudah tua peninggalan kedua orang tuanya, meskipun hidup pas-pasan, tetapi istri Mulyadi sangat sabar dan penyayang, jadi di saat dirinya di tingal pergi untuk selamnya, Mulyadi seolah kehilangan harapan dan semangat hidup.
Hingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidup bersama kedua putranya, dengan cara menceburkan diri ke sungai, agar mayatnya bisa hanyaut tidak perlu mengeluarkan biaya pemakaman.
Dan di saat itulah Wicaksono datang sebagai penyelamat hidupnya, dengan bantuannya, Mulyadi mampu membayar babaysitter, dan memberikan rumah yang layak juga pendidikan yang mumpuni.
__ADS_1
Sejak saat itu, Mulyadi berjanji akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk Wicaksono, tetapi karena bujuk rayu Bang Sayid, entah kenapa pendiriannya yang teguh menjadi goyah.