BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR60


__ADS_3

Sri yang masih syok, makin terpukul mendengar pembicaraan mereka.


Awalnya dia berpikir lelaki yang turun dari mobil Lexus itu hanya mirip perawakanya dengan seseorang yang telah menorehkan luka dalam di hatinya, dan luka itu masih terasa meskipun waktu terus bergulir sampai satu tahun ini, tapi ketika wajahnya terlihat jelas dugaannya ternyata benar. Orang yang sedang menuju boutiquenya itu tidak lain dan tidak bukan Bang Sayid, itulah yang membuat Sri memutuskan pergi dan menghindari mereka.


Bukan karena takut menemui Bang Sayid, tapi Sri tidak mau dendamnya yang sudah mulai mengikis, kembali menguasai dirinya.


Yang menggangu pikiranya sekarang, kenapa Bang Sayid bisa bersama wanita itu? Apa Bang Sayid mempelai pria dari anak pejabat itu?


kemana Tantenya Sandra?


Kepala Sri terasa berat memikirkan itu.


Lamunannya buyar ketika terdengar derap kaki berlari menaiki tangga.


"Mrs, si pemesan baju pengantin tadi meminta kita mengantarkan bajunya ke alamat ini."


Wanda menyerahkan kartu nama yang diberikan Bang Sayid tadi.


"Orangnya sombong banget Mrs, tapi lucu juga he,"


Wanda bercerita sambil cekikikan, sementara Sri mengamati kartu nama yang diberikan anak buahnya itu.


Kartu nama berwarna putih semburat pink dengan nama Anggun Sastra Wiyanto Ed. D


Dengan alamat pemukiman elite khusus para konglomerat tinggal. dan sebuah nomor hand phone yang bisa di bubungi.


Apa dia juga termasuk target Bang Sayid?


Ternyata dia hebat juga bisa mengenal anak pejabat dan bisa menjeratnya. Sri mengakui kehebatan Bang Sayid.

__ADS_1


"Mrs, saya pamit dulu mau paking bajunya."


Wanda yang heran dengan sikap Bosnya itu berlalu meninggakkan Sri yang masih asik memandang kartu nama Anggun tidak menghiraukan perkataan anak buahnya.


"Aku harus mencegah pernikahan mereka, jangan sampai ada korban selanjutnya, tapi,, bagaimana dengan tante Sandra? apa sebaiknya aku hubungi dia? biar tante Sandra saja yang mengagalkan pernikahan mereka."


Sri beranjak dari sofa menuju meja kerjanya, untuk mengambil gawai.


"Hallo tante, bagaimana kabarnya?"


"Maaf ini dengan Putri, mama koma sudah hampir setahun."


Deg!


Hampir setahun? bukanya itu terkhir berkomunikasi dengan tantenya.


"Putri anaknya tante Sandra?"


"Bagaimana tante Sandra bisa koma? di rumah sakit mana dirawatnya? ini sama Tante Sri keponakan jauh mamamu"


"Kecelakaan, jatuh dari tangga Tan, RS. Sumber Waras."


"Hah, ko bisa? bagaimana ceritanya?"


"Panjang ceritanya Tan,"


"Ya sudah Tante langsung kesana."


Sri menyambar kunci mobil dan pergi menuju rumah sakit tempat Sandra dirawat, dia tidak perduli dengan pekatnya malam.

__ADS_1


Sebelumnya dia sudah berpesan untuk segera mengirim baju pengantin Anggun.


Selama diperjalanan yang jaraknya lumayan jauh, minda Sri dipenuhi berbagai macam pertanyaan, rasa syok mendapatkan kenyataan kalau Bang sayid akan menikah lagi, dan kabar duka yang menyebutkan Sandra koma.


"Apa mereka pisah gara-gara tante Sandra koma?"


gumam Sri.


setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua jam lamanya, Sri sampai di rumah sakit yang dia tuju, suasana rumah sakit masih tetap ramai meskipun waktu menunjukan jam sepuluh malam, setelah memarkirkan mobilnya, dia langsung bergegas menuju ruang inap Sandra yang sebelumnya sudah dikasih tau Putri.


Sampai di tempat yang dituju, Sri langsung masuk setelah mengucapkan salam tapi tidak ada orang yang menjawab. Dikamar itu ternyata hanya ditempati satu pasien, pasilitasnya cukup lengkap, satu ranjang, lemari pakaian, televisi, dan kulkas. dekat kamar mandi bahkan ada tempat menanak nasi. Tapi tante Sandra tidak ada di dalamnya.


Sri kembali keluar dan menuju tempat informasi yang kebetulan tidak jauh dari situ.


"Maaf sus, apa betul pasien yang bernama Sandra dirawat dikamar itu?"


menunjuk ke arah kamar yang baru saja ditinggalkanya.


"Betul, tapi pasien atas nama Ibu Sandra baru saja meninggal dan dibawa ke ruang jenazah."


"Yang benar Sus? kapan? dua jam yang lalu saya masih telponan sama anaknya Putri, katanya baik-baik saja meskipun koma."


"Betul Ibu, sekitar stengah jam yang lalu, pasien tiba-tiba kejang dan tidak tertolong lagi,"


"Dimana kamar mayatnya?"


Sedikit emosi Sri berusaha mencari keberadaan Sandra untuk membuktika kebenaran yang suster katakan.


"Di lantai bawah, dekat mushola, kalau dari sini ibu turun dulu, setelah tangga ambil arah kanan, ikuti lorong yang ada di sana, ada ruang radiologi belok kiri, lanjut jalan dua ruangan dari situ sebelum mushola baru ibu bisa menemukan kamar mayat."

__ADS_1


"Ok terimakasih."


Sri bergegas meninggalkan si suster yang akan melanjutkan perkataanya.


__ADS_2