
Setelah cukup lama termenung, Wan Abrada memutuskan menghubungi suami dan keluarga Kartika untuk mengabarkan kepergiannya. Dia ambil gawai Kartika, dan mencari panggilan keluar yang sering dihubungi. "Suamiku tersayang" itulah nama yang sering Kartika hubungi. Dada Wan Abrada bergemuruh, rasanya ingin segera bertemu suami Kartika dan menghajarnya, dia begitu mencintai dan menyayangi Kartika tulus, rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan wanita itu. Sementara, suaminya sendiri tega membiarkan Kartika kerja di luar negri dan menghianati cinta dan pengorbananya.
Beberapa kali menghubungi kontak "suamiku tersayang" belum juga ada jawaban, baru dipanggilan yang ke lima ada seseorang diseberang panggilan bertanya dengan nada dingin dan sedikit membentak menjawab panggilan Wan Abrada.
Orang itu bukanya bertanya kabar sang istri, justru dia menanyakan kenapa terus menghubunginya? dan berkata kalau banyak pekerjaan rumah yang belum beres karena terlalu sibuk mengurus kedua anaknya.
Padahal Wan Abrada melihat dengan jelas kalau tadi siang dia sibuk mengantarkan seorang perempuan modis, meskipun perbedaan usia terlihat jelas diantara keduanya.
Belum sempat Wan Abrada menjelaskan maksudnya, tiba-tiba dengan nada lebih tinggi dia meminta uang untuk keperluan sekolah anak-anaknya.
Karena teramat kesal Wan Abrada memaki Bang Sayid dengan kata-kata kasar dengan bahasanya sendiri. Mendengar suara laki-laki yang menjadi lawan bicara dengan dirinya menggunakan kata-kata yang dia tidak pahami tapi Bang Sayid bisa tau kalau orang itu sedang memarahinya karena terkesan membentak, sontak saja Bang Sayid balik menghardik si penelpon.
__ADS_1
Keduanya saling bentak dan mencaci maki dengan bahasanya sendiri, setelah merasa puas mengeluarkan unek-eneknya Wan Abrada mematikan panggilan dan segera meminta perawat yang kebetulan lewat di depanya, untuk mengabarkan kematian Kartika kepada orang yang baru saj.
Baru saja panggilan tersambung, perawat itu malah dapat omelan kasar.
"Beraninya kamu matikan telpon, siapa kamu hah?! "mana Kartika?"
"Maaf Bapak, kami dari pihak Rumah Sakit Holist ingin mengabarkan kalau Ibu Kartika telah meninggal satu jam yang lalu dikarenakan penyakit kangker rahim."
"Kami tidak berniat menipu Bapak, informasi ini saya sampaikan dengan sebenarnya, silahkan datang langsung ke kamar jenazah RS kami agar Bapak bisa memastikan kebenarannya."
Suara perawat itu tidak lemah lembut lagi karena merasa kesal dengan reaksi lawan bicaranya.
__ADS_1
"Halah, jangan banyak bacot, mana Kartika? kenapa telpon W@ts@p pake nomor dia? sini kalau berani video call. Apa jangan-jangan kalian komplotan penculik? tadi sebelum kamu hubungi aku ada lelaki gak jelas ngoceh pake bahasa aneh bentak-bentak aku, sekarang malah bilang Kartika mati, mana mungkin aku percaya."
"Terserah Anda! kami hanya ingin menginformasikan itu saja. Kalau orang yang menghubungi Anda sebelum saya, sepertinya bukan orang sekitar sini, lebih tepatnya seperti keturunan Arab."
Perawat itu semakin kesal mendengar kata-kata kasar dari Bang Sayid, dia mengakhiri panggilan dan berniat menyerahkan gawai Kartika kepada Wan Abrada yang sejak tadi hanya diam. Tapi baru saja berpindah tangan tiba-tiba ada video call masuk, dengan nama "suami tersayang".
Dengan kesal perawat itu mengambil kembali gawai yang baru saja di Terima Wan Abrada dan menerima video call itu.
"Silahkan Anda cek sendiri, ini Kartika istri Anda bukan?"
Membuka kain yang menutup jasad Kartika.
__ADS_1