
Bip!
Mata Bang Sayid terbelalak lebar melihat isi pesan yang baru saja dibukanya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, ya delapan. Tiga puluh juta!"
Setengah berteriak dia menyebut nominal itu.
"Aku gak salah lihat, ini jelas tiga puluh juta. Padahal baru seminggu kemaren dia transfer sepuluh juta.
Aku yakin gajih di sana meskipun besar tapi enggak segede ini juga kali. Apa dia ngelonte?"
"Ah bodo amat, yang penting aku bisa mendapatkan uang banyak, mau seperti apa kerjaan mereka di sana aku sudah tidak perduli lagi hahaha!"
"Harusnya aku mengirim Sri ke Arab juga, aku yakin disana banyak pria yang mau mendapatkannya. Kartika aja yang bodynya pas pasan enggak ada menariknya bisa menghasilkan uang sebanyak ini, apa lagi Sri."
"Bego, malah sekarang dia gak ada kabarnya sama sekali, bagaimana kalau dia sampai tau anaknya mati? Ahh bodo amat! mau gugat cere juga siap tinggal cari aja gantinya haaa!"
Ya, bagiku kematian Rizki tidak ada pengaruhnya, toh kalaupun masih hidup dia hanya bisa menyusahkan dan menghabiskan uangku saja. Tapi untuk sekarang aku akan menutupi kematian Rizki biar Sri bisa dikendaliin.
***********
kring!
kring!
"No siapa ini?"
"Hallo"
"Sri!"
"Iya Bang."
__ADS_1
"Kenapa baru menghubungi? udah Abang bilang kalu sampai sana secepatnya kasih kabar, ini hampir mau sebulan baru kau telpon Abang!"
"Rizki gimana kabarnya Bang?"
Siapa, dia tidak memperdulikan ocehanku, malah anaknya yang sudah mampus yang dia tanyakan.
"Baik, kenapa kau tak jawab pertanyaan ku?"
"Aku baru dapat nomor Bang."
"Sudah dapat gajih belum kau?"
"Seminggu lagi Bang."
Bagus, seminggu lagi aku akan mendapatkan pulus lagi.
"Secepatnya kau kirim uang itu, anakmu butuh biaya banyak."
"Kata dokter gimana perkembangannya Bang?"
"Syukur lah Bang, kirimin foto terbarunya Rizki aku gak bisa lama lama."
"Iya, jangan lupa kalau sudah gajihan kirim secepatnya."
Tut!
Sialan, berani beraninya matiin telpon.
Untung pas sebelum kematiannya aku banyakin ambil foto Rizki.
Pokonya jangan sampai dia tau kondisi di sini sekarang, aku belum menikmati hasilnya.
**********
__ADS_1
"Sepertinya Kau baru saja tembus nomor togel ya Bang? Awak lihat dari tadi bahagia kali."
"Gak perlu pasang Togel Bang Tagor, aku sudah dapat duit banyak tanpa kerja."
"Mau atuh Bang Sayid, saya sering pasang nomor tapi teu pernah tembus wae. Yang ada si neneg ngomel tiap hari gara gara uang belanjana kurang."
"Kang Asep yang bego, punya bini bohay gitu kenapa gak suruh kerja diluar negri aja."
"Siapa atuh yang ngurus anak anak kalau emanya malah suruh ka luar negri?"
"Di ibu mertua, kalau enggak ya sama ibumu Kang Asep."
"Apan udah pada tua atuh, kasian pisan kalu suruh ngurus cucunya mana sakit sakitan terus."
"Pakai pembantu aja Kang Asep, pasti ke bayar ko. Apa lagi kalau ke Taiwan apa Arab, di jamin sebulan juga bisa bayar yang ngurus anaknya kang."
"Yang bener atuh Bang Sayid?"
"Kenapa harus bohong, aku kan udah ngalamin sendiri Kang. Pakai pembantu yang gak digajih juga bisa."
"Gak bakalan ada yang mau atuh Bang, ngurusin anak kita kalau bukan ibunya gak di bayar."
"Jadiin istri kedua Kang."
"Bang Sayid mah bisa aja, satu ge masih pusing mikirinnya, apa lagi dua."
"Gak usah difikirin, dicoba dulu aja Kang."
"Kang Asep mana berani bah kawin lagi, bininya dia kan serigala hahaha."
Brak!
"Enak enakan nongkrong di sini sambil ketawa ketawa, pulang Bang Togar! Cucian udah kering semua tuh!"
__ADS_1
"Dia bilang istriku macan, ehhh istrinya dia malah neneknya macan hahahah!"
Aku terkekeh melihat Bang Togar yang diseret bininya pulang, padahal perawakan dia tinggi besar penuh tato, dan kerjaan dia debt collector bisa tunduk dan patuh sama istrinya. Sementara aku yang berpenampilan rapi, terkesan lembut bisa dengan mudah memperbudak istri istriku.