
Pagi itu Sri sengaja mengajak Putri untuk ikut ke boutique, karena merasa khawatir meninggalkanya sendiri, selain itu dia sudah menyusun renana untuk kembai mendatangi rumah mendiang Sandra di sore harinya.
Putri begitu antusias melihat berbagai model gaun pengantin yang terpajang di Mrs.Gayatri boutique,
"Apa ini semua rancangan Mbak?"
"Iya,semuanya Mbak yang rancang,"
"Pernahkah Mbak memakainya?"
Sri menggeleng sambil tersenyum, memang sejak dulu Sri sangat menyukai keindahan gaun pengantin, sampai dirinya jadi perancancang gaun pengantinĀ terkenal, tetapi belum sekalipun dirinya memakai gaun yang indah itu, bahkan hanya sekedar mencoba.
"Bos lagi ngomong sama siapa?"
"Sama putri, adik saya, sini kenalin Wan."
"Mana? gak ada siapa-siapa,"
"Barusan di sini, kemana perginya?"
Sri mengedarkan pandangn, dia merasa heran Putri bisa menghilang secepat itu.
"Dari pertama datang, Bos sendirian."
"Jangan ngaco kamu, jelas-jelas Putri dari tadi datang bareng."
"Coba Bos cek CCTV, dari petrama gak ada orang lain yang ikut sama Bos, makanya Wanda kaget waktu lihat Bos ngobrol sendirian."
"Kamu yang harus pakai kacamata, bisa jadi matamu rusak,sudah ah saya mau ke atas, siapa tau Putri pergi ke sana duluan."
Sedikit emosi Sri pergi meninggalkan Wanda yang masih keheranan dengan tingkah Bosnya.
__ADS_1
"Yang aneh itu Bos dari pertama datang ngobrol sebdiri, mataku ini masih sehat walafiat, malah suruh pakai kacamata segala, apa jangan-jangan mata Bos yang rusah hihi, Waduh, kenapa ada angin dingin, kaya ada setan lewat, hi serem."
Wanda setengah berlari menuju ruang produksi, kebetulan boutique belum buka, tapi para karyawan bagian produksi sudah datang sejak jam tujuh pagi.
krettt!
Pintu ruangan kerja Sri terbuka, dengan tergesa dia masuk ke dalam sambil terus berteriak memanggil nama Putri, tapi nihil. Karena merasa khawatir, Sri kembali turun ke lantai bawah berniat mencarinya ke toilet, tapi saat melewati ruangan istirahat para karyawan yang berada di bawah tangga Sri melihat Putri berdiri mematung, pandangannya terarah ke televisi yang sedang menyiarkan berita persiapan pernikahan si anak pejabat.
**************
Saat Wanda menghampiri Sri, Putri segera pergi ke arah dalam menuju ruangan yang terdengar bising dngan suara mesin dan para karyawan, setelah melihatnya sebentar, Putri lanjut menuju ruangan sebelahnya yang berisi kursi santai, kursi pijat, dua kasur, sebuah lemari pakaian dan sebuah televisi dalam keadaan menyala.
Tiba-tiba badanya kaku, kepalanya berdenyut, saat melihat sosok lelaki tampan yang menghiasi layar kaca.
Semakin lama menatap pria itu, kepalanya semakin sakit, dan berat, disusul muncul potongan-potongan memory dimana dia melihat seseorang yang mirip dengan dirinya berada di sebuah mobil yang sedang meluncur jatuh ke sebuah sungai, tetapi pandangan perempuan itu tertuju pada satu titik, karena pensaran, Putri melirik ke arah di mana si perempuan memusatkan pandangannya, dan betapa kagetnya Putri melihat sosok laki-laki yang memiliki kemiripan hampir seratus persen dengan orang yang dilihatnya sekarang.
Keningnya mengerut tanda berusaha keras mengingat siapa lelaki yang ada di layar kaca, tetapi semakin dia berusaha mengingatnya, rasa sakit di kepalanya semakin hebat. Kedua lututnya gemetar dan tidak sanggup lagi menopang tubuhnya, Putri ambruk, tetapi untungnya Sri menahan kepalanya sehingga tidak terbentur lantai.
"Siapa pria yang ada di televisi itu Mbak?"
Bukanya menjawab, Putri malah menunjuk arah televisi, sementara tangan kirinya masih memegang kepala.
"Itukan Bapak tirimu? kenapa kamu bertanya seperti itu? apa kamu lupa sama suami baru mamamu?"
Sri merasa heran, karena Putri tidak mengenali Bang Sayid.
Mata Putri terpejam, dia berusaha keras mengingat sosok yang sangat mengganggu pikiranya. Tapi percuma, bukanya nengingat leleaki itu justru rasa sakit di kepalanya semakin hebat.
"Ahh!"
Putri mengerang kesakitan, dan perlahan tapi pasti tubuhnya memudar seolah menjadi kabut, Sri yang melihat itu panik dan berusaha menggapai tubuh Putri yang semakin samar, dan akhirnya menghilang.
__ADS_1
Sri tertegun menatap kedua tanganya yang masih berada di posisi menyangga badan Putri, yang kini telah menghilang entah kemana, apa yang dilihatnya membuat Sri syok, bagaimana bisa tubuh Putri menghilang bagaikan kabut.
********
"Lihat tuh Nur, ada yang anehkan sama Bos kita, masa dari pertama datang udah ngomong sendirian, waktu aku tanya ngobrol sama siapa? katanya sama adeknya, padahal jelas-jelas waktu itu dia sendirian.
Pas aku kasih tau, malah katanya mataku yang rusak, suruh pake kacamata segala, ehh sekarang kaya gitu lagi, untung kamu juga lihat, bukan mataku yang ruksak, tapi Bisa kita yang mulai aneh."
Setengah berbisik Wanda curhat kepada temannya yang sama-sama mengintip Sri dari luar ruangan santai para karyawan.
"Iya, apa Bos kita sakit? kenapa dia duduk di lantai sambil tangannya kaya gitu ya? kaya lagi megang sesuatu? ihh ko aku jadi serem Wan."
"Makanya tadi aku bilang apa? Bos dari pagi sikapnya aneh banget, apa jangan-jangan Bos kesurupan."
"Hush! masa bos kita kesurupan, dia iturajin banget ibadahnya, gak mungkin kalau kesurupan,"
"Terus kenapa coba?"
"Walah, itu Bos malah teriak-tetiak manggil Putri, tanganya juga kaya ngusap-ngusap sesuatu? ayo samperin aja Wan, aku jadi khawatir." Si tinggi kurus bermata sayu yang dipanggil Nur berlari ke arah Sri.
Tanpa menjawab, Wanda pun langsung mengikuti Nur.
"Ada apa Bos?"
"Kenapa Bos? nyebut ndang nyebut." Nur yang asli Jawa Tengah menggoyang-goyangkan badan Sri yang masih bersimpuh sambil menatap kedua telapak tangannya.
"Putri hilang, tiba-tiba dia jadi asap Nur!"
"Walah, jabang bayi jangan nakutin Wanda to Bos, masa ada orang hilang jadi asap, Jangan-jangan itu setan Bos."
Saat ini Sri terdiam, dia tidak mencela perkataan Wanda yang terkenal paling kocak tetapi penakut.
__ADS_1
"Coba Mrs ceritain kejadianya seperti apa? siapa tau Nur bisa bantu,'