
Prv. Kartika
Saat cerita kepada Bang Sayid ada yang menggoda dan mendekatiku, sikapnya acuh tak acuh seolah tidak ada rasa cemburu, mungkin karena terlalu percaya kepadaku. Hal itu membuat aku semakin berani bermain hati di belakang Bang Sayid.
Pernah suatu waktu dia bertanya dapat uang sebanyak itu dari mana? aku bilang dapat bonus dan sekalian pinjam kepada majikan, padahal semua itu bohong, kenyataanya anak majikan yang seorang pengusaha karpet menjadikanku sebagai pemuas nafsunya. Imbalan yang aku dapatkan memang tidak main-main, tiga kali lipat gajih sebagai perawat ayahnya.
Aku semakin menikmati propesi baru sebagai gundik dari Wan Abrada nama anak majikan yang selama ini memberikan segala yang aku mau selama dia puas dengan servisku.
__ADS_1
Tidak ada lagi perasaan bersalah terhadap Bang Sayid, karena untuk dia dan anak-anaklah alasan utamaku melakukan semua ini.
Selama di negri orang aku selalu memantau pergerakan Bang Sayid, Si sulung jadi informan dan mata-mataku. Dan aku bersyukur karena selama kepergianku Bang Sayid menjaga buah hati kami dengan baik, dan tidak pernah mendengar isu miring tentangnya, itulah yang menjadi penyemangat dan motifasiku untuk mencari uang sebanyak-banyaknya dan segera pulang untuk berkumpul lagi dengan keluarga kecilku meskipun harus menepuh jalan yang salah.
Hampir satu tahun aku menghianati Bang Sayid, dan sudah tiga kali mengandung janin Wan Abrada, tapi dengan keahlianku yang sudah terbiasa menggugurkan kandungan dengan menggunakan ramuan herbal yang aku racik sendiri akhirnya janin itu tidak pernah terlahir ke dunia.
Sejujurnya ingin mengatakan yang sebenatnya kepada Wan Abrada bahwa aku sudah memiliki suami dan anak, tapi lagi-lagi rasa tamak mengurungkannya, biarlah dia jadi tambang emas bagiku.
__ADS_1
Tapi akhir-akhir ini entah kenapa setelah menggugurkan kandungan yang ke tiga kalinya perutku sering sakit, seolah ada ribuan jarum menusuk sampai-sampai sering menangis menahan sakit yang teramat sangat, lebih sakit dari melahirkan dan keguguran. Semakin sering aku mengalami rasa sakit yang sama bahkan seminggu kadang sampai tiga kali, dan hal itu sangat mengganggu pekerjaanku.
Hingga pada suatu hari tepatnya minggu pagi aku tidak sadarkan diri, dan kebetulan Wan Abrada yang pertama kali menemukanku tergeletak di taman belakang. Di rumah itu hanya ada aku, juru masak dan majikan yang kami rawat. Setiap pagi kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan tidak ada yang mencampuri urusan pribadi. Bahkan ketika Wan Abrada sering bercinta di kamarku tidak ada yang tau.
Saat tersadar ternyata aku sudah ada di rumah sakit, dengan selang infus terpasang. Wan Abrada begitu senang melihat aku tersadar, dia langsung memanggil perawat dan tidak menunggu lama dokter sama dua perawat mendatangi kami.
Dia menerangkan dengan bahasanya kalau aku di ponis mengidap kangker rahim stadium tiga, mendengar itu rasanya bumi seakan runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya, Wan Abrada yang melihatku menangis seperti itu hanya terdiam dan memeluku dengan erat.
__ADS_1