
Sri beranjak dari makam Rizki dengan berat hati, ingin rasanya dia belama-lama tapi panggilan untuk melaksanakan sholat maghrib telah berkumandang.
Sampai di rumah Sri langsung membersihkan diri dan sholat, dalam do'anya dia berkeluh kesah seolah tidak terima dengan nasib hidupnya. Setelah puas mencurahkan segala isi hati kepada Rabbnya, Sri langsung menyusun rencana untuk membalas dendam terhadap lelaki yang masih berstatus suaminya yaitu Bang Sayid.
"Aku harus jadi seseorang yang sangat bersinar, yang membuat Bang Sayid terpikat, setelah jatuh kedalam perngakapku, di saat itulah aku akan membalasmu dengan sangat pedih!"
Hati Sri sudah dipenuhi dendam yang susah di padamkan, dia hanya ingin melihat Bang Sayid sengsara seumur hidupnya.
Kring!
Kring!
"Hallo, Tante Sandra, iya ada apa?"
"Kamu jadi ikut gak Sri? malam ini Tante mau berangkat ke Bali sama calon suami,"
"Jam berapa Tan?"
"Jam sembilan harus sudah di Bandara, kalau mau ikut sekalian tante jemput kamu, kan rumahmu searah dengan bandara."
"Mohon maaf Tante, sepertinya Sri tidak bisa ikut, lagi kurang enak badan,"
"Wah sayang sekali, padahal Tante berharap ada keluarga dari Tante yang bisa hadir diprnihakan ini, kamu tau sendiri keluarga kita sangat sedikit, dan kebanyakan dari mereka sudah meninggal, yang ada pada jauh tinggalnya."
__ADS_1
"Mohon maaf Tante, Sri benar-benar tidak bisa ikut,"
"Ya sudah gak apa-apa, tapi kamu harus hadir di acara resepsinya ya,"
"Kapan? dimana?"
"seminggu setelahnya, di rumah Tante, harus hadir jangan sampai enggak!"
"Ok Tan, akan Sri usahakan."
"Sibuk terus, lagi telponan sama siapa? calon suaminya dateng dicuekin."
"Maaf lagi ngajak ponakan jauh pergi ke acara pernikahan kita, tapi sayang gak bisa ikut, padahal dia saudara dari ibu satu-satunya yang tersisa."
"Suara itu, sepertinya familir" Sri membatin.
"Tante pamit dulu ya, mau siap-siap, dahh"
Tut!
Belum sempet menjawab, panggilan itu terputus. Sri masih terganggu dengan suara lelaki calon suami Tantenya, dia merasa suara itu tidak asing, bahkan suara itu sangat terekam jelas di memorinya, dan tidak akan pernah dia lupakan.
"Mungkin saja dia lelaki yang berbeda, masa iya Bang Sayid mau menikahi Tante Sandra yang umurnya lebih tua, bahkan terpaut sangat jauh."
__ADS_1
Sri berusaha menepis segala prasangkanya.
**********
Malam itu tepat jam sembilan Bang Sayid dan Sandra sudah take off, mereka pergi hanya berdua, tiket yang sudah dipesan untuk lima orang hangus tiga, karena Abah, Ambu dan putri semata wayang Sandra tidak ikut. Bukanya merasa terbebani atau bersedih, justru Sandra terlihat sangat bahagia kerena bisa menghabiskan waktu berdua saja bersama orang yang sudah membuat hatinya berbunga-bunga sampai lupa umur.
Lain hal dengan Bang Sayid, meskipun senyuman tersungging di bibirnya, tapi hati kecil berkata sebaliknya. Kalau bukan karena harta, malas belama-lama dekat Sandra, apa lagi di tempat umum, karena dia merasa risih melihat tatapan aneh orang yang melihat ke arahnya.
**********
Seminggu sudah Sandra menjadi istri Bang Sayid, rona kebahagiaan selalu terpancar dari wajahnya, dia merasa saat ini pilihannya tepat dan menemukan orang yang selama ini dia dambakan, berwajah tampan bak oppa Korea, bertubuh atletis layaknya seorang atlet, romantis dan jago ranjang.
Wajah keriputnya mengencang tanpa perlu perawatan, dia juga berusaha berperan jadi istri yang ideal, dengan memberikan serpis memuaskan meskipun selalu kalah duluan, dan memasak makanan enak agar suaminya tidak jajan di luar walaupun makanan itu jarang Bang Sayid habiskan.
Kegiatan mereka selama seminggu ini hanya bersenang-senang, Sandra masih cuti, begitupun Bang Sayid, yang memang pada dasarnya seorang pengangguran.
Segala pengeluaran dan biaya hidup Sandra yang tanggung, tapi semua itu seolah tidak memberatkan Sandra.
"Sayang kamu cantik," Bang Sayid memuji Sandra yang terlihat berbeda di acara resepsi pernikahan mereka.
"Abang juga, gagah dan tampan, awas jangan main mata sama teman dan kolega Sandra ya,"
"Mana mungkin Abang tergoda dengan mereka, bagi Abang, kamu yang tercantik dan segalanya."
__ADS_1
Padahal sejak tadi Bang Sayid selalu mencuri pandang seorang gadis yang mirip istri keduanya.