BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR105


__ADS_3

Awalnya Wicaksono tidak ingin melihat Bang Sayid mati dengan mudah, dia ingin menantunya itu berumur panjang tetapi dalam kesengsaraan.


Namun rasa kecewa dan dendam yang membuncah, membuat Wicaksono tidak ingin melihat muka Bang Sayid lagi dan memutuskan menghabisinya saat itu juga.


Sekeliling gedung yang awalnya di gunakan sebagai tempat penyimpanan barang, telah di siram bensin oleh kelima anak buah kepercayaan Wicaksono. Dan tanpa menunggu intruksi dari tuanya, Mulyadi melemparkan korek api, dan dengan sekejap api menjalar membakar gedung itu.


Wicaksono tersenyum puas saat melihat kobaran api menjalar dengan cepatnya, karena hembusan angin di siang itu sangat kencang, sehingga api bisa dengan mudah melahap apa saja yang dilewatinya.


"Kenapa aku tidak mendengar jeritan si Sayid?! apa kamu sudah pastikan dia terikat di dalam?"


Seakan kurang puas karena tidak terdengar jerit kesakitan dari Bang Sayid.


"Sepertinya dia belum sadar dari pingsannya, karena sebelumnya kami telah menghajarnya sampai pingsa."


"Bagus, aku suka kerja kalian."


Tersenyum puas.


Sementara Mulyadi hanya diam dan mengernyitkan dahinya karena merasa aneh, meskipun sebelumnya tidak sadarkan diri, pasti kalau kena panas dari api, siapapun akan terbangun, kecuali dia mati.


Setelah menunggu cukup lama, dan api semakin membesar, akhirnya Wicaksono meninggalkan tempat itu.


"Kenapa dari tadi aku perhatikan kamu kaya orang binggung."


"Emh, gak apa-apa tuan, hanya saja kurang enak badan."

__ADS_1


Mulyadi berusaha menutupi keresahanya, dia tidak ingin merusak kebahagiaan dari tuanya itu.


"Nayla sayang, semua penderitaanmu telah Daddy balaskan, hanya ini saja yang bisa Daddy lakukan untuk kamu, semoga kamu tenang di sana dan bisa bertemu ibumu."


Wicaksono memandangi foto Nayla di dompetnya, dengan mata berkaca-kaca.


************


Di sebuah lobi hotel mewah, Sri tersenyum bahagia melihat kebakaran yang terjadi di gudang perusahaan milik Wicaksono, dia yakin kalau itu ulah Wicaksono sendiri.


"Kring!"


"Ya hallo Widya, ada apa?"


"Untuk kapan?"


"Bulan depan,"


"Baik, tunggu satu minggu saja, saya ingin menuntaskan permasalahan yang ada di sini dulu."


"Baik bos, semoga harimu menyenangkan dan cepat dapat jodoh hee."


"Hemm!"


Menutup panggilan dari Widya, jujur saja Sri paling sensitif kalau masalah pernikahan.

__ADS_1


**********


Menjelang sore Wicaksono baru sampai di rumah besarnya, yang masih sepi karena hanya ada satu ART dan Security yang jaga di gerbang depan.


Tanpa bicara dia melewati ART yang membukakan pintu untuknya, dan langsung masuk kamar yang berada di lantai satu dekat ruang keluarga.


Setelah membersihkan diri, dia langsung naik ke atas kasur berniat untuk istirahat.


Tetapi ekor matanya menangkap tas kecil berwarna coklat yang ditemukan Mulyadi saat dirinya mencari Bang Sayid.


Belum sempat dia mengecek isi di dalam tas itu, karena kesibukan di perusahaan dan sebagai politisi, membuat dirinya susah membagi waktu.


Dengan sedikit jijik, Wicaksono membuka resleting yang ada di bagian tengah, banyak kertas nota pembelian dan ada tiket pesawat di dalamnya, tujuan tiket itu ke Cina yang jadwal keberangkatannya dua hari lagi.


"Haha, untung saja aku langsung membereskanmu Sayid, jadi tiket ini tidak akan bisa kamu pakai lagi."


Wicaksono merobek tiket itu.


"Kenapa ada bnyak kunci berukuran kecil di tas ini? apa dia memiliki sesuatu yang berharga?"


Wicaksono mengamati kunci berukuran kecil yang jumlahnya lumayan banyak.


Setelah mengeluarkan semua isi tas yang berada di bagian tengah dan tidak menemukan apa-apa lagi, dia lanjut membuka bagian depan yang lebih kecil, dan di sana ada sebuah dompet hitam.


Wicaksono membuka dompet itu, dan di bagian depan ada sebuah foto yang membuat Wicaksono terbelalak seolah melihat sesuatu yang menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2