
"Itu Mbu, anu.."
"Anu opo to Mbah, jangan saru! Anu mu kenapa?"
"Hush Ambu ini, anu Kartika Mbu."
"Halah pake anu lagi, anunya Kartika kenapa? lawong Kartika sehat-sehat saja, udah pulang tadi Bah, sekarang lagi di kamar Arya sama Hesti makanya cepetan kalian pulang."
"Apa Ambu bilang? jangan ngaco Mbu!"
"Kenapa malah bentak! bukanya seneng menantu kita pulang dalam keadaan sehat dan selamat. Pake ngatain Ambu ngaco segala."
"Iya emang Ambu ngaco, lawong Kartika udah gak ada Mbu,"
"Ya pasti gak ada, kan di sini."
"Kartika meninggal Mbu!"
"Apa! yang bener Bah, jangan main-main."
"Abah serius, Kartika meninggal di Bandara karena penyakit kangker rahim stadium tiga yang di deritanya."
"lha terus yang ada di kamar anak-anak siapa?"
"Mana Abah tau? coba cek, siapa tau Ambu salah lihat."
__ADS_1
"Meskipun Ambu tua tapi masih bisa lihat jelas, apa lagi sosok Kartika, Ambu kenal seperti apa bentukanya."
"Udah sana Ambu pastiin lagi, Abah mau pulang sekalian bawa jenazah Kartika."
"Tut!"
"Tut!"
Ambu melangkah perlahan mendekati kamar kedua cucunya, yang jaraknya hanya terhalang tembok.
Suasana begitu sepi mencekam, suara tangis Kartika tidak terdengar lagi.
Sampai di depan pintu, Ambu kaget karena Kartika tidak ada di kamar itu. Yang ada hanya Arya dan Hesti masih dalam kondisi tidur lelap.
"Kemana lagi Kartika?" pandanganya diedarkan ke tiap penjuru kamar dan ruangan yang ada di bangunan rumah sebelah kanan, tapi tidak terlihat sosok Kartika.
Baru saja masuk ruang keluarga, tiba-tiba tubuhnya ngefreeze melihat sosok Kartika duduk dengan Kerala tertunduk di kursimeja makan dengan posisi membelakanginya. Meskipun rambutnya terurai rapi, bajunya masih yang tadi pertama datang.(enggak kaya setan-setan dekil dengan rambut panjang gombal, acak-acakan, bajunya kumal gak pernah dicuci, di tambah bau amis karena gak mandi) tapi entah kenapa Ambu seolah merasakan aura dingin di sekelilingnya.
Dengan memberanikan diri Ambu mendekat, baru saja maju satu langkah tiba-tiba Kartika berbicara dengan sura berat.
"Ambu, terimaksih banyak selama ini sudah merawat dan menjaga kedua buah hatiku dengan sangat baik, terimaksih juga karena menyayangiku seperti anakmu sendiri."
Ambu hanya terdiam mematung.
"Maafkan Kartika belum sempat membalas budi baik Ambu, Kartika titip Arya sama Hesti."
__ADS_1
Mendengar itu, nyali Ambu bangkit lagi, tidak ada rasa takut.
"Kamu mau kemana Nduk? Hesti sama Arya butuh kamu bukan hanya Ambu yang mereka butuhkan."
Menahan tangis.
"Kartika juga ingin bersama mereka lebih lama lagi, tapi waktu yang tidak memungkinkan, Kartika harus pergi."
Suara nya semakin berat dan serak.
"Kalau itu sudah jadi kehendaknya, pergilah dengan tenang Nduk, jangan fikirkan Arya sama Hesti, Ambu janji akan menyayangi dan merawat mereka dengan tulus, "
Air mata Ambu mengalir tak tertahan lagi.
"Kartika belum bisa tenang sebelum Bang Sayid menerima balasn yang setimpal karena menyakitiku hihihi."
Suara tawa Kartika melengking tapi pilu.
"Apa salah Sayid samapi kamu berkata seperti itu Nduk?"
Merasa tidak terima karena bagaimanapun Bang Sayid tetap anaknya juga.
"Dia telah menyakiti dan menghianati cintaku Ambu, Kartika lihat Bang Sayid bercumbu dengan seorang wanita di bandara hikz."
"Maafkan Sayid Nduk, biar Ambu yang menegurnya, kamu pergilah dengan tenang, jangan fikirkan apa yang ada di dunia apa lagi berfikir untuk menu tut balas, kalaupun Sayid salah biarkan Allah yang membalasnya."
__ADS_1
"Uiw!"
"Uiw!"