BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR103


__ADS_3

"Itu anak tertua keluarga kami Nduk,"


Seolah bisa membaca apa yang di fikirkan Sri.


"Semuanya Bu?"


Sri menatap dua foto anak kecil yang berada di pigura yang berbeda.


"Iya, tapi beda ayah."


"Dimana mereka sekarang?"


Sri masih berusaha mengingat dengan keras sosok anak kecil yang menurutnya tidak asing.


"Ehm!"


Si Ibu pemilik warung seolah enggan menjawab pertanyaan Sri.


"Owh maaf Bu, saya merasa tidak asing dengan foto anak ini, pernah melihatnya di suatu tempat tapi saya lupa tepatnya di mana."


Menunjuk foto hitam putih anak kecil yang berbadan gemuk, sementara foto anak kecil satunya yang berwajah tampan, berkulit putih bersih sudah berwarna.


"Apa Nduk? kamu pernah lihat foto ini? di mana? kapan? cepat kasih tau Ibu Nduk!"

__ADS_1


Seolah mendengar mendapatkan dana bantuan, ibu pemilik warung langsung berubah ceria dan sangat antusias menunggu jawaban dari Sri.


"Sebentar Bu, saya lupa."


"Alif hilang ketika masih kecil, waktu itu ibu sedang bekerja, suami pertama ibu yang menjaganya. Karena kebetulan yang bekerja saat itu hanya Ibu, suami tidak mau bekerja, setiap hari dia hanya main judi dan kumpul-kumpul di warung kopi. Hingga suatu hari saat Ibu pulang kerja, suami Ibu yang pertama memberi tahu kalau putra kesayangan kami hilang dari siang, meskipun sudah dicari ke mana-mana tapi tetap saja belum di temukan.


Kami saling menyalahkan, dan Ibu sedikit terguncang jiwanya, hingga akhirnya memutuskan pergi tanpa jejak.


"Dan meninggalkan suami pertama Ibu, karena tidak tahan dengan sikapnya yang kasar dan pemlas juga sering menyalahkan kepergian anak kami."


"Siapa nama suami Ibu yang pertama? Kalau boleh tau."


"Wicaksono,"


Dia tidak penyangka ternyata orang yang ada di hadapanya pernah mebangun bahtera rumah tangga dengan Wicaksono orang nomor satu di kota Y.


Rasa penasarannya makin menjadi.


"Wicaksono?"


"Iya, apa kamu mengenal nama itu Nduk?"


"Kenal Bu, tapi saya tidak yakin kalau dia orang yang sama dengan mantan suami Ibu."

__ADS_1


Ibu pemilik warung langsung berlari, dan kembali menyodorkan sebuah foto usang.


"Ini oranya Nduk!"


Sri semakin kaget ternyata dugaanya tidak lah salah, meskipun di foto itu Wicaksono masih muda, tapi wajahnya tidak berubah dengan yang sekarang.


Ingatanya kembali berputar, dan dia baru ingat, kalau dahulu kala saat dirinya baru menikah dengan Bang Sayid dia pernah tidak sengaja menemukan dompet milik Bang Sayid di saku celan yang akan di cucinya, dan di dompet itulah Sri pernah melihat wajah yang sama dengan foro bang Sayid kecil.


Memaki baju yang sama seperti di foto hitam putih itu , sedang di gendong Umi sama Abah nya Bang Sayid.


"Bagaimana Nduk, apa kamu mengenlnya?"


Sri hanya mengguk, kecurigaanya semalin kuat, kalu Bang Sayid anak dari Wicaksono dari ibu warung yang ada di hadapanya sekarang.


"Kalau saja anakku Alif masih hidup pasti sekarang seumuran kamu Nduk, boleh ibu minta alamat Wicakaono?"


"Boleh Bu."


Setelah Ibu pemilik warung menyerahkan secarik kertas, Sri langsung menuliskan alamat Wicaksono dengan lengkap, dan memberikan ciri-ciri fisik rumah itu.


Dengan tergesa Sri menuntaskan tujuan awalnya ke toilet dan langsung berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.


Ternyata keinginannya untuk menghilangkan kekecewaan sekaligus mengisi perut, justru menemukan fakta yang mengejutkan dari Wicaksono dan Bang Sayid.

__ADS_1


Sri sengaja tidak bertanya panjang lebar mengenai keluarga Ibu warung, karena menurutnya itu tidaklah penting, hal yang bisa menghancurkan Wicaksono sudah dia kantong, Sri sengaja mengambil foto seluruh keluarga dari ibu penjual


__ADS_2