BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR08


__ADS_3

"Aka dah bawa budak baru, name die Sri, baru je sampai deka sini. Saye harap awak sudi dan tak buat gaduh lagi."


Masih mematung, hanya mata tajam itu memandang Sri. membuat Sri mematung tak bergeming. Percuma memperkenalkan diri, toh pria itu seakan tidk suka dengan kehadiranya, batin Sri.


Tersinggung juga rasanya di panggil Budak sama Cik Nur, tapi ya sudah yang penting kembali keniat awal, yang lain anggap sebuah kerikil tajam yang menghalangi jalanya.


Seakan sudah bisa membaca keadaan, Cik Nur memberiku isyarat untuk meninggalkan kamar itu, dan tanpa menunggu jawaban dari Embara kami pun segera pergi.


"Sri, mohon maafkan ade Cik Nur ye, dia macam tu sejak kene cedre, kecelakaan kerete."


Cik Nur memberi penjelasan setelah menjauh dari kamar adiknya.


"Kereta apa ya Cik? udah lama apa belum? tanya Sri kaget dan penasaran."


"Deka sini krete tu mobil Sri,"


Menjelaskan sambil tersenyum seakan lucu mendengarkan pertanyaanku.


"Dah dua tahun silam, saat itu ade aka nak pegi jemput dia punya teman wanita. Tapi entah cam mane bisa kene celaka macam tu, sampai saat ini die tak nak cerite."


Aku terdiam mendengarkan cerita Cik Nur karna belum begitu sepenuhnya paham dengan apa yang diutarakanya.

__ADS_1


"Kalau bile bile masa awak kene hardik dan marah dia, saye harap awak sabo je, tak payah dengar.


Sebenarnye ade aka tu budak baik, tapi sejak malapetaka itu, jadi berubah macam tak terima dengan takdir die."


Tak terasa sampailah Sri depan kamarnya.


"Bile awak nak makan ambi je, dah ada yang masak orang Indo juga, tapi tadi pagi saye suruh dia pegi ambik sayuran di kebun ibu mertue."


Sri hanya mengangguk.


"Awak cukup kerje layani Embara, bile awak bise bersihkan muke die, saye kasi awak bonus."


Owhhh nama pria tadi Embara,, batin Sri.


"Saye nak jemput Kay budak saye."


Tadi sempet tersinggung dikatain Budak, tapi setelah dengar tiga kali jadi terbiasa dan faham maksudnya.


Denger ada orang senegara rasanya seneng banget seakan menemukan air di padang pasir.


Setelah kepergian Cik Nur, Sri beranjak menuju dapur.

__ADS_1


rasa perih di perutnya menyadarkan Sri kalau sejak pagi belum ada makanan masuk ke perutnya.


Banyak makanan terhidang di meja makan, semua tampak menggugah selera siapa saja yang melihatnya, begitupun Sri.


Tanya pikir panjang dia langsung menikmati hidangan itu, sungguh terasa nikmat dan ternyata masakannya sesuai dengan lidah Sri, apa mungkin karena yang masak orang Indonesia juga? entahlah, yang penting perut ini kenyang.


"Brak!"


Belum selesai makan, tiba-tiba ada bunyi seperti sesuatu terjatuh dari lantai dua. Setengah berlari Sri menuju kamar tuannya.


Sesampainya di lantai dua Sri hanya melihat pas bunga yang berserakan tapi tidak ada Embara disana.


Suasana rumah pun hening karna tidak ada orang lain lagi selain dirinya dan Embara.


Langkah kakinya menelisik setiap sudut ruangan itu, tapi tidak ada Embara, hingga langkahnya terhenti didepan pintu kamar.


"Tuan! tok! tok!"


Tak ada sahutan dari dalam.


"Maaf Tuan saya masuk ya!"

__ADS_1


"Pyar"


Terdengar seolah ada kaca pecah, tanpa menunggu lagi Sri langsung menerobos memasuki kamar Embara yang ternyata tidak di kunci.


__ADS_2