
Sampai di bandara jam setengah delapan, entah siapa orang yang mengantarkan kami aku tak perduli lagi, meskipun terlihat jelas Bang Sayid sangat menghormatinya.
Selama ini aku fikir sudah mengenal baik suamiku, tapi nyatanya enggak, banyak rahasia yang terselubung menyelimuti kehidupannya.
"Ingat Sri, sampai sana kerja yang rajin, jangan bikin majikanmu kecewa, apa lagi sampai memulangkanmu."
Nasehat Bapak sopir.
"Denger kata Pak Bos Sri, rugi besar kalau sampai kamu dipulangkan harus ganti rugi kita."
Aku tak perduli dengan ocehan mereka, yang ada dibenakku hanya Rizki dan nasibku akan seperti apa kedepannya. Apa lagi hidup di negri orang yang membayangkan saja rasanya jauh dari kata mungkin.
Karna selama ini Sri belum pernah merasakan kerja, orang tuanya berkecukupan mereka selalu memanjakan Sri, apapun kebutuhan Sri dipenuhinya.
Tapi sekarang..
Air mata mengalir tak tertahankan lagi.
Sri sudah di pesawat, dia tak sudi berpamitan sama Bang Sayid, rasa benci membuat Sri tak menghormati suaminya lagi.
Hanya bisa berdoa dan berharap kehidupannya di negri orang bisa lebih baik ketimbang disini deket Bang Sayid, dan bisa menghasilkan uang sebanyak-banyaknya buat biaya pengobatan Rizki dan segera pulang.
Suara pesawat menderu, ini pertama kalinya Sri naik pesawat, tapi tak ada raut kekhawatiran di wajahnya karna fikiranya terus melayang memikirkan Rizki.
__ADS_1
"Mbak, tolong buka mejanya!"
Suara lembut tapi berwibawa dari sosok pria tampan disebelahnya membuyarkan lamunan Sri, tanpa berucap Sri membuka meja lipat yang ada di hadapan ya.
Pria itu menyimpan makanan yang diberikan Pramugari.
"Dimakan Mbak, jangan ngelamun terus, meskipun banyak masalah tapi harus tetap makan biar kuat melewatinya."
Aku malas menjawabnya, menolehpun enggan.
Aku sudah jengah mendengar mulut manis para pria, awalnya perhatian dan sayang setelah mendapatkan apa yang mereka mau pasti tabiat aslinya keluar.
Tak sedikitpun Sri menyentuh makanan itu, lain halnya dengan pria gagah disebelahnya, begitu lahap menikmati makananya.
"Kerja jadi TKW ya Mbak?"
"Kalau gak mau berangkat, kenapa dipaksain? seandainya ada yang memaksapun gampang tinggal laporin polisi saja, ini kan sama saja pelanggaran hak asasi."
"Maaf bukan urusan Anda!" Agak sedikit kaget sich? apa orang ini cenayang?.
"Ya sudah kalau Mbak tidak mau diganggu saya tidak akan bertanya lagi,"
Sri hanya terdiam, menenggelamkan kepalanya di bawah selimut malas rasanya harus berbincang dengan orang asing. Perjalanan Indonesia-Malaysia hanya memakan waktu kurang lebih satu jam setengah, jadi Sri memilih untuk tidur.
__ADS_1
Akhirnya Sri terbangun ketika terdengar langkah kak, ternyata pas dilihatnya para penumpang sudah banyak yang turun, termasuk Pria yang ada disebelahnya.
Sri pun segera bergegas membereskan bekas tidurnya dan hendak pergi, tapi tiba-tiba ada sebuah kertas yang jatuh dari pangkuanya.
Diapan tanpa menelitinya memasukan kertas itu kedalam tasnya.
Sungguh terasa asing bagi Sri bisa ada di tempat baru, bahasa baru dan suasana asing. Langkah kakinya terhenti ketika dia dengar ada suara yang memanggil namanya.
"Sri ayuningtyas! Sri asal Indonesia!"
Aku menghampiri arah suara itu, perempuan berwajah ayu bertubuh langsing denga hijab warna kuning terus memanggi-manggi namaku.
"Iya saya Mbak." Jawab Sri ragu.
"Perkenalkan nama saye Nur, panggil Cik Nur je."
"Iya Cik." jawab Sri polos.
Kesan pertama membuat nyaman hati Sri, semoga majikanku baik, batinnya.
"Jom Sri." Cik Nur membantu membawakan tas Sri menuju parkiran.
__ADS_1
Meskipun tidak paham dengan apa yang diucapkan majikanya itu Sri berusaha memahami bahasa isyarat yang Cik Nur berikan.
Sri pun berangkat menuju tempat tinggal barunya.