
Acara pemakaman telah selesai jam tiga sore, semua orang yang datang melayat telah pulang ke rumahnya masing-masing, suasana dikediaman Wicaksono kembali sepi. Bang Sayid yang telah membersihkan badanya berniat menyusul Nayla yang tertidur pulas karena kelelahan.
Baru saja merebahkan badan tiba-tiba gawainya berbunyi.
"Ada apa Kring? kebiasaan buruk, selalu telepon di saat yang tidak tepat!"
Dengan kesal Bang Sayid menerima panggilan dari Cungkring.
"Maaf bos, ada kabar penting."
"Apa! cepet, aku mau istirahat."
"Tadi saya lihat Putri bos."
"Yang bener! sudah kamu pastiin?"
"Yakin bos, itu Putri target kita."
"Di mana? jangan biarkan lolos lagi, kalau benar dia Putri yang selama ini kita cari, segera bereskan!"
"Tapi barang bukti yang kita cari belum ditemukan bos."
"Seperti laporan kalian sebelumnya, percuma menunggu dia mengatakan dimana barang bukti itu, aku sudah tidak menginginkanya, jadi bereskan saja dan ingat jangan tinggalkan jejak sedikitpun."
"Baik bos, segera kami laksanakan."
"Awas kalau sampai gagal lagi!"
"Siap bos!"
****************
"Kamu telepon siapa Kring? maaf ya nunggu lama, perutku sakit lagi."
__ADS_1
"Si bos, kamu sih makan pedes terus!"
"Halah, kamu ini malah nyuruh aku makan yang pedes, udah tau temenya sakit perut dari kemaren gara-gara kebanyakan makan rujak, malah di tawarin ikan pedes."
"Ya salam, kenapa budegmu masih belum waras, padahal udah diobatin ke mana-mana."
"Ngaco aja kamu Kring, sejak kapan garem sama gudeg obat sakit perut, yang ada tambah moncor."
"Haha bener itu Bon, biar sekalian mati! Bos nyuruh kita beresin target."
"Kamu nyumpahin aku mati Kring?!"
Boni bangun dari duduknya, tangan kanan mencengkram baju Cungkring sementara tangan kiri memegangi bagian belakang, seolah ada sesuatu yang tak tertahan akan keluar.
"Kamu sembuh Bon? maaf becanda saja aku ini, habisnya kamu selalu gak nyambung kalau diajak ngomong."
Cungkring sedikit kaget bercampur bahagia melihat sahabatnya bisa mendengar dengan benar apa yang dia ucapkan.
"Pret!"
"Tre_trett!"
Sambil mengacungkan kepalanya tangan kanannya Boni berlari meninggalkan Cungkring yang tertawa bahagia melihat calana bagian belakang Boni basah dan berwarna kuning.
***********
"Put, Putri!"
Sri berlari mengelilingi parkiran Mall, tetapi Putri tidak terlihat sama sekali, padahal dirinya hanya meninggalkan Putri sebentar ke toilet.
"Aku yang salah, kenapa juga gak langsung pulang malah pake acara ke toilet segala."
Sri mengutuk dirinya sambil terus mencari Putri sampai ke bagian paling belakang gedung, dia juga memasuki toilet dan menanyakan kepada setiap orang yang di temuinya, tetapi tidak ada satu orangpun yang melihatnya. Sudah hampir satu jam Sri mengelilingi Mall itu, dia juga telah menghubungi bagian informasi untuk membantu mencari Putri, bahkan CCTV telah dia cek semuanya, terakhir Putri terlihat menuruni tangga ke lantai satu, dan menghilang tertutup kerumunan orang, di bagian depan, belakang dan parkiran tidak ada lagi sosok Putri tertangkap kamera CCTV setelahnya, seolah menghilang ditelan bumi.
__ADS_1
"Sudah Mbak hubungi handphonenya?"
Seorang security menyadarkan Sri, kalau sejak tadi dia seperti orang hilang akal sampai lupa menghubungi lewat gawainya.
Meskipun panggilanya tersambung, tetapi tidak ada jawaban dari Putri, kekhawatiran Sri semakin menjadi. Dengan melacak GPS dia melihat gawai Putri berada lumayan jauh dari tempatnya berdiri.
"Saya menemukannya Pak!" Setengah teriak karena bahagia Sri menunjukan gawai yang dipegangnya kepada Security yang sejak tadi membantu mencari Putri.
"Sebentar saya cek dulu lokasinya,"
Mengamati lebih dekat lokasi keberadaan Putri.
"Ini di bagian gudang penyimpanan barang Mbak, saya lupa kalau tempat itu sejak tadi belum kita cek, tapi kenapa bisa sampai sana ya Mbak? soalnya akses ke gudang itu lumayan jauh dari bangunan utama Mall ini dan gelap."
"Tolong segera antar saya ke sana Pak,"
"Baik Bu, mari ke arah sini."
Security itu menunjukan jalan dan memanggil dua orang temanya yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Setelah menuruni tangga ke arah parkiran, dan berjalan agak jauh ke bagian belakang, di sana terlihat pintu berukuran sangat besar dengan dua tuas besi di kanan dan kirinya.
"Ini pintu menuju gudang Mbak, hanya di buka kalau ada barang masuk dan keluar saja, dan setau saya tenaga perempuan tidak akan sanggup membuka pintu ini, karena yang bekerja di gudang pun semuanya laki laki."
Security yang memegangi gawai Sri menjelaskan.
Meskipun pada awalnya Sri masih berfikiran positif, tetapi setelah melihat situasi jalan yang mereka lewati ditambah penjelasan dari security yang ada di depanya, kembali rasa khawatir dan kecurigaannya kalau Putri tidak baik-baik saja kembali membuat langkah kakinya terasa berat. Apa lagi setelah melihat pintu yang ada di hadapannya membutuhkan dua orang tenaga lelaki untuk membukanya.
Bagaimana mungkin GPS menunjukan kalau Putri berada di balik pintu itu, sementara Putri saja hanya seorang perempuan yang kondisinya pun belum sepenuhnya pulih dari kecelakaan yang dialaminya.
Saat pintu itu terbuka terdengar bunyi deritan yang cukup kencang, disebaliknya tersusun dengan rapih tumpukan kerdus dengan nama, jenis dan tanggal masuk, suasananya sepi tidak terlihat satu orangpun di sana. Security yang memegang gawai Sri tiba tiba berjalan ke arah deretan ketiga tumpukan kerdus kerdus itu, pandangannya beredar ke arah Sri dan kedua temanya yang sejak tadi hanya terdiam, seolah mengisyaratkan kalau Putri ada di sana. Tanpa menunggu lagi, Sri langsung lari ke arah lorong yang ada di hadapannya."
"Putri! Putri, ini Mbak!"
__ADS_1