
Wicaksono semakin khawatir, dia lanjut memasuki ruang keluarga, dan sama saja sepi. Meskipun terus berteriak memanggil nama putri kesayangannya dan kepala asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi di rumahnya, tapi tetap saja tidak ada satupun yang menjawab panggilan darinya.
Dia hanya mengetahui satu nama karyawan di rumah itu, Wicaksono tidak pernah perduli dan menyerahkan sepenuhnya masalah karyawan dan seluruh kegiatan di rumah, kepada putri semata wayangnya Nayla. Karena mendiang istri dan dirinya selalu sibuk di luar rumah.
Setelah mengelilingi lantai satu, dan tidak menemukan ada tanda-tanda kehidupan, dia lanjut ke lantai dua, di sana pun suasana sama saja seperti di lantai bawah.
"Tok!"
"Tok!"
Wicaksono mengetuk pintu kamar Nayla.
"Nay! Sayid! Apa kalian ada di dalam?"
Dirasa pintu tidak terkunci, Wicaksono membuka kamar Nayla dan Bang Sayid, kondisi di kamar itu gelap gulita.
Setelah menyalakan lampu, Wicaksono melihat isi kamar berantakan, lemari terbuka, dan tidak ada satupun baju Bang Sayid di dalamnya. Rona ke khawatiran tidak mampu lagi dia sembunyikan, segera dia menghubungi Nayla, berkali-kali panggilan itu masuk tapi operator yang menjawab.
__ADS_1
"Mul! Cepat kamu hubungi orang kepercayaanku untuk mencari dimana putriku berada sekarang!"
Wicaksono berteriak dari lantai dua, dan tanpa menjawab perintah tuanya itu, Mulyadi langsung melaksanakan tugasnya.
Sementara Wicaksono kembali melakukan panggilan ke nomor Bang Sayid, dan mendapatkan respon.
"Dimana kamu?! Apa Nayla bersamamu?"
"Sudah pulang rupanya Tuan Wicaksono yang terhormat, bagaimana rasanya tidak ada yang menyambut kepulanganmu? Apa kamu tidak memutar video yang aku kirimkan semalam?"
"Apa maksud perkataanmu Sayid? Jangan berbelit-belit, katakan apa Nayla bersamamu?!"
Bang Sayid memutuskan panggilan.
Meskipun kesal karena merasa di permainankan, akhirnya Wicaksono menuruti ucapan Bang Sayid dan membuka kembali video kebakaran yang semalam dia lihat hanya sekilas.
Setelah menaikan volume suara di handphonenya, Wicaksono melihat dengan seksama video kebakaran itu, samar-samar dia mendengar sebuah suara meminta tolong sambil terus memanggil-manggil nama Daddy dan Mommy, meskipun samar tapi Wicaksono mengenal suara itu.
__ADS_1
"Nay? Nayla!"
Pelupuk mata Wicaksono mengembun, dan terus memandangi layar handphonenya, meskipun tidak melihat sosok Nayla karena kobaran api yang menyala, tetapi Wicaksono bisa membayangkan bagaimana kondisi Nayla di sana.
"Bajingan kamu Sayid, apa yang sudah kamu lakukan kepada putriku?!"
Baru saja panggilan itu direspon Bang Sayid, dia sudah mendapatkan makian dari Wicaksono.
"Haha! aku membalas apa yang telah kamu perbuat terhadapku tuan Wicaksono yang terhormat!"
"Sialan, memangnya apa yang sudah aku perbuat? selama ini aku menerima dan memberikan pasilitas yang nyaman hanya karena Nayla mencintaimu. Sejak awal melihatmu, aku tidak sudi Naylaku menikah dengan lelaki bejat, berengsek, kurang ajar, benalu, sampah seperti dirimu!"
"Hai tuan Wicaksono yang berhati bersih, suci dan baik hati, ngaca dulu kalau ngomong! aku membalas semua perbuatanmu yang telah membakar habis keluargaku!"
"Apa kamu bilang! siapa yang sudah mengatakan aku membakar keluarga mau hah?! bukanya sejak awal kamu bilang tidak memiliki keluarga lagi? wah dasar bedebah, pembohong, bangsat kamu Sayid! berani-beraninya membohongiku!"
Mendengar perkataan Wicaksono, Bang Sayid kaget luar biasa, meskipun mertuanya itu bukan orang baik, tetapi dia yakin kalau apa yang di ucapkan ketika dirinya sedang emosi, tidak mungkin bohong.
__ADS_1
Tetapi semua petunjuk yang dia temukan di TKP mengarahkan ke Wicaksono, dia menemukan sebuah syal yang sering di pakai Wicaksono dan ada namanya.