
PV Bang Sayid
"Sial, kemana perempuan itu gak pernah menghubungiku. Lihat saja kalau sampai macam macam, jangan harap bisa melihat anaknya lagi."
"Kringg"
"Kringg"
Dengan cepat dia melihat si penelpon, tapi sedikit kesal karna bukan orang yang dia tunggu yang menelponnya.
"Tumben langsung Abang angkat? kangen aku ya?"
"Hemmm"
"Gimana kabarnya Bang? Hesti sama Arya baik kan?"
"Sehat semua, kamu gimana?" sedikit malas meladeni panggilan itu.
"Baik juga. o iya Bang, Kaka majikanku keliatanya suka sama aku. Dia sering menggida dan memberikan perhatian lebih kepadaku.
"Bagus! kamu pacarin saja dia, keruk hartanya terus kirim kesini buat biaya hidup aku sama anak anak." Bersemangat.
"Gila kamu Bang, kamu fikir aku ini apa? bukanya merasa cemburu apa khawatir istrinya diambil orang malah ngasi ide gila."
__ADS_1
"Sekarang kamu harus jadi perempuan yang pintar, selama kamu gak jadi pelacur dan menjual diri aku sih setuju setuju aja."
"Tapi Abang masih setia kan? Gak main perempuan? awas saja kalau sampai menghianatiku!"
"Kalau gak percaya tanya aja sanah sama orang tuamu!"
"Iya Bang aku percaya sama Abang, aku malas menghubungi orang tuaku, gara gara mereka Abang jadi kehilangan pekerjaan dan kita harus berjauhan seperti ini."
"Hemm"
"Udah dulu ya Bang, waktu istrahaku habis. Jaga kesehatan, salam buat Arya sama Hesti. Muachh!"
"Muah"
Dia yang membuat Kartika mabuk kepayang dan selalu percaya dengan segala kata katanya. Padahal semala ini dia sengaja membuat Kartika membenci kedua orang tuanya dengan mengatakan kalau dia dipecat dari kerjaannya karna orang tua Kartika gak mau mengurus Arya sama Hesti, sehingga dia selalu datang terlambat dan akhirnya dipecat karna terlalu sibuk mengurus kedua anak itu. Padahal dia sengaja keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai asuransi.
Dengan hasutan dan tipu daya Bang Sayid, akhirnya Kartika membenci orang tuanya, sampai sampai dia gak mau lagi menghubungi mereka.
Yang menang banyak Bang Sayid, dia gak pernah sekalipun mengurus Hesti dan Arya, hanya uang jajan alakadarnya yang dia kasih kepada orang tuanya yang selama ini merawat mereka.
Dan semua uang yang Kartika berikan dia gunakan untuk kesenangannya saja.
"Aku berharap Sri yang menelponku, kemana perempuan itu? sudah seminggu masih belum menghubungiku? Tidak mungkin majikan ya belum memberi dia hand phone, buktinya dulu Kartika dua hari saja sudah dapat." menggerutu.
__ADS_1
Dengan kesal Bang Sayid pergi meninggalkan rumah barunya bersama Sri, yang dia kredit dari uang pemberian Kartika.
******
Ternyata Bang Sayid pergi ke Rumah Sakit tempat Rizki di rawat, sebetulnya sudah dari dua hari kemarin dia mendapatkan panggilan untuk menemuai dokter yang menangani anaknya. Tapi kesibukanya meniati segala kenikmatan duniawai membuat dirinya malas memenuhi panggilan itu.
"Maaf bisa bicara sebentar pak?"
"Iya ada apa dok?"
"Bapak harus siap mendengar kabar ini, keadaan putra bapak mengalami penurunan, bahkan dari kemarin keadaanya drop."
Sedikit kaget Bang Sayid mendengar kabar itu, dia pun hanya tertegun.
"Kemana ibunya? seminggu ini saya tidak melihat lagi dia memberikan ASI, Padahal itu sangat penting dan dibutuhkan putra bapak."
"Dia kabur dok."
Entah setan dari mana yang membisikan aku harus mengeluarkan kata itu.
"Hemm Bapak yang kuat ya!"
"dok! pasien ananda Rizki kejang kejang."
__ADS_1