
Malam itu rumah besar milik Wicaksono terlihat sunyi dan minim penerangan, yang biasanya terlihat ada bnyak karyawan yang hilir mudik di sekitar rumah itu, sekarang sebaliknya. Hanya satu orang laki laki berbadan tegap berwajah bak oppa korea keluar dari rumah itu membawa seorang perempuan dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Lelaki itu terlihat kesulitan, karena tubuh perempuan itu lebih besar dari dirinya. Setelah memasukan kedalam mobil, dia langsung pergi menembus ke gelapan malam dengan kecepatan tinggi.
Satu jam kemudian dia sampai di sebuah bangunan rumah yang separuh dari rumah itu habis terbakar, dan hanya meninggalkan setengahnya.
Setengah menggeret tubuh perempuan berbadan sintal itu, Bang Sayid memasuki rumah yang terbakar.
Setelah sampai di bangunan yang tersisa, dia langsung mengikat si perempuan dengan kencangnya ke tiang. Dirasa aman dan tidak mungkin bisa melepaskan diri, dia langsung keluar dan mengambil sebuah jrigen berisi bensin.
Bensin itu dituangkannya di sekitar perempuan gemuk yang terikat di tiang. Mungkin karena bau bensin yang menyengat, perempuan itu terbangun,
dan langsung teriak histeris ketika menyadari kedua tangan dan kakinya terikat, di tambah suasana gelap dan pengap di ruangan itu. Tetapi dia dapat menangkap bayangan hitam yang berada di hadapannya.
"Woi! siapa kamu? kenapa kamu bawa aku ke tempat seperti ini? apa kamu tidak tau kalau aku putri satu satunya Wicaksono? berani sekali kamu perlakukan aku seperti ini, kalau sampai Daddyku tau,, habislah riwayatmu!"
Bayangan hitam itu hanya diam tidak bergeming, melihat itu nyali Nayla menciut, di berfikir kalau sosok itu bukan manusia, kepalanya tertunduk, kembali berfikir dan meyakinkan dirinya kalau bayangan hitam itu manusia, karena mampu membuat dirinya terikat.
__ADS_1
"Aku tau kamu manusia! apa maumu? kenapa kamu perlakukan aku seperti ini!" Meronta berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakinya.
Bayangan hitam itu mendekat, dan menantikan korek api.
"Honey? itu kamu kan?"
Memicingkan sebelah matanya karena silau terkena bias dari korek api.
"Ternyata benar! apa yang sedang Abang lakukan? kenapa Nay bisa terikat di sini? tolong lepaskan ikatan ini, sakit Bang!"
Masih tetap berusaha membuka ikatannya, dan Bang Sayid masih tetap terdiam.
"Jangan harap aku melepaskanmu, kamu harus merasakan apa yang orang tuaku dan anak-anakku rasakan, gara gara kekejaman Ayahmu yang berengsek itu!"
"Apa maksud Abang berkata seperti itu? kesalahan apa yang telah Daddy lakukan sampai-sampai Abang tega melakukan hal seperti ini kepada Nay? salah Nay apa?."
"Salah kamu karena jadi anak Wicksono, dia yang telah membakar rumah ini dan menewaskan kedua orang tuaku dan anak-anakku."
__ADS_1
"Coba ulang, Abang bilang orang tua sama anak-anak? bukanya Abang yatim piatu? terus anak? memangnya Abang udah punya Anak?
" Iya, aku masih punya orang tua, meskipun mereka bukan orang tua kandung tapi mereka yang membesarkanku dengan kasih sayang layaknya anak kandung, aku juga punya dua orang anak dari istri pertamauku yang telah meninggal. Tapi sayang, karena kebiadaban Wicaksono mereka semua harus mati dalam keadaan yang mengenaskan."
"Mana mungkin Daddy melakukan itu, kalau Abang tidak melakukan kesalahan, pasti Abang sudah membuat Daddy kecewa. Nay juga setuju dengan apa yang Daddy lakukan terhadap keluarga Abang, ternyata Sandra bukan istri pertama Abang?"
"Haha! Sandra hanya segelintir perempuan yang aku nikahi dan aku jadikan sumber mata pencaharianku, masih banyak lagi perempuan lain yang sudah aku
manfaatkan, termasuk kamu!"
"Berengsek kamu Bang! jadi selama ini aku hanya di jadikan alat untuk memuaskan semua ambisimu? pantas saja Daddy membakar keluargamu, karena mereka pantas mendapatkanya, paling setelah tau semua kebusukanmu, Daddy pun pasti akan menghabisi lelaki rendahan seperti kamu, cuih!"
Nayla meludah ke arah Bang Sayid yang masih memegang korek dalam keadaan menyala.
"Sebelum dia melakukan itu, maka aku yang akan menghabisimu, coba kamu rasakan gimana rasanya terbakar hidup-hidup!"
"Jangan gila kamu Bang! aku ini masih istrimu!"
__ADS_1
"Selama ini aku tidak pernah menganggap kamu seorang istri, dan tidak pernah ada rasa cinta sedikitpun buatmu. Kalau bukan karena kekayaan yang kamu miliki, tidak akan pernah mau mengenal keluarga gila seperti kalian."
Bang Sayid mengacungkan korek di tangannya dan melangkahkan kakinya ke belakang menjauhi Nayla.