
"Iya, memang itu mobil Tuan Embara, dia baru saja datang dan langsung naik ke kamarnya".
"Bukan Bu, maksud Sri yang ada di televisi."
"Bukan kali Sri, orang jelas-jelas Ibu berpapasan dan menyapanya."
"Iya kali Bu, soalnya kalau diberita ini ada mobil yang sama persis punya Tuan, bahkan sampai warnanya mengalami kecelakaan di jembatan dekat kantor polisi, katanya si pengendara menghindari tabrakan dengan kountener tapi malah jatuh ke sungai. Mobilnya udah di angkat tapi si pengemudi entah kemana belum diketemukan."
"Pastinya Sri, gak mungkin mobil Tuan kecelakaan. Kapan kejadianya?"
Mendekati Sri yang serius melihat berita kecelakaan itu.
"Sekitar jam sebelahan, itu lihat Bu mobilnya sama kan kaya punya Tuan Embara?"
"Iya Sri, ko bisa sama persis gitu, coba liat plat nomornya."
"GG 02A.. "
Sri berhenti melanjutkan menyebut plat nomor mobil yang kecelakaan diberita itu, tatapanya beralih ke arah Bu Titi yang ada di samping kirinya, sementara Bu titipin sama mentap Sri dengan mulut menganga. Refleks Sri mendekati Bu Titi dan keduanya menatap ke kamar Embara di lantai dua yang kebetulan dari tempat mereka terlihat jelas karena tempat mereka santai sambil nonton televisi bukan diruangan tertutup tapi di seberang tangga menuju lantai dua.
"Ibu yakin tadi yang naik atas Tuan Embara?"
Sri setengah berbisik memastikan.
__ADS_1
"Yakin banget Sri, masa Ibu salah lihat, meskipun sudah tua tapi mata Ibu masih sehat."
"Tapi mobil yang masuk sungai itu milik Tuan kita Bu."
"Iya, tapi diberita itu pengemudinya belum ditemukan, jangan-jangan Tuan langsung pulang setelah selamat dari kecelakaan itu."
"Bisa jadi Bu, soalnya Sri gak denger ada mobil ke rumah ini, dan gak lihat Tuan masuk rumah juga."
"Tadi pas kamu di toilet, Ibu juga gak denger kalau mobilnya, tiba-tiba Tuan udah masuk dan ketemu Ibu di bawah tangga."
"Lha, yang bukain pintu siapa Bu? kan pintu depan dikunci."
"Kamu lupa ngunci kali Sri?"
"Coba kita cek saja Sri, siapa tau lupa."
Sri langsung bangkit dari duduknya dan menuju pintu depan. Dia juga merasa takut kalau benar lupa mengunci pintu.
Sampai di pintu depan Bu Titi langsung mengecek pintu dan ternyata dalam keadaan terkunci.
"Gimana Bu?"
"Masih terkunci Sri, mungkin tadi Tuan bawa kunci sendiri, makanya bisa masuk."
__ADS_1
"Iya kali Bu, tadi Tuan baik-baik saja kan Bu?"
"Hemm keliatannya baik, tapi tadi pas Ibu sapa, hanya tersenyum gak jawab."
"Emang Ibu tanya apa?"
"Dah pulang Tuan? macam mane acara pemakaman Cik Nur, lancar ke?"
"Tapi.. "
Bu Titi diam tidak melanjutkan perkataanya.
"Tapi kenapa Bu?"
Sri penasaran menunggu jawaban Bu Titi yang masih terpaku seolah sedang berfikir keras.
"Tapi Tuan Embara gak jawab sama sekali, hanya tersenyum saja Sri, dan.. mukanya terlihat pucat, Ibu fikir karena kecapaian jadi Ibu biarkan saja berlalu menuju kamarnya."
"Jangan-jangan ada yang luka karena kecelakaan itu Bu, ayo kita lihat keadaanya."
"Bener kamu Sri, pasti ada yang luka makanya Tuan diam saja, ayo cepetan kita lihat dia."
Dengan berlari kecil Bu Titi pergi ke lantai dua disusul Sri, keduanya khawatir takut terjadi sesuatu kepada Tuanya.
__ADS_1