
"Kring!"
"Kring!"
"Gila! baru saja satu pengganggu pergi, ini malah ada panggilan masuk! sialan."
Bang Sayid yang berniat melanjutkan tidurnya setelah kepergian Nayla, kembali terbangun karena gawainya berbunyi.
"Hallo! ada apa Kring? ganggu orang aja!"
"M.. maaf Bos, ini, anu, ada kabar baik."
"Kabar baik apa? jangan bertele tele!"
"Kami sudah menemukan Putri."
"Yang bener kamu? gimana? sudah membusuk?"
"Dia belum mati Bos,"
"Yang bener! apa kamu sudah pastikan?"
"Sudah Bos, kami sudah mengeceknya, kebetulan tadi siang kami tidak sengaja sampai di desa D yang sedikit terpencil di ujung sungai tempat Putri kecelakaan, dan kami mendapat informasi dari warga sekitar kalau lima bulan lalu menemukan seorang perempuan yang tergeletak di pinggir sungai, dan dirawat di rumah sakit desa setempat, karena penasaran akhirnya kami mencari tau, dan betul saja Bos, target kita ditemukan."
Cungkring menceritakan temuanya.
"Kerja bagus, bagaimana kondisinya?"
Bang Sayid berbinar mendengar targetnya yang selama ini dia cari telah ditemukan.
"Kata dokter setempat masih dalam kondisi pemulihan, tapi sayang amnesia Bos."
"Bagus! kalau dia amnesia justru itu kabar baik, terus pantau jangan sampai lolos lagi."
"Baik Bos, serahkan semuanya kepada kami."
"Awas jangan sampai kecolongan target kita menghilang lagi! ya sudah saya mau lanjut istirahat, kalau tidak terlalu penting dan urgent jangan pernah kalian hubungi saya, cukup kirim pesan saja ok!"
__ADS_1
"Ok Bos."
"Tut!"
Bang Sayid menutup panggilan, rona wajahnya terlihat berseri, kabar yang baru saja anak buahnya sampaikan membuat moodnya membaik, dan kembali melanjutkan tidurnya.
********
"Kamu telpon siapa Kring?"
"Si Bos, untung kita tadi iseng main ke desa ini ya Bon, akhirnya kita bisa nemuin target yang selama ini kita cari, sepertinya Bos bahagia banget denger kabar penemuan Putri."
"Kenapa sampe kaget segala? harusnya bos seneng orang yang selama ini kita cari sudah kita temukan."
"Lha emang seneng, tadi kan aku bilang gitu, bukan kaget tapi target! gusti sabar, ini budeg ko dipiara terus, padahal udah berobat ke mana-mana masih aja gak ada perubahan."
"Kebiasaan kamu tuh Kring, gak pernah mau ngelawan diomelin terus kaya gitu juga, dasar Bos gak tau terimakasih, kita sudah susah payah nyari sampe ke pelosok desa kaya gini masih aja di omelin, pake ngatain budeg segala, kita kan denger ya Kring apa yang dia intruksikan, yang harusnya berubah tuh dia, jangan asal emosi aja, coba dia jadi kita, aku omelin balik biar tau rasa gimana jadi kita."
Boni terus aja ngedumel, dia ngerasa kesal kepada si Bosnya yang menurutnya tidak tau berterimakasih.
Cungkring beranjak pergi.
"Emang bener Bon, sekali-kali kita wajib ngomelin Bos kita, jangan dia aja yang seenaknya ngomelin kita terus, bukan kamu aja yang emosi, aku juga ngerasain yang sama, dasar Bos gak tau diri bukanya ngasih bonus ini malah ngata-ngatain kita."
"Stop Bon, jangan berisik kita lagi di rumah sakit ini!"
Cungkring memberi isyarat menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Buat apa Skop? buat mukulin si Bos ya? kamu yang aneh, mau mukulin bos pake teriak-teriak segala ntar ada yang denger lagi,"
"Iya kita diem aja gak usah ngomong, nih makan aja."
Cungkring menyodorkan sebungkus roti dan minuman yang tadi dibelinya di kantin.
"Kamu kebiasaan, kalau emosi selalu makan terus, aku ogah, masih kesel sama si Bos yang ngatain kita budeg, sama ngomel-ngomel padahal kita sudah menyelesaikan tugas dengan baik."
Cungkring tidak menjawab ocehan Boni yang terus saja mengeluarkan sumpah serapah buat Bang Sayid, dia asik menikmati kopi panas dan roti. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi gerak gerik mereka di balik dinding penghubung antara kantin dan ruang peralatan medis yang berada tidak jauh dari tempat Boni dan Cungkring duduk.
__ADS_1
Sosok itu dengan tergesa meninggalkan tempat itu menuju ruang ICU, dan setelah sampai di sana dia segera memindahkan Putri sekuat tenaga ke kursi toda, Putri yang masih tertidur pulas karena pengaruh obat, seolah tidak merasakan tubuhnya berpindah tempat. Setelah memasukan sejumlah uang kedalam amplop dan menyimpannya di atas meja dia segera mendorong Putri menuju parkiran yang jaraknya tidak terlalu jauh, suasana hening di tengah malam itu membuat suara derit kursi roda yang membawa Putri terdengar sangat jelas, tetapi tidak ada satu orang pun yang terganggu apa lagi sampai penasaran ingin melihatnya.
Sampai di parkiran dengan bersusah payah sosok wanita yang bukan lain Sri, segera memindahkan Putri kedalam mobilnya, butuh perjuangan yang sangat berat bagi Sri memindahkan tubuh Putri seorang diri, keringat membanjiri seluruh tubuhnya, padahal udara dingin di malam itu sangat menusuk tapi tidak bagi Sri.
Dengan tergesa dia memasukan kursi roda di bagasi, dan tanpa membuang waktu Sri tancap gas segera meninggalkan tempat dimana Putri selama ini mendapatkan perawatan.
Setelah Sri bercerita tentang kejanggalan yang di alaminya di acara resepsi pernikahan Bang Sayid, dia segera berganti pakaian, dan berniat membeli kopi panas di kantin, tetapi baru saja mau masuk kantin dia melihat dua sosok pemuda yang tidak asing baginya, Sri langsung mengenali kedua orang yang di temuinya saat di rumah almarhum Tante Sandra ibunya Putri.
Saat Cungkring dan Boni keluar kantin dan duduk di kursi depan sambil menghubungi seseorang yang mereka panggil Bos, kecurigaan Sri semakin terbukti karena mereka menyebutkan telah menemukan Putri yang selama ini jadi target pencariannya. Dan tanpa minta izin kepada suster, hanya meninggalkan sejumlah uang yang di rasa cukup sebagai biaya perawatan Putri selama ini, Sri segera membawa Putri pergi meninggalkan tempat itu.
************
"Kamu sudah kenyang belum Bon?"
"Badan aja kecil, tapi makanmu banyak kali Kring, udah makan roti sama kopi ehh malah minta di beliin kentang segala."
"Siapa yang mau kentang? situ kenyang gak? kalau udah, ayo kita ke lihat target kita sudah sadar apa belum?"
"Kalau kamu mau ya aku juga mau, masih lapar juga ini, sekalian ayam gorengnya Kring hee."
"Et dah, ni anak malah minta ayam goreng segala, tobat!"
"Wahh bagus Kring, tambah Babat juga mau, kamu itu memang terbaik tau kesukaanku."
"Babat gundulmu, sono beli sendiri aja, nanti nyusul ke ruang ICU ya!"
Menyodorkan uang seratus ribu.
"Kenapa malah aku yang beli, kamu aja takut salah pesen, tau sendiri pendengaranku terganggu gegara kejepit jendela waktu itu."
"Halahh itu dia sadar diri, udah sana kamu aja yang pesen, di tulis aja pesenya."
Memberikan isyarat seperti menulis di telapak tangannya.
"Bener juga, ok deh aku pergi beli kentang goreng, ayam sama babat ya."
Boni setengah berlari masuk kembali ke kantin yang terlihat lengang hanya ada dua pelayan dan tiga orang pembeli yang kebanyakan dari mereka orang-orang yang menunggu pasien.
__ADS_1