BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR42


__ADS_3

Sampai di Rumah Sakit Holist sekitar tengah malam, Bang Sayid sengaja mengajak Abahnya untuk menemani, sementara Ambu di rumah menjaga kedua cucunya. Sebelum berangkat Bang Sayid sudah memeberi tahu mereka kalau Kartika meninggal. Hanya Ambu yang menunjukan raut sedih karena beliau berfikir tidak mungkin Kartika iseng mengerjai mereka, sementara Bang Sayid masih belum percaya dan berfikir pasti hanya kejahilan Kartika saja karena dia tau betul sifat Kartika yang selalu mencari perhatiannya dengan berbagi cara. Abahlah yang jadi penengah dan beliau menyarankan untuk segera melihatnya ke Rumah Sakit.


*************


"Maaf sus, bisa minta antar ke kamar mayat, saya mau lihat jenazah atas nama Kartika." Abah meminta suster yang ada di meja pendaftaran untuk mengantarnya.


"Bapak siapanya?"


"Saya keluarganya Sus,"


"Oh silahkan Bapak ikuti saya."


Merekapun pergi menuju kamar mayat.


"Suster tau kapan kematian dan penyebabnya? apa dia sendirian sampai sini?


Abah memecah keheningan selama perjalanan menuju kamar mayat yang lumayan jauh di arah paling belakang RS.


"Sekitar sore hari ada pasien atas nama Ibu Kartika masuk dalam keadaan kritis, katanya beliau pingsan di bandara dan langsung dilarikan ke RS ini, tapi sayang tidak bisa tertolong. Hasil diagnosa menujukan kalau Ibu Kartika meninggal karena kangker rahim stadium tiga. Ada wali seorang lelaki berkebangsaan Arab yang mengantar dan membayar semua biaya RS ini."


"Sungguh beruntungnya aku tidak perlu mengeluarkan biaya rumah sakit kartika karena pasti sangat mahal, tapi siapa orang itu? apa jangan-jangan dia majikanya Kartika? "


Bang Sayid membatin.


"Laki-laki? dimana dia sekarang Sus?"

__ADS_1


Bang Sayid merasa prnasaran dengan seseorang yang rela membayar semua tagihan rumah sakit istrinya. Selain itu dia juga ingin tau seperti apa orang yang berani membentak dan memaki dirinya, karena dia yakin lelaki itu orang yang sama.


"Sepertinya beliau ada di kamar mayat."


Sampai di depan kamar mayat ada seorang lelaki yang keluar, Suster berbicara dengan orang itu setengah berbisik.


"Silahkan masuk Pak, saya pamit dulu."


"Terimaksih banyak Sus,"


Abah membungkuk tanda berterimaksih kepada suster yang telah memgantarkanya, dibalas senyum manis si suster. Sementara Bang Sayid langsung nyelonong masuk mengikuti penjaga kamar mayat karena sudah tidak sabar ingin membuktikan kebenaran kalau Kartika istrinya benar-benar telah meninggal.


***********


Tok!


Tok!


"Bukanya itu suara Kartika? Alhandulillah ternyata bener kata Sayid kalau Kartika cuman main-main saja."


Ambu berlari menuju pintu depan dan meninggalkan kedua cucunya yang masih terlelap.


Ckalk!


Krettt!

__ADS_1


Pintu terbuka, Ambu begitu bahagia melihat menantunya pulang dalam keadaan sehat dan seger.


"Oalah Nduk, syukur kamu baik-baik saja."


Ambu begitu bahagia dan langsung memeluk Kartika yang berdiri sambil tersenyum.


"Kenapa pulang tidak kasih kabar dulu?"


Masih memeluk erat.


"Mendadak Bu, tidak ada rencana mau pulang."


"Yo wis, yang penting kamu sudah pulang dengan selamat dan sehat Ambu seneng."


Melepaskan pelukannya.


Kartika hanya tersenyum.


"Ayo masuk Nduk, Apa kamu gak ketemu Sayid sama Abah?"


Ambu menarik pergelangan tangan Kartika, dan berhenti sejenak tidak melanjutkan langkahnya.


"Pasti kamu balum makan ya Nduk? tanganmu dingin."


Kartika diam dan tersenyum.

__ADS_1


"Ayo Ambu bikinin teh anget sama pisang goreng kesukaanmu, perjalanan Arab sini jauh, pasti kamu kecapkean wajahmu sampai pucat seperti itu."


Lagi-lagi Kartika hanya mengangguk sambil tersenyum dan mengikuti langkah Ambu yang tergopoh memasuki rumah.


__ADS_2