
"Kenapa Put?"
Sri mendekati Putri yang terlihat kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Akhh! kepala Putri sakit ka!"
Kedua tanganya mencengkram pinggir meja makan, rasa sakit di kepalanya begitu hebat, sehingga membuat tubuhnya limbung dan lemas.
Sri berlari menuju kamar Putri, dengan tergesa dia ambil obat penghilang rasa sakit dan memberikannya kepada Putri.
"Sebaiknya kamu jangan mengingat nama itu dulu, biarkan luka yang ada di kepalamu sembuh, maafkan Mbak yang terlalu tergesa-gesa menceritakan kajadian yang membuatmu seperti ini."
"Jangan berkata seperti itu ka, semua yang terjadi bukan kesalahan Kaka."
Setelah meminum obat, Putri kembali terlihat lebih baik.
"Sebaiknya untuk sekarang kita fokus dulu untuk kesembuhanmu, jangan bahas lagi apa yang kita bicarakan tadi."
Sri mengelus lembut kepala Putri, dan dibalas anggukan.
"Ayo kita pergi sekarang, kamu mau beli apa saja nanti Kaka belikan."
"Bener nih Ka? beliin Putri sepatu juga ya!"
"Iya, apa aja yang Putri mau selain sepatu juga boleh."
"Asikk, terimakasih banyak Ka,"
Memeluk erat Sri.
****************
Jam sepuluh siang semua media sosial dan televisi memberitakan sebuah kecelakaan yang menewaskan seorang istri pejabat ternama di kota P, mobil itu di duga hilang kendali karena rem blong dan masuk jurang mengakibatkan mobil terbakar, kejadian itu menewaskan dua orang yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Seisi kota geger, karena baru saja sehari sebelumnya keluarga itu melangsungkan pernikahan besar-besaran, yang menghebohkan karena souvenir dan tamu yang datang hanya kalangan artis dan orang penting saja.
Begitupun dengan Sri, saat dirinya ada disebuah toko pakaian, tanpa sengaja dia melihat berita di televisi yang berada tepat di samping kasir. Matanya terbelalak, melihat kecelakaan itu. Entah kenapa Sri merasa kalau itu bukan hanya sebuah kecelakaan biasa, dan saat melihat sosok yang jadi korban dalam kecelakaan itu berapa terkejutnya Sri karena sosok itu postur tubuhnya sama persis dengan yang dia lihat ketika mengalami kejadian aneh di acara resepsi pernikahan Bang Sayid dan Nayla.
Ingatannya kembali ke peristiwa yang menurutnya seperti sebuah mimpi yang terlihat sangat nyata, sebelumnya dia menganggap kejadian itu hanya sebuah ilusinya saja, tetapi setelah melihat kecelakaan yang menewaskan seseorang dengan sosok yang sama persis dengan yang dia lihat di peristiwa itu, nalarnya seolah terkikis, dia yakin kalau Bang Sayid dan suami dari si korban dalang dari kecelakaan yang menewaskan sopir dan sang istri.
Buku kudunya berdiri, tubuh Sri menggigil, dirinya merasa tidak habis pikir, kenapa ada orang sekejam itu, istri sendiri di korbankan dengan bantuan si menantu. Rasa percaya diri untuk membalas semua kekejaman Bang Sayid terhadap dirinya dan Putri seketika hilang, berganti dengan rasa takut yang teramat. Dia tidak ingin kehidupanya yang mulai tenang terganggu lagi dengan sosok Bang Sayid, apa lagi memikirkan Putri yang baru saja lolos dari maut karena lelaki itu, jangan sampai mengalami kejadian yang serupa untuk kedua kalinya.
Kekuatan Bang Sayid sekarang semakin besar, karena di belakangan ada sosok Wicakson yang memiliki pengaruh cukup besar di kota P.
"Setelah selesai kita langsung pulang ya Put,"
Dengan tergesa Sri membayar semua belanjaan Putri.
"Putri mau makan ayah goreng dulu, sambil nonton bioskop Ka,"
Sedikit merengek.
"Lain kali saja, Kaka ada panggilan dari kantor."
"Beliin ayam goreng saja kalau gitu ya Ka,"
"Iya nanti Kaka beliin, tapi makan di rumah saja ya."
Putri hanya mengangguk patuh, dan mengikuti langkah Sri yang tergesa. Setelah membeli ayam goreng, Sri langsung mengajak Putri meninggalkan Mall, dia tidak ingin berlama-lama tinggal di keramaian.
*************
"Mommy, kenapa tinggalin Nay huhu! Cepat pulang Bang, Dad! kenapa kalian tidak ada di saat seperti ini huu!"
Nayla menagis histeris, asisten rumah tangga yang berjumlah dua orang mengelilinginya, berusaha menghibur sang majikan, tetapi sia-aia.
"Kalian coba hubungi lagi Papi, masa dari tadi gak bisa di hubungi, hikz!"
__ADS_1
Meskipun tangisannya semakin kencang, tetapi tanganya masih saja sibuk melakukan panggilan ke satu nomor yang bertuliskan "My husbend" tetapi usahanya selalu gagal, karena panggilan itu yang menjawab selalu operator.
"Sudah Non, tapi nomor tuan tidak aktif, mungkin sedang melakukan pemeriksaan di rumah sakit."
Seorang pelayanan berbadan pendek, berkulit hitam, wajah penuh dengan jerawat dengan dialek yang medok menerangkan.
"Betul kata anak saya Non, Bapak sepertinya sedang di periksa dokter."
Seorang ibu berumur senja menimpali.
"Pergi kalian! cepat hubungi lagi sampai bisa!"
Nayla seperti biasanya, sifat angkuh dan aroganya tidak hilang meskipun dalam keadaan berduka.
Kedua pelayan yang mendapat bentakan seperti itu seolah sudah terbiasa, mereka pergi kearah dapur yang berada paling belakang di rumah itu.
"Nduk, koe mulih wae neng kampung yo, simbok ra tego yen koe di seneni ben dino koyo ngono. Ben simbok wae sing golek duet, yen ora gajihe gede wes sue mbokmu iki minggat ra gelem kerjo nengkene."
(Nak, kamu pulang saja ke kampung, ibu tidak tegak liat kamu dimarahin terus tiap hari. Biar ibu saja yang nyari uang, kalau enggak gajinya besar udah lama ibumu juga pergi gak mau kerja di sini).
"Nadira ra gelem ninggal simbok rene dewean, yen ono opo-opo karo simbok pie jal?"
(Nadira gak mau ninggalin ibu disini sendirian, kalau ada apa-apa gimana?)
Si gadis yang bertubuh kecil dan berkulit gelap itu.
memeluk ibunya.
"Umurmu iseh rolas taun Nduk, wes koe neruske sekolah wae neng kampung, ben uripmu ora dadi babu koyo simbok, yen sekolahmu nduwur sopo ngerti engko dadi bos koyo juragane dewek, tapi inget yo Nduk, ojo sombong."
(Umurmu masih dua belas taun Nak, sudah kamu lanjut sekolah aja di kampung, kalau sekolahmu tinggi siapa tau bisa jadi bos kaya tuan kita, tapi inget ya Nak, jangan sombong).
Mengelus kepala Nadira dengan lembut.
__ADS_1
Nadira bukan sengaja ingin menjadi pelayanan di rumah megah itu, tetapi dia awalnya hanya berniat liburan setelah lulus dari Sekolah Dasar, karena merasa ksihan melihat ibunya yang selalu jadi sasaran kemarahan Nayla membuat dirinya memutuskan untuk menemani ibunya, karena dia merasa khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk menimpa ibunya.
Pelayan di rumah itu bukan hanya ibu Nadira, masih banyak lagi, tetapi yang tidur di sana dan menjadi kepercayaan mengurus bagian dapur hanya dia seorang. Semua pelayan seperti bagian kebun, membersihkan rumah, mencuci dan setrika, juga petugas keamanan punya mes sendiri yang berada lumayan jauh di area belakang bangunan utama rumah itu.