
Setelah puas bersenang-senang dengan seluruh karyawan Boutiqunya, Sri langsung pulang dengan membawa makanan dan minuman buat Putri, meskipun dirinya sudah mengabarkan akan pulang terlambat, tapi tetap saja dia merasa khawatir meninggalkan Putri sendirian di rumah.
Hampir tengah malam Sri baru sampai rumahnya, tapi suasana di dalam rumah begitu sepi dan gelap tanpa penerangan.
"Pasti Putri tidur, ini kan jam setengah dua belas." Gumamnya sambil menutup pintu, baru saja membalikan badan, Sri teriak sekuat tenaga karena tepat di belakangnya ada seseorang berdiri dengan dengan wajah tertutup rambut.
Reflek Sri melempar makanan yang ada di tanganya, menerima serangan itu si permpuan berkelit sambil tertawa cekikikan, dan menyibakan rambutnya.
"Wah ternyata Mbak penakut hihihi!"
"Walah Put, untung Mbak gak jantungan." Sambil mengelus dadanya.
"Habisnya Mbak tega ninggalin Putri sendirian, ini makanan buat Putri?"
Mengambil keresek makanan yang tadi dilempar Sri.
"Iya, itu buat kamu, gara-gara kamu jadi berantakan gitu makannya."
"Tenang masih bisa di makan ko he."
Menikmati Ayam goreng dan burger yang tadi Sri beli.
"Awas jangan kamu ulangi lagi!"
"Asal jangan pulang malem lagi, he."
"Mbak itu sibuk, pulang malem udah biasa, makanya kamu ikut aja ke boutique biar gak suntuk sendirian di sini."
Menyalakan stop kontak, dan rumah pun kembali terang.
"Kamu kenapa matiin lampunya? Mbak paling gak suka tidur lampu dimatiin."
"Putri sebaliknya, gak bisa tidur kalau lampu gak mati he."
"Lantai atas aja yang dimatiin, bawah biarkan terang. "
"Ok deh."
"Put, kamu masih penasaran gak sama voice recorder yang bapak tirimu cari."
Duduk di meja makan, diikuti Putri.
"Penasaran sih, kita juga udah coba cari tapi sama aja gak nemu itu mesin. Jangan-jangan halusinasi suami ibu aja."
Masih dengan mulut penuh ayam goreng.
"Mana mungkin halu, buktinya sampai sewa orang segala, Mbak yakin kalau barang itu bisa menyeret dia ke penjara."
"Coba kita besok ke sana lagi aja Mbak, sekalian Putri mau ambil semua monitor dan voice recorder dan barang berharga lainya yang masih ada di rumah ibu, sebelum di jual Bank."
"Kamu yang sabar, harta hanya titipan, harus banyak bersyukur masih dikasih kesempatan hidup, kamu tidak perlu menumpuk harta kekayaan, berusaha semaksimal mungkin menjalankan apa yang kamu sukai, dan jalani hidup dengan bahagia, biarkan orang lain ikut merasakan kebahagian kita dengan cara bersedekah, itu sudah cukup membuat hidupmu bermakna."
__ADS_1
Tiba-tiba Putri terdiam, sambil menundukan kepalanya.
**********
"Enggak sia-sia aku membeli mahal jimat pelindung ini, ternyata khasiaya memang ampuh, aku bisa lolos dari jerat hukum yang menyebabkan mobil si anak tiri masuk sungai. Moga aja dia mampus di makan buaya haha! Tidak boleh ada yang menggagalkan rencanaku, akan aku buktikan kepada mertua anguh itu bagaimana Sayid bisa meyainginya kelak haha!"
Sebuah cincin dari batu akik Citrine berwarna kuning keemasan di elus dan diciumnya.
"Seminggu lagi aku akan jadi menantu si pejabat yang jago korupsi itu, lihat saja aku akan mencari kelemahannya, dan akan aku kuras habis seluruh harta kekayaannya, setelah miskin baru aku bongkar semua bobroknya dia haha!"
Kring!
Kring!
"Tumben Ambu telpon, bukanya baru seminggu yang lalu aku kirim duit."
Tit!
"Hallo Mbu, ada apa?"
"Assalamuallaikum Nak, gimana kabarnya?"
"Waalaikumsllam, baik Mbu, gimana kabar di sana?"
Sejahat-jahatnya Bang Sayid, tapi kalau sama Ambu dan Abah pasti hormat.
"Pulang lah Yid, Abah sudah dua hari ini sakit, dia selalu manggil-manggil namamu, Hesti sama Arya juga nanyain kamu terus."
"Kami tidak membutuhkan uang Nak, yang kami butuhkan hanya ke datanganmu."
"Semua orang hidup itu butuh duit Mbu, sudah lah Ambu jangan bikin Sayid pusing, cukup untuk sekarang sampai satu tahun ke depan Ambu jangan hubungi Sayid dulu, biar Sayid yang hubungi kalian. Kalau masalah biaya sekolah dan kebutuhan hidup akan Sayid penuhi semuanya."
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Jangan ada pertanyaan lagi Mbu, percaya saja Sayid pasti akan membahagiakan kalian, cukup penuhi permintaan Sayid yang tadi."
"Ya sudah kalau itu maumu, tapi ingat Nak, carilah rezeki yang halal, jangan berbuat jahat Ambu sama Abah tidak menginginkan harta melimpah, cukup kamu jadi anak sholeh, Ambu sudah bahagia."
"Ya sudah, Ambu istirahat saja, Sayid mau lanjut kerja."
Tut!
Bang Sayid memutus panggilan.
"Aku harus nonaktifkan nomor ini, kalau enggak kebohonganku pasti akan terbongkar, setau Nayla dan orang aku yatim piatu, kalau sampai kebohonganku terbongkar bisa bahaya. Pokonya targetku menghancurkan Wicaksono jangan sampai lebih dari setahun, kalau bisa lima bulan mereka harus bangkrut dan bertekuk lutut di kakiku haha!"
*********
Berita pernikahan Bang Sayid yang akan dilaksanakan dua hari lagi di gedung khusus kalangan konglomerat sudah diberitakan di media elektronik dan media sosial, sosoknya yang gagah dan tampan bak oppa Korea mampu menghipnotis para kaum hawa.
Banyak diantara mereka menyayangkan pernikahan itu, karena dianggap tidak serasi. Banyak juga yang beranggapan pernikahan itu tidak akan berlangsung lama, karena si pria hanya mengincar harta dan ketenaran yang dimiliki keluarga calon mempelai wanita yaitu Nayla.
__ADS_1
Terlepas dari semua gosip yang beredar di masyarakat, pernikahan itu tetap akan berlangsung karena persiapannya sudah sepenuhnya selesai, tinggal menunggu hari H.
********
"Mbak, itu yang ada di televisi bukanya Ayah?"
Arya menunjuk sosok calon pengantin laki-laki, anak dari si pejabat yang berkuasa di kota sebelah wara wiri diacara gosip dan berita.
"Mana mungkin Ayah di situ, kata Ambu, Ayah lagi kerja di luar kota,"
Hesti asik dengan mainanya, tanpa melihat apa yang Arya tunjukan.
"Coba Kaka lihat dulu sebentar, itu beneran Ayah, Nenek, sini sebentar!"
"Ada apa to lek, pakai teriak segala, kakekmu nanti bangun."
Menghampiri Arya dengan tergopoh.
"Nenek lihat deh, itu yang ada di televisi Ayah kan?"
"Mana? masa Ayahmu ada di tivi?"
Menyipitkan matanya yang sudah rabun.
"Hesti, coba ambilin kaca mata Nenek, di lemari sebelahmu."
Hesti yang mendapat perintah dari neneknya hanya bengong menatap layar televisi.
"Nak, ayo sini cepat ambilkan, Nenek mana bisa lihat tanpa kaca mata."
Hesti beranjak dari duduknya dan menyembunyukan kacamata si Nenek di saku bajunya.
Arya yang melihat kakanya berbuat seperti itu langsung berniat menegur si kaka, tapi mulutnya kembali terdiam ketika jari telunjuk Hesti ditempelkan di bibirnya.
"Di sini gak ada, Jangan-jangan nenek lupa narohnya, "
"Iya kali ya Nduk, tapi di mana?"
"Biar Hesti sama Arya yang cari, sekarang Nenek istirahat saja, temenin Kake, Acara televisinya juga sudah selesai, Arya salah lihat, bukan Ayah yang ada diberita itu, hanya mirip saja."
"Owhh ya sudah, Nenek tidur dulu ya Nduk, Lek. Kalau maen jangan jauh-jauh."
Berlalu pergi menuju kamar dimana si kake tertidur.
"Iya Nek," Jawab mereka serempak.
"Kaka kenapa bohong sama Nenek? nanti dosa lho!"
"Itu beneran bukan Ayah, hanya mirip saja, nanti kalau Nenek lihat terus kena serangan jantung bagaimana? kita ini hanya punya kake sama nenek, dua-duanya sudah sepuh dan sering sakit-sakitan, jadi jangan sampai denger kabar yang bisa membuat mereka bersedih, nanti sakit. Mulai hari ini kita bagi tugas, jangan sampai nenek keluar rumah, kalau ada yang mau dibeli, kita berdua yang harus pergi."
Arya mengangguk tanda setuju.
__ADS_1