
"Mama!"
"Mama!"
Sri berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat, ketika perlahan terbuka dia melihat tiga bayangan ada di depanya.
Perlahan tapi pasti bayangan itu mulai terlihat jelas, ada sosok anak kecil yang selama tujuh hari selalu hadir dalam setiap mimpinya, dia tersenyum memandang Sri.
"Mama!"
Tanganya terbentang seolah ingin memeluk Sri.
"Rizki anakku, apa ini kamu sayang?"
Anak itu mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu masih hidup Nak?, maafkan Ibu meninggalkanmu."
Sri berusaha bangkit dan melangkahkan kakinya yang terasa lemas dan berat. Dengan terseok seok dia mendekati sosok Rizki yang selalu tersenyum kearahnya, ketika jarak semakin dekat Sri tak sanggup lagi melangkahkan kakinya dan hampir saja terjatuh, tapi anak itu berlari menahan tubuh Sri dan memeluknya dengan erat. Rasa sesak dan lemas perlahan memudar berganti kebahagiaan yang teramat sangat ketika dia bisa merasakan pelukan hangat dari putranya itu.
"Terimakasih banyak kamu sudah berjuang untuk tetap hidup Nak, tolong jangan tinggalin Ibu sayang!"
Tidak ada jawaban hanya elusan lembut di kepala yang Sri rasakan, sentuhan itu seperti obat yang membuat Sri kembali bersemangat. Dia melepaskan pelukannya dan mengecup kedua pipi mungil anaknya .
Seakan masih tidak percaya dengan apa yanga da di hadapannya, dia memandang dengan lekat anak laki laki yang selalu tersenyum memandangnya. Kemudian dia menggendong Rizki.
Tanpa dia sadari ada dua orang yang sedang memandangi mereka.
__ADS_1
"Anakku Sri,"
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Sri tertegun.
Meskipun suara itu sudah hampir dua tahun tak didengarnya tapi Sri masih mengingat dengan jelas yang memanggil namanya itu Ambu yang selama ini dia rindukan.
Perlahan Sri membalikkan badan ya ke arah suara itu, tepat di samping kanan mereka Sri melihat Ambu dan Abahnya tersenyum dengan wajah yang bercahaya. Mata Sri mengembun, membuat pandanganya terhalangi, dia menghapus butiran air mata yang menghalangi pandangannya.
"Ambu! Abah! Maafkan Sri."
Dia berlari ke arah kedua orang tuanya sambil menggendong Rizki, dan di sambut pelukan hangat dari keduanya. Pelukan yang selama ini dirindukan Sri.
"Maafkan Sri, karna sudah mengecewakan Ambu sama Abah. Sri menyesal." tangisnya pun pecah di pelukan keduanya.
"Sri mau pulang ke rumah, tapi takut Abah sama Ambu marah dan tidak mau menerima Sri lagi, maafkan anakmu yang sudah mengecewakan kalian!"
"Maaf!"
"Jangan bersedih lagi, kami selalu menyayangimu selamanya."
Tangan hangat Abah mengusap air mata yang selalu mengalir deras di pipiku.
"Abah, Ambu sekarang kalian punya cucu. Namanya Rizki, dia tampan kan?"
Dengan bangganya Sri mengangkat Rizki ke atas dan menunjukanya kepada kedua orangtuanya.
"Iya Nak, Abah sama Ambu sudah tau."
__ADS_1
Tangan Abah membelai lembut pipi cabi Rizki, senyuman mengembang di wajah yang di penuhi kerutan tapi terlihat bercahaya dan tampan.
Rizki pun tersenyum ke arah mereka seolah sudah saling kenal dan dekat.
"Kapan Abah sama Ambu bertemu Rizki?"
"Baru-batu ini Nak,"
Ambu mengambil alih Rizki dari gendonganku, dengan tersenyum bahagia Rizki mendakep erat ibunya itu.
"Pulang lah Sri, masih banyak tanggung jawab yang harus kamu selesaikan di sana, kami yang akan menjaga anakmu di sini."
"Maksud Abah? Pulang kemana? Sri mau di sini sama kalian."
"Tidak bisa Sri, kamu harus pulang."
"Katanya Abah sama Ambu sudah memaafkan Sri, tapi kenapa tidak membiarkan Sri tinggal bersama kalian."
"Karna ini bukan tempatmu nak, jangan pernah bersedih lagi kami sangat menyayangimu dan tidak pernah sedetikpun membencimu, hiduplah bahagia, Rizki biar kami yang jaga."
"Tidak mau, kebahagiaan Sri hanya kalian. Tolong jangan usir Sri Abah."
"Kamu harus kuat anakku, kami tidak memiliki banyak waktu lagi, ingat selalu kepada penciptamu dan jangan pernah melupakannya, selalu taat beribadah doa kami akan selalu menemanimu. kami pergi dulu Sri."
Abah, Ambu juga Rizki tersenyum dan melambaikan tangan dan pergi.
Sri berusaha mengejar mereka tapi kedua kakinya seolah tertancap tidak dapat di gerakan.
__ADS_1