
Setelah diolesi minyak dan dipijit, akhirnya Ambu terbangun.
"Abah, mana Kartika?"
"Di depan, kenapa Ambu bisa pingsan di ruang makan?"
"Tadi Kartika tiba-tiba hilang Bah," penuh ketakutan
"Hilang gimana maksud Ambu?"
"Hilang gitu aja, pas Ambu berpaling ke pintu depan karena denger suara ambulance masuk gang kita, tiba-tiba Kartika yang tadinya duduk di meja makan langsung gak ada."
"Sudah Ambu, jangan terlalu dipikirkan, mungkin saja Kartika mau pamit sama Ambu."
"Iya dia pamitan sambil nitip Arya sama Hesti. Minta maaf juga." Menunduk sedih.
"Semoga Kartika mendapatkan tempat terbaik di sisiNya ya Mbu."
"Iya Bah, tapi sepertinya dia sangat marah sama anak kita Sayid."
"Mana mungkin, Abah tau Kartika itu sangat menyayangi Sayid."
"Itu sebelum tau Sayid menghianatinya,"
Menjawab lirih.
__ADS_1
"Sudahlah Mbu, ayo kita kedepan, sudah banyak tamu yang takziah."
Merekapun keluar kamar, dari kamar sebelah tiba-tiba Arya dan Hesti keluar sambil mengucek kedua matanya.
"Akung, Uti kemana Ibu?"
"Ibu siapa Nduk?"
"Ibu Kartika, semalam datang nemenin Arya sama Kaka bobo."
Abah sama Ambu saling berpandangan, mereka sangat terkejut mendengar pengakuan kedua cucunya itu. Bagaimana tidak, ibu yang mereka tanyakan sudah terbujur kaku di ruang depan.
"Arya sama Hesti sholat dulu yuk, kita do'akan Ibu kartika."
Setelah selesai sholat Ambu berusaha memberikan pengertian kepada kedua cucunya atas kematian Ibu mereka.
"Arya, Hesti sudah tau kan kalau setiap yang hidup pasti akan mati?"
Keduanya mengangguk.
"Kita juga tidak bisa menghindari kematian, termasuk Arya, Ambu sama Hesti. Hanya menunggu giliran, kapan waktunya tidak ada yang tau."
Hesti dan Arya menyimak dengan serius.
"Saat ini Ibu Kartika yang mendapatkan giliran, sebagi anak sholeh dan sholehah kalian harus menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas. Menangis tidak akan membuat Ibu kalian kembali, justru akan memberatkan langkahnya menuju surga Allah yang lebih baik daripada dunia ini."
__ADS_1
Hesti menunduk menahan air mata, sementara Arya masih memasang muka polos menyimak semua perkataan neneknya.
"Do'akan Ibu kalian agar mendapat tempat terbaik, dilapangkan dan dijauhkan dari siksa kubur."
"Kasian Ibu nanti gelap kalau dikubur di dalam tanah, Arya mau kasih Ibu senter boleh gak Uti?"
"Tidak boleh Nak, Doamu akan jadi penerang buat Ibu."
Arya mengangkat kedua tanganya.
"Ya Allah, tolong berilah Ibu Kartika tempat yang bagus, kasih lampu juga biar gak gelap, Arya sayang Ibu karena sering ngasih mainan dan baju bagus, tolong kasih Ibu baju bagus juga, aamiin." Mengusap wajahnya.
Sementara Hesti hanya terdiam sambil menunduk, Ambu memeluk kedua cucunya dengan berusaha tegar menahan air mata.
********
Proses pemakaman Kartika berjalan lancar, sekitar tengah hari sudah beres, semua orang kembali ke rumahnya masing-masing.
Suasana yang awalnya rame seketika menjadi sepi, Ambu sama Abah yang kelelahan menemani cucunya tidur siang. Sementara Bang Sayid sedang menggeledah isi tas Kartika.
Dengan semangat dia membuka tas kecil berwarna coklat yang isinya dompet, hand phone dan surat-surat penting termasuk paspor. Apa yang ada di dalamnya sungguh tidak sesuai dengan harapan Bang Sayid.
Dalam dompet hanya ada uang cash sebanyak dua juta, dan ada selembar surat diantara uang itu.
Bang Sayid membuka kertas itu. Sebuah surat yang ditujukan untuk dirinya.
__ADS_1