BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR56


__ADS_3

Sri mematung di depan sebuah gedung yang dipenuhi banyak tamu undangan, dia terpaku menatap poto sepasang pengantin berukuran 40x50 cm yang terpajang di depan pintu masuk, matanya menatap nyalang poto itu.


Bagaimana tidak, orang yang selama ini dia benci, tersenyum kearahnya seolah menertawakan dirinya.


Sejak pagi badanya demam, karena selama tiga hari ini dia sibuk dengan toko boutique yang akan dibukanya, karena itu Sri memutuskan untuk tidak menghadiri acara resepsi pernikahan Sandra, tapi karena merasa tidak enak, akhirnya dia memaksakan diri untuk pergi.


Tapi apa yang dilihatnya sekarang sungguh membuat kepalanya semakin berat, Sri berusaha mengontrol perasaan.


Perlahan kakinya melangkah masuk, untuk memastikan.


Bang Sayid suaminya tengah duduk di kursi singgasana dengan rona wajah yang bersinar, Ketampanannya memang membuat semua orang yang datang kagum tapi tidak dengan Sri, justru semakin benci dan dendam, tapi di sisi lain dia merasa bersedih karena Sandra tantenya juga terjerat tipu daya lelaki itu. Ingin berlari ke arah Bang Sayid dan menghancurkan wajahnya agar tidak ada lagi korban seperti dirinya dan si tente.

__ADS_1


Dia juga berniat membeberkan kebusukan Bang Sayid, yang masih bersetatus suaminya kepada Sandra, tapi melihat rona bahagia si Tante mbuat Sri mengurungkan niatnya. Tiba-tiba Bang Sayid menatap ke arahnya, sontak Sri memalingkan wajah. Dia belum siap bertemu lagi dengan Bang Sayid."


Khawatir keberadaanya diketahui Bang Sayid akhirnya Sri memutuskan untuk pergi dari acara resepsi pernikahan Sandra.


************


Sebelum pulang ke Boutique yang berada tidak jauh dari rumah peninggalan kedua orang tuanya, Sri sengaja mampir ke pengrajin batu nisan, dia memesan sebuah batu nisan dari marmer untuk Rizki. Meskipun terbilang mahal dan pembuatanya cukup lama tapi Sri menyetujui. Setelah membayar lunas batu nisan itu dia melanjutkan perjalanan kembali ke boutique dimana dia ingin mewujudkan mimpinya, kebetulan ruko yang dia tempati milik orang tuanya sendiri.


Masih banyak lagi aset kekayaan yang keluarga Sri miliki, berupa tanah, sawah, pondok pesantren yang lumayan terkenal, kontrakan dan rental mobil.


Semuanya sudah ada orang yang mengelola, kebanyakan dari hasil tanah dan perkebunan untuk kebutuhan pesantren, sisanya masuk ke rekening atas nama Sri.

__ADS_1


Itupun baru diketahui Sri setelah dia pulang dari kantor polisi, pengacara yang menghubunginya bilang kalau seluruh aset jatuh ke anak semata wayangnya. Selama ini Sri sudah dicari ke mana-mana tapi belum ditemukan, dan informasi sekitar Sri menemui jalan buntu ketika pergi dari rumah dan menikah dengan bang Sayid.


Untungnya saat pencarian diperluas, Sri pulang dengan sendirinya. Menerima kabar seperti itu Sri sama sekali tidak bahagia, dia bahkan menolak hasil pendapatan dari semua aset yang ada, tapi keputusan pengadilan tidak semudah itu, Sri tetap jadi ahli waris yang menguasai seluruh harta kekayaan orang tuanya.


Sri akhirnya menyetujui, tapi dia tidak merubah apapun yang sudah di bentuk Abah, termasuk pegawai dan sistem kerja. Dia hanya mengecek dan menerima setiap laporan dari anak buahnya.


Dia juga memiliki mimpi yang ingin diraih, bukan semata materi. Jadi kantor yang selam ini dijadikan tempat administrasi bisnis Abah dirubah menjadi boutique oleh Sri, sementara untuk kantor dibuatkan yang baru bersebelahan dengan ukuran lebih kecil.


Persiapan Boutique itu baru tujuh puluh persen, dia menginginkan semuanya terlihat luar biasa dan sempurna sesuai keinginanya, dari desain, warna sampai pernak pernika semuanya dia yang cari sendiri tanpa bantuan siapapun.


"Selamat siang Bu, maaf saya mau melaporkan hasil bulanan dari rental mobil."

__ADS_1


Baru saja turun dari mobil, Sri langsung disambut seorang lelaki berwajah oriental, berkulit putih bersih dengan tinggi badan sekitar 180 cm, menyodorkan sebuah map sambil menunduk.


__ADS_2