
"Kerja bagus, tidak sia-sia selama ini memanjakan kalian. Untuk pekerjaan yang sekarang, aku kasih bonus lebih, dan secepatnya tinggalkan kota ini. Tapi ingat, setelah identitas dan fisik kalian dirubah, segera kembali ke sini, karena akan ada banyak tugas yang menanti."
Bang Sayid menyerahkan koper berwarna coklat yang penuh dengan uang, melihat itu Boni dan Cungkring tersenyum kegirangan, keduanya saling berpelukan, meskipun Boni tidak memahami apa yang Bang Sayid ucapkan tapi melihat tumpukan uang sebanyak itu dia bisa tau kalau bosnya merasa puas dengan kinerjanya.
"Kalian yakin tidak meninggalkan jejak?!"
"Yakin Bos, semuanya aman. Tapi saya mengakui kekuatan Putri, dia itu susah matinya, meskipun sudah kami hajar, kami sayat sayat dan di tusuk di sana sini, tapi masih bisa gerak, bahkan dia berusaha menangkis tebasan di lehernya sampai pergelangan tanganya hampir putus."
"Sudah, kamu tidak perlu menjelaskan sedetail itu, dan cepat pergi dari sini sebelum ada orang yang melihat kita. Satu lagi, jangan ada kontak dalam bentuk apa pun dalam waktu dekat ini, segera buang hand phone kalian ke sungai itu sekarang."
__ADS_1
"Baik Boz, kami akan menghilang seperti biasanya, dan kembali dengan wajah dan identitas baru,"
Cungkring menarik tangan Boni yang tengah asik menghitung tumpukan uang yang Bang Sayid berikan, dan dia pun mengerti isyarat itu. Bang Sayid pergi lebih dulu, di susul Cungkring dan Boni. Sebelum pergi Cungkring melempar hand phone yang biasa dia pakai untuk menghubungi Bang Sayid ke sungai, di bawah jembatan tempat biasa mereka bertemu.
**************
Banyak panggilan dan notif pesan di gawainya, tapi tidak dia hiraukan, tatapannya kosong menatap derasnya air hujan di luar jendela, hujan itu seolah mewakili perasaanya.
"Kenapa harus kamu yang meninggal seperti itu Put, maafin Mbak, tolong maafin Mbak!"
__ADS_1
"Kamu pasti kesakitan, hiks kedinginan, Mbak harus gimana?"
"Ini semua pasi ulah si bajingan itu, aku tidak akan biarkan dia mati dengan mudah, akan aku patikan sisa hidumu menderita!"
Sri berteriak diikuti ledakan petir bersahutan, hujan bergemuruh semakin deras di sertai angin kencang, untungnya di kamar itu hanya tinggal dirinya, pasien yang awanya ada tiga orang, telah pulang dua orang tadi siang.
Sri bergegas turun dari ranjang, setengah berlari mendekati pintu keluar kamar tempat dirinya dirawat, setelah membuka pintu perlahan, dan melihat keadaan di luar kamar, dirasa aman, setengah berlari dia menuju tangga darurat yang berada di samping kanan kamarnya. Suasana rumah sakit sore itu lengang, mungkin karena hujan deras dan waktunya pergantian shif jaga perawat, jadi hanya sedikit orang yang lewat di sekitar situ.
Dengan betelanjang kaki Sri berlari menuruni tangga darurat menuju lantai dasar, rasa dingin lantai tangga tidak dia hiraukan, langkahnya semankin cepat menuruni setiap anak tangga tanpa berpegangn dan dia tidak menyadari ada genangan air di salah satu tangga, membuat kakinya terpeleset dan badanya hilang keseimbangan sehingga terjatuh berguling bebrapa kali dan terhenti ketika tubuhnya terbentur tembok di tangga terakhir menuju belokan selanjutnya.
__ADS_1
Meskipin sakit di sana sini dan kepalanya terasa berat, Sri tidak menghiraukanya, dia segera menuruni tangga selanjutnya dan terus berlari menuju pintu keluar, tapi beberapa langkah lagi, tiba tiba pintu itu terbuka.