
Tiba-tiba Bang Sayid dan Wicaksono berdiri tepat dihadapanya. Lagi-lagi mereka seolah tidak melihat keberadaan Sri.
"Ingat perjanjian kita, kamu bisa menjadi menantuku tapi selesaikan tugas yang aku berikan, jangan ada saksi mata, lakukan seolah kecelakaan biasa. Aku tidak akan memaafkanmu jika ada kesalahan sedikit saja."
"Saya pasti akan membereskan semuanya dengan sempurna, asalkan Bapak melakukan hal yang sama, penuhi semua keinginan saya sesuai perjanjian kita diawal."
"Baik tidak ada masalah, saya pasti akan menepati janji sesuai dengan yang kita sepakati, tapi kalau sampai kamu gagal, bukan hanya akan kehilangan Nayla, tetapi nyawamu pun pasti akan hilang."
"Apa yang mereka bicarakan? kenapa ada perjanjian segala? siapa yang akan mereka bunuh, saingannya atau musuh Wicaksona?" Begitu banyak pertanyaan yang bersemayam diminda Sri, belum hilang rasa kagetnya, sekarang jadi berubah penasaran.
__ADS_1
Tiba-tiba Wicaksono menatap ke arahnya, sontak Sri merasa badanya kaku susah digerakan, dan beberapa saat kemudian kakinya melangkah menuju Sri. Sri berusaha sekuat tenaga mengontrol perasaanya, dia mencoba menghindar tetapi Wicaksono semakin mendekat. Sri kembali mengumpulkan tenaganya, berusaha melawan rasa takut yang semakin menguasain dirinya, dan ketika jarak Wicaksono tinggal selangkah lagi, Sri mencoba pasrah dengan memejamkan matanya.
Tetapi Sri tidak merasakan apapun, dia tunggu beberapa saat tiba-tiba dirinya mendengar suara Wicaksono dari arah belakangnya.
"Saya pergi dulu, target kita sudah datang, ingat jangan sampai gagal." Terdengar suara langkah kaki menjauh.
Sri membuka matanya, dan benar saja Wicaksona tepat berada di belakangnya menjauh menghampiri seorang wanita yang tersenyum kepadanya.
"Kamu jangan harap bisa mengancamku, pembcaraan kita sudah aku rekam, dan semua barang bukti atas kejahatanmu yang memperbudak banyak orang akan menyeretmu ke penjara, selain itu kejahatan yang telah membunuh rivalmu aku juga sudah memiliki buktinya, jadi jangan harap kamu bisa memperbudakku."
__ADS_1
Bang Sayid tersenyum sinis melihat kepergian Wicaksono.
"Ternyata mereka bersekongkol untuk membunuh wanita itu, tapi siapa? pantas saja lelaki seperti Bang Sayid bisa menikahi anak pejabat, ternyata mereka memiliki perjanjian, terus barang bukti apa yang Sayid punya?" Apa sebaiknya aku ikuti saja?"
Sri mengikuti Bang Sayid yang kembali masuk ke dalam area penggalian, tetapi entah kenapa tiba-tiba di balik pintu kayu itu kembali terlihat acara resepsi pernikahan Nayla dan Bang Sayid. Lagi-lagi Sri dibuat bingung karena apa yang ada di harapnya berubah kembali ke acara resepsi, yang lebih aneh lagi Sri berada di arah samping sebaliknya dari pertama dia masuk, dan ketika dia berbalik arah memastikan, ternyata tempat yang sebelumnya dia lihat seperti bangunan kayu dan penggalian baru bara ternyata hilang, bahkan orang yang sebelumnya sibuk bekrja pun sudah menghilang entah kemana, ulang ada hanya sebuah kolam ikan hias di samping sebelah kiri rumah itu.
"Ada sebenarnya yang terjadi? kenapa aku bisa di sini lagi? apa barusan hanya mimpi? gak mungkin ini mimpi, jelas-jelas aku masih terjaga dan waras, tapi.."
Dengan masih merasa kebingungan, Sri akhirnya memutuskan pergi menginggalkan acara resepsi itu.
__ADS_1
Sri langsung menuju rumah sakit tempat Putri dirawat, tujuanya hanya satu, dia ingin bercerita kejadian aneh yang dialaminya di rumah Wicaksono, meskipun Putri belum sadar tapi dia yakin kalau Putri mendengarnya.
Dengan kecepatan tinggi Sri menuju rumah sakit, yang jaraknya lumayan jauh. Beberapa kali hampir melanggar rambu-rambu lalu lintas, dia tidak menyadarinya karena pikiranya masih dipenuhi kejadian yang baru saja dialaminya.