
"Kamu simpan di mana voice recorder yang berisi pertengkaran aku dengan ibumu?!"
Tangan Bang Sayid menarik tissue yang menyumpal mulut Putri, bukanya mendapat jawaban malah wajah Bang Sayid menerima semburan ludah dari Putri.
Dengan puasnya Putri tertawa terbahak-bahak melihat gurat kekecewaan dan kemarahan dari wajah Bang Sayid.
Tiba-tiba tawa Putri terhenti setelah tangan Bang Sayid mendarat di pipinya, bukan hanya sekali tapi berkali-kali Putri menerima tamparan dari Bang Sayid yang membuat dirinya tidak sadarkan diri.
Setelah melihat Putri terkulai, Bang Sayid menghentikan aksinya, dia segera pergi ke luar apartemen. Tempat yang dia tuju pujasera yang ada di samping apartemen, mungkin karena energinya habis setelah menghajar Putri, membuat dirinya merasa lapar dan haus.
Setengah jam berlalu, akhirnya Putri sadar dari pingsannya, dia berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan dan kakinya, dengan sisa tenaga yang dia miliki, Putri mencoba menggeser kursi ke arah laci meja belajarnya, karena di sana ada sebuah pisu lipat dan gunting, dengan susah payah akhirnya usahanya berhasil, Putri menarik tuas laci sekuat tenaga, meskipun membutuhkan perjuangan yang sangat lama akhirnya laci itu bisa terbuka, kemudian dia ambil pisu yang ada di dalam laci itu. kembali dia berusaha sekuat tenaga memutuskan kabel charger yang mengikat tangannya. Akhirnya ikatan di tangannya bisa putus, meskipun jemarinya berdarah karena tergores pisau.
Setalah membuka ikatan di kakinya, Putri menggapai kunci mobil dan sebuah tas hitam yang tadi tertinggal yang membuat dirinya harus kembali ke apartemen itu dan mengalami kejadian diluar dugaan.
Dengan terseok-seok Putri berusaha berjalan menuju pintu apartemen, rasa sakit di sekujur tubuhnya berusaha dia lawan, tujuanya hanya satu, segera meninggalkan apartemen itu sebelum Bang Sayid datang lagi.
Dua langkah lagi menuju pintu, tiba-tiba Putri mendengar langkah kaki mendekatinya, dada Putri berdebar kencang, dia merasa kalau usahanya akan sia-sia, dan akan kembali tertangkap ayah titinya.
__ADS_1
Dia hanya bisa diam di posisinya, berharap orang yang ada di luar bukan Bang Sayid, karena untuk berlari kembali ke dalam Putri sudah tidak sanggup lagi.
Langkah kaki itu semakin mendekati pintu yang ada dihadapanya, Putri berusaha menahan nafasnya sambil terus berdoa agar apa yang dia bayangkan tidak jadi kenyataan, dan begitu leganya dia ketika langkah kaki itu tidak berhenti di unitnya, melainkan terus melangkah melewatinya dan semakin samar terdengar menjauh pergi.
Setelah hening, Putri kembali melangkahkan kakinya menuju pintu, dan sebelum membuka pintu itu, dia mengintip keadaan di luar dari lobang pintu, suasana di luar sungguh sangat hening, karena memang waktu itu hampir tengah malam.
Memang apartemen yang Putri tempati berada di pusat kota, tapi kebanyakan penghuninya sibuk dengan aktifitas masing-masing, sehingga terkesan sepi, padahal semua unit terisi.
Perlahan dia membuka pintu, separuh badanya dia keluarkan untuk memastikan keadaan di luar, dan tetap sepi, seolah hanya dirinya yang masih terjaga di malam itu.
Setelah melewati beberapa unit, akhirnya pintu tangga darurat terlihat, setengah berlari Putri menuju pintu itu, dia tidak menghiraukan lagi rasa sakit di pergelangan kakinya, dengan berpegangan tangan ke besi tangga darurat dia berusaha mempercepat langkah kakinya, setelah melewati tiga pintu tangga darurat akhirnya Putri sampai di lantai bawah.
Tanpa menoleh ke belakang dia langsung berlari sekuat tenaga menuju mobil yang kebetulan terparkir tidak jauh dari posisinya berdiri, dia mencari kunci mobil yang ada di tasnya, saat kunci itu sudah di genggaman, tanpa menoleh kanan kiri dia langsung berlari menuju mobilnya yang berjarak hanya seratus meter itu, tiba-tiba kakinya terhantuk tembok lantai yang bolong karena terkikis air, dan naasnya dia tidak bisa menjaga keseimbangan badanya, yang mengakibatkan dirinya terjatuh de samping mobil yang banyak terparkir. Lebih parahnya lagi kunci yang tadinya sudah ada di genggaman terlempar jauh ke arah depan, sehingga mengakibatkan bunyi yang cukup keras, memecah keheningan malam.
Di saat itulah ada seseorang melewati parkiran dan langkahnya terhenti ketika mendengar suara kunci mobil Putri yang terjatuh, Putri melihat ke arah langkah yang terhenti, dan betapa terkejutnya dia ketika dari bawah kolong mobil, karena posisinya masih tertelungkup akibat jatuh tadi, mengenali sepatu dan celana yang dikenakan pria itu.
kedua tangannya langsung menutup mulutnya, tanpa membuang waktu Putri segera merangkak bermaksud mengambil kunci, yang kebetulan terjatuh di bawah mobilnya sendiri.
__ADS_1
Lelaki yang tadi terdiam pun perlahan mendekati arah suara kunci terjatuh, yang jaraknya hanya terhalang lima mobil saja.
Setelah kunci berhasil dia dapatkan, Putri perlahan membuka pintu mobil, dan si Pria yang tadi berjalan perlahan terlihat mempercepat langkahnya saat mendengar bunyi "Tit".
Ketika lelaki itu sudah ada di hadapan mobil yang pintunya terbuka, betapa murkanya dia melihat seseorang yang sedang dia sekap berada dibalik kemudi sambil tersenyum kearahnya penuh kemenangan.
Ya, pria itu Bang Sayid. Setelah perutnya terisi dan menghisap sebatang rokok, Bang Sayid bermaksud kembali ke unit Putri, tapi saat dirinya melewati parkiran, langkahnya langsung terhenti ketika ada suara "Klontang" yang sangat nyaring,
Karena merasa terganggu dengan suara itu, akhirnya Bang Sayid memutuskan untuk memeriksa arah suara.
Pikiranya semakin kacau ketika dia mendengar pintu mobil terbuka tapi tidak ada satu orang pun terlihat di parkiran itu. Dan benar saja dugaanya, Putri yang dia Sandra, berada di balik kemudi tersenyum seolah mengejek dirinya, belum sempat berkata apa-apa, mobil Putri melaju dengan kecepatan tinggi seolah ingin menghantam tubuhnya, tapi dengan sigap Bang Sayid bisa menghindarinya. Taknayal tubuhnya menghantam lantai tembok, seolah tidak merasakan sakit, Bang Sayid langsung mengejar mobil Putri menggunakan mobil Toyota Raize Sandra.
Aksi kejar-kejaran pun berlangsung sangat sengit, Putri yang sejak sekolah menengah sudah mahir mengendarai mobil terlihat gesit menyalip semua mobil yang dilewatinya, bahkan dia sengaja seolah ingin terkejar Bang Sayid, melihat dirinya di permainkan seperti itu, emosi Bang Sayid semakin menjadi. Dia terus mengejar mobil Putri, tapi tetap saja dirinya selalau tertinggal.
Sampailah mereka disebuah jembatan besar yang sangat terkenal di kota P, mobil Putri masih memimpin, tapi saat mobilnya dalam kecepatan tinggi, tiba-tiba ban belakang pecah, dan mobil Putri oleng ke seblelah kanan terhantam beberapa mobil di belakangnya tapi tidak terlalu keras, hingga membuat mobil Toyota Agya warna putih milik Putri terseret sampai ke tepian jembatan, baru saja Putri mau membelokan mobilnya kembali, tiba-tiba mobil Raize berwarna merah menghantamnya sangat keras, yang menyebabkan mobil Putri tergelincir dan jatuh ke sungai.
Semua orang yang melihat kejadian itu berteriak histeris, sementara si sopir yang menghantam mobil Putri sampai jatuh terlihat tersenyum puas, dan senyuman itu bisa Putri lihat dengan jelas disaat terakhirnya, karena posisi mobilnya berlawanan arah akibat ban pecah tadi dan terdorong mobil lainya.
__ADS_1