BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR22


__ADS_3

"Selamat siang Pak, saya mau besuk napi yang bernama Paijo."


"Dengan bapak siapa?"


"Sayid!"


"Silahkan masuk ruang tunggu, kami akan segera panggil yang bersangkutan."


"Baik Pak, terimakasih banyak."


Selang beberapa waktu menunggu, dari arah pintu bagian dalam kaca penghalang antara napin dan pengunjung keluar Paino digandeng petugas lapas.


Kondisinya sungguh memprihatinkan, banyak bekas luka di sana sini dan badanya kurus tak terawat banyak bulu tumbuh di wajahnya.


"Waktunya lima belas menit."


Tanpa menunggu jawaban, petugas itu masuk kembali.


"Apa kabar Jo?"


"Begini saja Bang, "


Jawabnya lirih menundukan kepala.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Emhh"


Paijo tetap menunduk, seolah tidak ingin menatap Bang Sayid.


"Ya sudah, kalau kamu gak mau cerita aku pergi dulu." Bang Sayid yang merasa kesal karena lawan bicaranya hanya diam memutuskan untuk beranjak dari hadapannya.

__ADS_1


"Aku salah memilih teman Bang, karna rasa sakitku terhadap Abang, jadinya memutuskan mencari kawan baru dan akhirnya dapat tapi ternyata mereka perampok dan hanya memperalatku."


"Apa aku pernah menyakitimu?"


Kembali duduk.


"Enggak Bang, tapi karena Sri pujaan hatiku Abang nikahi aku jadi malas bertemu Abang."


"Maaf karna aku tidak pernah mengetahui itu. O iya, aku dengar kamu membunuh pemilik rumah yang kalian rampok?"


"Bukan aku yang membunuh, justru aku berusaha menolong agar mereka tidak terbunuh."


"Yang bener Jo? kenapa kamu membela korbanmu sendiri."


"Karna mereka orang tuanya Sri," jawabanya lirih.


"Apa Jo!"


Meskipun dari awal sudah bisa menebak, tapi rasanya tetap saja Bang Sayid kaget.


"Aku gak bisa bantu Jo, meskipun kamu cerita yang sebenernya pasti mereka tidak akan melepaskanmu karna semua tanda bukti mengarah hanya padamu kecuali ada bukti yang bisa membebaskanmu dari semua tuduhan itu."


"Tidak ada Bang, akupun pasrah dengan keadaan ini. Karena kedua orang tuaku sudah tidak mau membela dan justru menganggapku sudah mati."


"Sabar Jo, semoga masalahmu segera selesai dan kamu bisa bebas dari tempat ini."


"Terimakaih Bang, salam buat Bang Togar dan Kang Asep, sampaikan maafku juga untuk mereka. Aku juga minta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah mencelakakan mertua Abang."


"Waktu kunjungan sudah habis."


Petugas yang tadi mengantar Paijo datang membuyarkan pembicaraan kami."

__ADS_1


"Sudah ya Jo, aku pulang dulu. Jaga diri baik-baik salamu pasti aku sampaikan ke Bang Togar sama Kang Asep."


"Iya Bang, terimakasih banyak masih sudi menjenguk saya."


*********


Apa yang harus aku katakn kepada Sri, bagaimana perasaanya kalau sampai tau orang tua dan anaknya meninggal?


Apa sebaiknya aku cerita saja? toh kalaupun dia pulang aku tidak perlu khawatir lagi dengan harta peninggalan orang tuanya yang terkenal kaya raya pasti jadi milik Sri seorang karena dia anak tunggal.


"Sial haand phonnya dari tadi tidak aktif terus."


"Ahh bodo amat, bukan urusanku yang penting sekaraang aku harus bisa menghubungi Sri dan memberi taun kabar kematian anak juga orang tianya."


Bang Sayid pun segera meninggalkan lapas, menuju tempat tongkronagnya.


***********


"Cepat kali sudah sampai sini lagi kau Bang?


"Kumaha Paijo Bang? apa dia baik-baik saja."


"Mana ada di penjara baik-baik saja, aneh pertanyaanmu Kang!"


"Paijo keliatan baik, meskipun banyak luka di sana sini. Dia juga menitipkan salam buat kalian berdua, dan minta maaf katanya."


"Aku jadi ingin menjenguk dia, ayo Kang kita pergi sekarang saja."


"Besok Bang Togar, sekarang saya ada perlu. O iya Bang Sayid, apa benar cerita yang tersebar katanya Paijo membunuh si korban? Dia cerita siapa?"


"Mertua saya yang jadi korbanya, tapi katanya bukan Paijo yang membunuh."

__ADS_1


"Apa? yang bener Bang?"


"Iya, Paijo berusaha menggagalkan pembunuhan itu tapi apesnya dia malah pingsan dan ketika bangun semua tanda bukti mengarah padanya."


__ADS_2