
Setahun telah berlalu, Boutique Sri kini berkembang sangat pesat, banyak pengunjung setiap harinya, belum lagi Sri menang lomba feshion antar provinsi. Kariernya semakin melejit, bahkan beberpa kali diundang ke acara televisi. Penampilanya jauh berbeda dengan Sri yang dulu, namanyapun lebih dikenal dengan sebutan Mrs. Gayatri, sesuai nama boutiquenya.
Tidak ada lagi waktu luang untuk mengingat masa lalu, setiap hari dirinya disibukan dengan berbagai kegiatan, tujuan hidupnya hanya untuk beramal, karena setelah mengikhlaskan semuanya, Sri jadi lebih tenang. Dendam terhadap Bang Sayid pun telah hilang.
Sore itu dia sedang merampungkan sebuah desain baju pengantin pesanan seorang anak konglomerat, meskipun detail dan model yang diinginkan sangat rumit, tapi bukan Sri jika tidak menyanggupinya. Bukan karena masalah bayaran yang pantastis, tapi memang dia menyukai tantangan dan hal baru.
Setelah merasa semuanya sempurna sesuai apa yang diminta pelanggannya, dia segera memanggil pegawanya untuk menjadikan seketsanya sebuah baju.
Sekarang pegawai yang dia miliki sudah berjumlah tiga belas orang, khusus buat penjahit tiga, tukang potong dua, penjaga toko empat, sisanya pinishing yang memberi detail indah di bajunya.
Dia tidak menginginkan asisten pribadi, baginya semua yang membantu dia sampai jadi seperti ini merupakan asisten yang sangat dia butuhkan.
Perlakuan Sri terhadap karyawanya sungguh luar biasa, dia tidak menjadikan mereka seperti bawahan, tapi lebih tepatnya partner kerja.
Jadi merekapun segan dan patuh meskipun tanpa kehadiran Sri.
__ADS_1
Sri berencana pergi mengecek kantor yang di pegang Umar dan Wahyu, tapi pas sampai di sana dia disambut seorang lelaki tua yang berteriak-teriak memarahi Umar dan Wahyu. Umar berusaha menenangkan, sementara Wahyu seperti ikut terpancing emosi mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan pria tua itu.
"Ada apa ini Mar?"
"Ini Bu, Bapak Ato bilang kalau Kontraknya sepi gara-gara kita pasang harga terlalu rendah, jadi semua penghuni yang ada di kontrakan dia sebelumnya pindah ke tempat kita."
"Silahkan Bapak duduk dulu, kita bicarakan baik-baik, se.."
"Halah, kagak usah banyak bacot, pakai nyuruh duduk segala, emangnya situ siapa?"
"Sebentar kontrakan yang Bapak maksud yang mana ya?"
"Yang mana lagi kalau bukan milik Ustad Burhanudin yang udah mati itu, masih hidup aja sok-sokan ngasih tinggal gratis pemulung yang ngontrak di tempat saya, sekarang udah matipun anaknya sama-sama nyusahin. Udah tau harga semua pada naik, mana banyak karyawan yang di PHK masih saja ngasih harga kontrakan empat ratus ribu dengan ukuran seluas itu, pemilik kontrakan yang ada di sekitaran sini semuanya setuju manikan harga sampai tujuh ratus perbulan, hanya kontrakan Burhandin yang tidak naik, apa gak mikir itu bikin kita semua pengusaha kontrakan yang ada di sekelilingnya merasa dirugikan, mana terus terusan bangun kontrakan."
"Jangan Bapak bawa-bawa orang tua saya yang sudah tidak ada, perkenalkan saya putrinya, hal semacam ini bisa kita bicarakan dengan kepala dingin, Kalau memang Bapak keberatan, baik akan saya sama ratakan harganya sesuai kesepakatan pemilik kontrakan yang lain."
__ADS_1
"Nah gini ni akur, jangan pengen kaya sendiri."
melirik Umar dan Wahyu penuh kebencian dan berlalu pergi.
"Maaf Bos, amanah Bapak, kita tidak boleh menaikan harga kontrakan selama masih ada lebihnya meskipun sedikit." Umar mengingatkan pesan Abah kepada Sri.
"Saya tau Mar, tapi kalau tetap dengan pendirian kita nanti yang ada Bapak itu gak mau pergi dari sini, dan akan terus datang untuk melakukan hal yang sama. Apa kalian mau diomelin seperti itu lagi?"
Keduanya terdiam dan menggelengkan kepala, karena merasa tidak sanggup harus mendengar kata-kata kasar dan caci maki dari Bapak Ato yang terkenal sebagai salah satu orang terpandang yang arogan di kampung T.
"Tempel pengumuman kalau kontrakan kita naik jadi tujuh ratus ribu mulai bulan depan, tapi mereka mendapat beras, sembako, dan uang jajan anaknya sejumlah lima ratus ribu."
Mendengar itu Wahyu dan Umar yang awalnya memasang wajah kurang setuju dengan usulan Sri menjadi tersenyum dan saling berpandangan.
Ternyata buah jatuh memang tidak jauh dari pohonya, sifat Sri sama persis dengan kedua orang tuanya, meskipun mereka sering menggratiskan kontrakanya tapi hartanya tidak pernah habis malah semakin bertambah.
__ADS_1