BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR15


__ADS_3

Aku mengejar dokter yang lebih dulu berlari ke arah kamar Rizki. Meskipun bersikap seolah tidak menginginkan bayi itu, tapi karna sering melihatnya terbaring sendirian di incubator membuatku sedikit menyayanginya.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, dokter yan terlihat masih muda itu keluar menghampiriku.


"Mohon maaf Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Allah berkehendak lain."


"Maksud dokter?"


"Putra bapak sudah meninggal."


"Jangan becanda dok, gak lucu."


"Betul pak, putra bapak sudah pergi untuk selamanya."


Aku begitu perpukul, bukan mendengar kematian Rizki tapi aku takut Sri mengetahui kabar ini, bisa bisa dia minta pulang dan tidak mau kerja lagi.


Setelah mengurus segala kepulangan jenazah Rizki, aku segera pulang ke rumah kedua orang tuaku dan meminta mereka menguburkannya di sana.


Sengaja aku lakukan itu, berharap seluruh tetangga di tempat tinggal kami tidak ada yang tau


"Sayid, kamu sudah mengabarkan hal ini sama Sri?"


"Sudah Bah."


Aku menjawab pertanyaan Abah tanpa berani menatap matanya.


"Apa dia mau pulang?"


"Enggak, kan baru seminggu dia di sana kalau pulang harus bayar denda yang lumayan banyak."


"Ama yakin, Sri pasti sangat terpukul mendengar berita ini."

__ADS_1


Ama menimpali.


"Hemm."


Yapz, kedua orang tuaku begitu alim dan taat beribadah. Mereka juga sangat menyayangi anak satu satunya yaitu aku. Saking sayangnya, bahkan segala keinginanku selalu mereka penuhi meskipun sulit.


Aku pun tidak mengerti kenapa memiliki sifat jahat seperti ini, yang pasti sejahat jahatnya aku tidak pernah berani menyakiti hati keduanya.


"Sebelum pergi, jemput Hesti sama Arya dulu. Dari kemaren mereka selalu nanyain kamu terus."


"Iya ama, Sayid juga kangen."


Padahal tidak sedikitpun aku merasakan hal itu.


Jujur saja, bagiku uang lebih berharga ketimbang mereka.


*******


Sengaja aku bawa Arya sam Hesti makan di tempat pavorit mereka, dan sebelumnya sudah berpesan agar meminta uang jajan yang banyak sama ibunya.


"Hai sayang! gimana kabar kalian?"


"Baik Ma!"


Serentak menjawab.


"Mama kapan pulang?" si sulung merengek.


"Masih lama Sayang, Hesti jagain Arya ya jangan berantem terus."


"Iya ma,"

__ADS_1


Melirik ke arahku, ketika tangannya ku pegang dan memberi kode.


"Mama, beliin Hesti baju baru sama tas baru ya. Ini udah rusak semua."


"Arya juga mau mobil remot, sama hand phone ma."


"Iya nanti mama beliin, asal kalian di sana baik baik ya nurut sama papa."


"Iya ma,"


"Mas, tolong beliin semua keperluan anak anak ya."


"Asal kamu kirim duitnya pasti aku beliin."


" iya iya, tenang aja sebentar lagi aku kirim."


"Sekalian, aku juga mau baju baru. Masa suaminya Kartika yang kerja sampai ke Arab sana penampilanya kucel, kamu gak malu sama omongan orang."


"Emang uang yang aku kirim kemaren udah abis?"


"Habis lah, buat bayar iuran Hesti sama Arya, jajan mereka juga banyak."


Padahal kebanyakan uangnya aku pakai untuk kesenanganku.


"Ok, jangan kaya orang susah pokonya kalian harus tampil beda. Udah ya bang, aku mau minta majikan kirim uang sekarang. Dadah Hesti, Arya muach."


"Dahh mama!"


Aku suka dengan istriku yang satu ini, sedikit saja harga dirinya tersentil pasti langsung meng iyakan segala kemauan kami.


Setelah puas menikmati makanan di Fc kami segera pergi.

__ADS_1


__ADS_2