
"Sayid, tadi istrimu telpon nanyain kabar anaknya, tapi setelah ibu kasih tau kalau putranya meninggal panggilannya langsung terputus. Apa kamu belum memberi tau kabar kepergian anak kalian? coba telpon balik, Ambu khawatir terjadi sesuatu sama istrimu."
Bang Sayid yang baru saja datang, disambut kata kata seperti itu dari ibunya sontak kaget dan emosinya memuncak. Tapi dia tidak berani memarahi ibunya, hanya saja dia tidak memberi jawaban dan langsung pergi ke kamarnya.
Si ibu seolah tau sifat anaknya, kalau emosi pasti diam dan mengurung diri di kamar.
Kalau sudah seperti itu tidak ada yang berani menggangunya.
"Telepon yang anda tuju tidak aktif. "
Berkali-kali Bang Sayid mencoba menghubungi Sri, tapi selalu operator yang menjawab.
"Sial, malah ketauan. Awas aja kalau sampai pulang aku ceraikan sekalian, percuma punya istri tidak bisa menghasilkan".
Bukanya khwatir dengan keadaan Sri, Bang Sayid semakin kesal dan emosinya memuncak karena tidak bisa menghubungi Sri istrinya. Apa yang ada di dekatnya dia lempar.
******
"Ada apa Ambu? seperti ketakutan gitu."
"Sayid sepertinya lagi ngamuk Abah."
"Ko bisa? ada masalah apa lagi sampai membuat dia semarah itu."
"Ambu juga tidak tau masalahnya, tapi tadi waktu Sayid datang terus Ambu cerita kalau Sri telpon nanyain Rizki. Ambu bilang sudah menceritakan kepergian Rizki kepada Sri, sepertinya Sayid tidak menyukainya. Dia langsung pergi ke kamar dan sekarang dia sepertinya lemparin barang-barang."
__ADS_1
"Biarkan saja Mbu, seperti itu tabiat anak kita. Kalau sudah tenang baru kita tanyakan."
"Tapi Bah,, "
"Sudah sudah, Abah mau makan ayo siapkan. Sekalian panggil Arya sama Hana sekalian kita makan bareng."
"iya Bah."
********
"Lecek kali mukamu Bang! apa belum dapat transferan dari dua binimu itu?"
"Iya, biasanya kalau datang selalu sumringah ini horor pisan saya liatnya."
"Iya Bang Togar, saya aja yang tadinya seneng pisan Bang Sayid dateng soalnya suka di traktir terus, ehh liat roman romanya kaya gini mah di jamin zonk kita."
"Sudahlah Bang Sayid jangan terus pasang muka di tekuk macam tu, tidak enak saya liatnya. O iya, apa Abang tau kalau si Paijo kena tangkap polisi karena ketauan merampok di rumah warga kampung sebelah. Bahkan katanya si pemilik rumah mati di bunuh Paijo sama kawanya berlima."
"Yang bener Bang Togar? saya juga baru denger atuh, mana mungkin si Paijo jadi perampok, dia itu orangnya lurus-lurus aja. Dapet kabar dari mana? kampung sebelah mana?"
"Aduh,, Kang Asep ini kalau bertanya macam bini saya, tidak ada remnya."
Bang Sayid masih terdiam tidak terpengaruh dengan kehebohan cerita Bang Togar sama Kang Asep, pikiranya masih dipenuhi Sri yang tidak juga merespon pesan dan panggilanya.
"Saya juga awalnya tidak percaya kalau Paijo bisa merampok macam tu, katanya salah cari kawan. Sejak Bang Sayid nikah lagi Paijo tidak pernah nongkrong bareng kita di sini."
__ADS_1
"Iya juga, terus kumaha?"
"Sejak berkawan dengan pemuda berandalan itu Paijo jadi sering ikut ngerampok, kalau tidak mau ikut katanya diancam akan dibunuh. "
"Ihh serem pisan atuh, harusnya Paijo lapor polisi aja."
"Macam baru kenal Paijo saja Kang Asep ini, dia itu kan penakut."
"Bang Togar tau tidak siapa yang mereka bunuh? Kapan itu kejadianya? "
"Kalau tidak salah sudah dua bulan yang lalu, dari kampung sebelah kita ini Kang, orang kaya yang punya tanah terlus dan katanya mereka cuman tinggal berdua di rumah sebesar itu, anak perempuan satu-satunya sudah pergi tidak tau kemana."
"Namanya siapa Bang?"
"Entah, aku pun kurang tau. Bini aku pasti lebih tau, soalnya aku dapat kabar dari dia awalnya."
Deg!
Bang Sayid yang sejak tadi mendengarkan percakapan Bang Togar dan Kang Asep sontak kaget mendengar korban perampokan Paijo itu. Entah kenapa hatinya yakin kalau mereka orang tua Sri.
"Di tahan dimana Paijo sekarang?"
"Katanya dirutan kota, apa Bang Sayid mau tengok dia?"
Tanpa menjawab pertanyaan Bang Togar, Dia langsung pergi mengendarai motor Honda keluaran terbaru miliknya yang baru saja dia beli.
__ADS_1