
Selama perjalanan menuju rumah Cik Nur, Sri terpana dengan pemandangan kota yang tertata rapi, bersih dan udaranya sejuk. Tapi tetap tak membuat dirinya nyaman tinggal disini, karna hatinya terpatri sama buah hatinya. Setiap mengingat Rizki, air matanya selalu menetes.
Cik Nur tidak banyak berbicara, mungkin karna tau aku masih terkendala bahasa, tapi jujur aku nyaman sama Cik Nur. Orangnya cantik, berkulit putih bersih, memakai hijb. Kayanya seumuran sama aku.
Setelah perjalanan kurang lebih 40 menit, akhirnya kita sampei di rumah dua tingkat,k sekeliling berdiri kokoh tembok yang tertutup tanaman anggur. Halaman rumah dipenuhi berbagai jenis tanaman hias, dan bagian luar pagar banyak pohon buah-buahan. Mangga, Apel, Rambutan sampai buah Tin pun ada. Sri sangan takjub dengan keasrian rumah Cik Nur, sungguh membuat nyaman orang yang memandang.
Samping rumah bederet beragam sayuran organik dan ada kolam ikannya juga.
"Sile masuk Sri,"
Sri hanya menjawab dengan anggukan.
Masuk kedalam rumah, disambut dengan nuansa kuning keemasan, kursi, tembok, perabotan yang lain hampir semuanya bernuansa senada.
"Kamar awak deka sini ye, sudah tau kan kerje awa ape?"
Tanya Cik Nur sambil membuka kamar dekat ruangan makan. kamarnya berukuran 4x4 meter, semuanya tertata rapi dan bersih.
"Iya Cik,"
__ADS_1
Sejak awal keberangkatan Sri sudah dikasih tau Bapak yang mengantarnya ke bandara kalau kerjaan Sri hanya merawat seorang Pria Lumpuh yang tidak tau seperti apa orangnya. Sri tidak ambil pusing karna bagi dia tujuannya hanya satu, mencari uang buat pengobatan .Rizki.
"Awak istirahat je, saye na pegi deka Bandar, bile awa nak makan ambi sendiri je."
Lagi-lagi Sri hanya menganggukan kepalanya.
Setelah kepergian Cik Nur, Sri langsung merebahkan badannya yang terasa lelah, tak berselang lama dia pun terlelap.
Suara azan dzuhur membangunkan Sri, tanpa fikir panjang diapun langsung mandi dan sholat.
"tok! tok! tok!"
Ketukan di pintu membuat lamunanku buyar.
Setelah terbuka ada Cik nur membawa sebuah bag dan memberikannya padaku.
"Pakai ini Sri, buat calling keluarga awak,"
__ADS_1
kaget bercampur seneng, belum kerja udah dikasi hp.
"terimakasih banyak Cik,"
Ucapku sambil mengambil hp itu.
"jom ikut saye," pintanya.
Sri di bawa naik tingkat dua, mata Sri lebih terpana lagi melihat isi ruangan yang di penuhi perabotan serba modern. Ada kursi pijat, meja bilyard, di sebelah ujung tersusun rapi buku-buku. Tanaman hias mengelilingi setiap sudut ruangan itu. ada dinding kaca, dan dari situ Sri bisa melihat kolam renang, meskipun tidak luas. dinding bagian luar terdominasi dengan kaca tebal, sehingga kita bisa melihat jelas keadaan diluar.
Hanya ada satu kamar tidur, kami pun menuju kamar itu, Cik Nur mengetuk dengan pelan dan masuk tanpa menunggu penghuni kamar itu mempersilahkan masuk, setelah pintu terbuka terlihat seorang pria sedang duduk membelakangi kami, sedang melihat pemandangan luar.
"Abang, permisi,"
Cik Nur berkata pelan dan terlihat sangat hormat.
Perlahan tapi pasti kursi roda itu berputar menghadap Sri dan Cik Nur, setelah menghadap seutuhnya Sri begitu terpana melihatnya, meskipun tertutup bulu lebat disekitar wajahnya tapi jelas tersirat wajah tampan tersembunyi di dalam sana.
Tanpa ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya hanya tatapan seolah tak suka dengan kehadiran kami.
__ADS_1