BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR94


__ADS_3

Tigs hari telah berlalu, habdphone Bang Sayid tidak terlacak juga, akhirnya dia memutuskan untuk mengganti dengan yang baru tapi memakai nomor lama. Baru saja di nyalakan, ada panggilan masuk dari kerabat jauhnya, setelah menerima panggilan itu, raut wajah Bang Sayid langsung berubah, matanya terbelalak, tangan kananya menutup mulut seolah menahan sesuatu,  tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulunya, tapi ekspresinya terlihat jelas kalau orang di seberang sana memberi kabar tidak menyenangkan.


Setelah panggilan terputus, Bang Sayid langsung pergi meninggalkan kantornya, padahal baru saja dia sampai di kantor itu.


Selang beberapa saat datanglah Nayla, dengan memakai atasan blazer berwarna merah, rok mini yang terlampau mini sehngga memperihatkan bongkahan lemak di pahanya, meskipun berkulit putih mulus, tapi terlihat kurang sedap dipandang, meskipun begitu, Nayla tetap konfiden dan angkuh melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja Bang Sayid, dia sengaja tidak mengabarkan kedatanganya, berniat akan memberi kejutan dan mengabarkan berita bahagia bagi dirinya, karena  Wicaksono menyerahkan posisi Ibunya sebagai CEO di peusahaan itu, sebagai pengganti ibunya.


Tapi sayang, justru dia menerima kekecewaan, karena suaminya tidak ada ditempat. Asistentnya pun tidak mengetahui kemana perinya, karena BAng Sayid keluar dengan tergesa tanpa meninggalkan pesan apa pun.


Kekecewaannya semakin menjadi setelah tau kalau nomor suaminya tidak aktif, dengan memarahi asistent Bang Sayid, Nayla pergi meninggalkan ruangan itu.


Dan di hari pertamanya dia menjabat sebagai CEO Bang Sayid tidak hadir dalam acara penyambutannya bahkan sampai sore saatnya puang kerja tidak muncul juga. Nayla terus berusaha menghubunginya tapi sayang nomor Bang Sayid tetap saja tidak aktif. Akhirnya dia pulang dengan penuh kekecewaan


Sesampainya di rumah hampir jam tujuh malam, dan berapa terkejutnya Nayla mendapati mobil suaminya sudah terparkir di depan rumah.


Kekesalannya semakin menjadi, dia memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Bang Sayid dengan menghantam bagian belakangnya.


"Bang! Bang Syaid!"


Dengan sekuat tenaga Nayla memanggil suaminya, tanpa kata sayang lagi.


Tapi tidak ada sahutan, setengah berlari dia menaiki tangga menuju kamarnya, saat ketika pintu terbuka, terlihat suasana kamar gelap gulita. Sambil terus memanggil nama Bang Sayid, Nayla menyalakan lampu kamar, dan di atas kasur Bang Sayid terbaring dengan selimut menutup seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Melihat itu Nayla langsung berlari dan berubah menjadi lembut.


"Abang sakit?"


Menarik selimut yang menutup kepalanya dan memegang dahi suaminya.


"Badan Abang demam, ayo kita ke rumah sakit, maafin Nay sudah teriak-teriak manggil Abang, harusnya kalau sakit kasih tau Nay,"


"Abang sudah minum obat, hanya ingin istirahat saja, jadi tolong jangan ganggu dulu ya Nay."


Masih dalam keadaan mata terpejam Bang Sayid kembali menutup kepalanya dengan selimut.


Setelah selesai makan malam, Nayla duduk di ruang keluarga sambil berusaha menghubungi Daddynya yang masih di luar kota tapi sama saja susah di hubungi.


Tiba-tiba dari arah belakang ada langkah kaki yang mendekatinya.


"Nay Sayiang, ini Abang bikinin susu coklat panas kesukaanmu."


"Abang sudah baikan? harusnya Abang istirahat saja, kenapa bikinin susu panas segala? ko Nay gak denger Abang turun tangga?"


"Kalau minum obat, istirahat sebentar, pasti cepet sehat. Abang ingin menebus kekesalan Nayla karena tidak memberi kabar hari ini."

__ADS_1


Menyerahkan susu coklat panas kepada istrinya.


"Thank's Honey, biasanya Mommy yang selalu buatin Nay susu coklat panas sebelum tidur,"


Dengan mata berkaca kaca Nay mengingat sosok Ibunya yang telah tiada.


"Sudah jangan sedih, kan ada Abang. Kalau Nay mau apa tinggal bilang, pasti akan Abang kasih."


"Nay sayang Abang,"


Memeluk erat suaminya.


"Ayo cepat di minum susunya, habiskan ya."


Nah mengangguk patuh menuruti keinginan Bang Sayid dan menghabiskan susunya.


"Honey, kenapa kepala Nay berat, padahal Nay ingin menghabiskan malam ini dengan bercinta sama Abang, tapi kenapa tiba-tiba kepala berat sama mata ngantuk banget." Memijit kepalanya.


"Kecapean kali Nay, makanya jangan mikirin Mommy terus, ya sudah sini Abang gendong ke kamar."


Tanpa sempat menjawab, Nayila tumbang jatuh ke kursi, Bang Sayid yang ada di harapanya hanya menatapnya dan tersenyum penuh kemenangan ke arah Nayla yang terkapar tidak berdaya kerena obat tidur yang Bang Sayid berikan.

__ADS_1


__ADS_2