BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR70


__ADS_3

Setelah mendengar rekaman itu, Putri benar-benar terpukul menerima kenyataan kalau ibu yang sangat dia sayangi celaka di tangan orang terdekatnya, dan lebih kagetnya lagi ternyata bukan jatuh dari tangga tetapi didorong dari balkon atas dekat kamarnya sama orang yang baru saja menyandang titel sebagai suaminya.


Sambil menangis tersedu, Putri memeluk tubuh Sandra yang ada di sampingnya.


"Maafkan Putri, tidak bisa menjaga Ibu dengan baik. Tolong bangun Bu, jangan biarkan orang yang telah membuatmu seperti ini bebas dari tanggung jawab.


Ibu harus kuat, cepat bangun Bu!"


Putri menggoyang-goyangkan badan Sandra, tetapi tidak ada respon sedikitpun.


"Ibu denger Putri kan? ayo bangun Bu, apa yang harus Putri lakukan? bangun!"


Masih berusaha membangunkan ibunya, tapi sayang usahanya sia-sia, Sandra seolah tidak memiliki keinginan untuk terjaga.


Setelah lelah menagis, Putri tertidur sambil memeluk erat sandra, saat itulah dari ujung mata Sandra keluar butiran bening mengalir membasahi pipinya.


**********


{Aku tau semua kejahatan yang telah kamu lakukan terhadap Sandra, sebelum aku yang membongkar kejahatanmu dan menyeretmu ke penjara, sebaiknya segera akui kesalahanmu dan serahkan diri ke kantor polisi secara sukarela . Kalau tidak! aku akan membuat sisa hidupmu seperti di neraka, dan membeberkan semua kejahatanmu, biar seluruh dunia tau siapa dirimu.}


Baru saja membuka matanya, Bang Sayid sudah mendapatkan pesan ancaman dari nomor yang tidak dikenal.


"Sial, siapa lagi ini! berani-beraninya dia mengancam Sayid!"

__ADS_1


Menerima ancaman seperti itu tidak membuat nyali Bang Sayid ciut, justru emosinya memuncak karena merasa dipermaikan, karena dia yakin tidak ada barang bukti yang bisa menjeratnya ke penjara. Berulang kali dirinya mencoba melakukan panggilan kepada nomor yang baru saja mengirimkan pesan, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya dia membalas pesan nomor itu.


{Siapa kamu? sebarangan saja kalau ngomong, jangan ngaco, aku tidak ada sangkut pauntnya dengan kecelakaan itu, kalau emang ada bukti coba tunjukan sini berengsek!"}


Tidak berselang lama, ada pesan suara masuk, dan begitu kagetnya Bang Sayid ketika dia play rekaman itu berisi penggalan pertengkaran dirinya dengan Sandra. Yang awalnya berfikir mungkin hanya orang iseng yang berniat memeras dan mengerjainya langsung terlihat gusar dan gelisah.


{Kamu siapa? jangan macam-macam!}


"Bagaimana bisa ada rekaman seperti itu? aku sudah pastikan tidak ada barang bukti, tapi kenapa orang ini bisa memiliki rekaman seperti ini, siapa dia? apa dia menyaksikan kejadiain waktu itu?"


Ancaman itu membuat rasa percaya diri Bang Sayid hilang seketika, dia tidak menyangka kalau ada bukti yang sangat jelas bisa menyeretnya ke penjara, padahal dirinya merasa tidak mungkin hal itu bisa terjadi.


Sejak hari itu Bang Sayid sering menerima teror dan ancaman dari nomor yang berbeda, dirinya sudah berusaha menyelidiki nomor-nomor itu, tapi sayang tidak ada informasi yang bisa mengantarkannya kepada si peneror, karena nomor yang selalu berganti dengan nama pendaftar yang berbeda, seolah dia tau akan diselidiki.


Dia juga sudah berusaha mencari barang bukti yang peneror kirim, Bang Sayid beranggapan Sandra lah yang merekam itu semua, meskipun awalnya merasa tidak mungkin Sandra merekam semua pertengkaran mereka, tapi mendengar penggalan suara dirinya bertengkar dengan Sandra di balkon, memupus keraguannya.


Hingga kecurigaannya mengarah kepada Putri si anak tiri, saat dirinya membesuk Sandra terakhir kali, dia menemukan hand phone jadul tergeletak di lemari tempat pakaian Sandra, dia bermaksud mengambilnya, tapi tiba-tiba Putri masuk.


Sejak saat itu target utama dia hanya Putri.


Malam disaat Putri pulang ke apartemen, Bang Sayid mengikutinya, waktu Putri memasukan kode akses masuk ke dalam apartemen dia berjalan melewatinya, mungkin karena memakai topi, jadi Putri tidak menyadari kehadiran ayah tirinya.


meskipun sekilas tapi Bang Sayid bisa mengetahui enam angka yang dimasukan Putri di kode akses itu. Putri hanya sebentar di apartemen, dia kembali pergi menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat.

__ADS_1


Setelah menunggu cukup lama, Bang Sayid yang tadi turun dan menunggu Putri pergi, segera naik kembali ke unit dimana Putri tinggal yang berada di lantai tiga. Dengan modal nomor seri yang dilihatnya sekilas, akhirnya Bang Sayid berhasil masuk dan mengobrak abrik apartemen itu. Dirasa apa yang selama ini dia cari tidak ada di tempat itu, kembali emosinya memuncak. Semua barang yang ada di sekitarnya dia lempar dan diinjaknya.


Saat dirinya berniat pergi meninggalkan apartemen itu, tiba-tiba Putri masuk, dan keduanya sama-sama memasang wajah kaget. Putri tidak menyangka kalau Ayah tirinya bisa masuk dan menghancurkan isi apartemen.


Sementara Bang Sayid yang merasa aksinya sudah ketauan, langsung berlari ke arah Putri dan membekap mulut Putri dengan tangan kanan, sementara tangan kiri memeluk tubuh Putri. Putri yang mendapat serangan itu secara mendadak tidak dapat menghindarinya, dia hanya bisa memberontak tapi percuma, tenaganya tidak bisa mengalahkan kekuatan Bang Sayid.


Diseretnya tubuh Putri, dan diikat di kursi belajar menggunakan kabel charger yang kebetulan sudah ada di sana. sementara mulut Putri disumpal tissue. kedua kakinya diikat menggunakan sabuk pinggang Bang Sayid.


Setelah merasa aman dan tidak akan mungkin bisa melepaskan ikatan itu, Bang Sayid duduk mengatur nafasnya yang kewalahan menghadapi tenaga Putri yang lumayan kuat.


"Dimana voice recorder itu?! kamu kan yang meneror aku selma ini?"


Bang Sayid tidak menerima jawaban, dia hanya melihat Putri yang terus saja memberontak berusaha melepaskan ikatanya.


"Terus aja kamu berontak, aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu tunjukan dimana rekaman itu kamu sembunyikan haha!"


"Sungguh malang nasibmu, kehilangan ibu, kehilangan rumah, semua aset yang ibumu punya telah jatuh ke tanganku, apa kamu mau nyusul ibumu? mau aku bantu?!"


Putri menatap nyalang Bang Sayid, kobaran kebencian terpancar jelas dari sorot matanya yang memerah. Berusaha mencaci maki Bang Sayid tapi yang keluar hanya geraman karena mulutnya tertutup tissue.


Melihat itu tawa Bang Sayid semakin kencang, dia tau kalau apartemen milik Putri kedap suara, jadi apa pun yang terjadi di dalamnya tidak akan terdengar ke luar kecuali pintunya terbuka.


"Kamu mau caci maki aku ya? ayo! jangan cuman ha hem ha hem aja hahaha!"

__ADS_1


Bang Sayid mendekati Putri, tangannya memegang tissue yang menonjol keluar dari mulut Putri.


"Aku hanya akan bertanya sekali lagi, jawab jujur! kalau enggak jangan harap bisa hidup sampai besok pagi, karena aku malas main-main, lebih baik kamu bawa mati dan bawa voice recorder itu sekalian bersama ibumu."


__ADS_2