
Di tempat yang berbeda, sore itu Sri berniat pergi menemui kampung orang tua Bang Sayid, dengan tujuan ingin mengetahui dimana Rizki dimakamkan. Dia bertekad tidak akan menemui Bang Sayid, dan melupakan keluarga itu termasuk dendamnya untuk menghancurkan Bang Sayid.
Sri berpikir Rizki pasti dimakamkan di TPU sekitaran rumah orang tua Bang Sayid.
Sehari sebelumnya dia sudah pergi ke kantor polisi dan meminta polisi menghilangkan garis kuning yang ada dirumahnya, dan berniat menemui orang yang telah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya.
Tapi setelah mendengar orang itu mati karena bunuh diri, perasaan Sri sangat lega dan bersyukur, pelaku itu sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Setelah urusanya selesai, Sri pergi meninggalkan Kantor polisi menggunakan mobil Terios miliknya yang dulu sempat dia tinggalkan karena memilih pergi dari rumah untuk menikahi Bang Sayid.
Sampai di pintu masuk desa Bang Sayid, Sri sekilas melihat sosok yang sangat dia benci melaju dengan cepat menggunakan mobil Honda Civik biru metalik.
Meskipun sudah lama tidak bertemu, tapi Sri hapal dengan jelas wajah dan struktur tubuh orang yang telah memberikan luka mendalam untuknya.
__ADS_1
Dulu setiap lihat sosok itu meskipun hanya sekilas pasti akan membuat hatinya dag dig dug dan ingin berdekatan, tapi sekarang sungguh bertolak belakng, rasa benci yang berusaha dia lupakan kembali merasuk kalbu dan tambah membara.
Niatnya yang semula akan melupakan dendam dan melanjutkan hidup telah sirna, berbah seketika.
"Ternyata dia disini hidup senang dan bergelimang harta, sementara aku disana tersiksa, dan Rizki kesayanganku juga pergi gara-gara lelaki itu!"
Sri bergumam penuh kebencian.
Sri kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan awalnya datang ke desa itu, setelah memarkirkan mobil, Sri berjalan memasuki pintu TPU, dan matanya langsung tertuju pada sosok anak perempuan yang sedang menangis terisak di atas kuburan yang masih merah.
Dia bisa merasakan kesedihan gadis itu, karena ocehan dalam tangisnya. Baru dirinya mau mendekati si anak, Tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada seorang Kake tua yang membujuknya untuk pulang. Dan setelah cukup lama membujuk, akhirnya si anak pergi beranjak meninggalkan kuburan yang bertuliskan Kartika dengan masih terisak.
Sungguh Sri tidak tega mendengar perkataan Si anak yang terdengar jelas saat Sri baru saja memasuki area pemakaman itu.
__ADS_1
"Bagaimana bisa dia menerima kenyataan kehilangan seorang ibu diusia yang masih sangat muda, ditambah menerima fakta kalau Ayah yang selama ini dikira Ayah kandungnya ternyata bukan. Dirinya saja yang sudah berumur, menerima kenyataan ditinggalkan orang yang sangat disayanginya bisa rapuh dan hampir melakukan hal gila dengan mengakhiri hidup.
Keika si anak melewatinya, Sri terdiam menatap wajahnya, jiwa keibuan Sri meronta dan ingin memeluk gadis berwajah sendu itu. Sementara si anak seolah tidak menyadari kehadiran Sri, dia hanya tertunduk dan berlalu pergi meninggalkan TPU.
Sri kembali melangkah masuk lebih dalam mencari makam Rizki, matanya terus bergerilya mencari nisan bertuliskan nama anaknya, dan setelah hampir mengitari seluruh pemakaman, tiba-tiba dia menemukan nama itu, dengan bin Sayid.
Sungguh hati Sri makin tersayat karena makam itu sangat tidak layak, tidak ada batu nisan di sana, hanya sepenggal papan lapuk dengan tulisan seadanya berbeda dengan makan di sekelilingnya yang terlihat kokoh dengan batu nisan yang beraneka ragam.
Sri berlari dan bersimpuh di depan makam itu, tanganya membelai rerumputan liar yang tumbuh subur diatasnya. Tangisnya pecah lebih keras dari tangisan anak perempuan tadi.
"Maafkan mama anakku sayang, di saat terakhirmu mama tidak bisa memeluk dan menemanimu, pasti kamu kesakitan, maafkan mama nak!"
Tangisnya meraung, dadanya dipukul pukul.
__ADS_1