
Kartika masih menangis dalam pelukan Wan Abrada, hatinya hancur menerima kenyataan dihianati, meskipun Kartika sadar kalau selama ini dirinya melakukan hal yang sama tapi melihat langsung penghianatan suaminya rasa kecewa dan benci bercampur jadi satu.
Tiba-tiba tubuhnya ambruk, untung saja Wan Abrada sigap menopang tubuh Kartika. Setelah mencoba membangunkannya berulang kali tapi tidak ada respon, Wan Abrada langsung membawa Kartika ke Klinik yang ada di Bandara. Setelah pemeriksaan, ternyata Kartika harus menerima layanan khusus terkait penyakit kangker yang dideritanya.
Sore hari Kartika lanjut dibawa ke rumah sakit ternama di Kota S dan masuk VICU, karena kondisinya drop.
Wan Abrada dengan setia menemani, bahakan dia tidak memeprdulikan kondisinya sendiri yang belum makan sejak sampai Kota S. Pikiranya fokus hanya Kartika, yang sudah enam jam belum juga sadarkan diri, Kartika seolah enggan terjaga.
Hingga malam menjelang kondisi Kartika makin kristis, dokter sudah menyampaikan hal terbutuk kepada Wan Abrada yang dikira suaminya.
Jika sampai tengah malam belum juga sadarkan diri Kartika mungkin saja tidak bisa tertolong.
__ADS_1
Mendengar itu Wan Abrada sampai memohon untuk memberikan pelayanan terbaik agar Kartika bisa bangun.
Dokter menyarankan agar Wan Abrada banyak-banyak berdoa.
Semua orang pasti mengira kalau Wan Abrada suaminya, karena terpancar rona kesedihan dari lelaki tinggi besar dan berwajah teduh itu.
Sungguh beruntung Kartika dicintai orang yang rela berkorban apa saja untuknya. Tapi sayang, yang ada dihati Kartika hanya Bang Sayid seorang, tidak peduli pengorbanan Wan Abrada seperti apa tetap saja tidak bisa menggantikan posisi Bang Sayid.
Selang beberapa saat perawat dan dokter berdatangan.
Kartika segera ditangani, selang beberapa waktu dari alat pengukur detak jantung terdengat bunyi tit! panjang.
__ADS_1
Wan Abrada sudah bisa menebaknya, meskipun dokter belum nengatakan apa-apa, tapi melihat itu sudah jelas kalau Kartika telah pergi untuk selamanya, meninggalkan dirinya dinegara asing yang baru dia datangi.
Tidak malu dengan tubuh tinggi besar, Wan Abrada menangis di pojok kamar tempat Kartika dirawat. Perawat dan dokter terdiam seolah merasakan kesedihan Wan Abrada, ruangan itu begitu sepi meskipun banyak orang. Setelah menutup seluruh tubuh Kartika mereka pergi meninggalkan kamar Kartika , hanya dokter saja yang mendekatinya.
Meskipun Wan Abrada tidak bisa mengucapkan kata-kata, tapi dia memahami semua perkataan dokter yang menerangkan kalau Kartika dinyatakan meninggal karena penyakit kangker yang dideritanya, kondisinya bisa langsung drop karena si penderita tidak memiliki semangat hidup.
Setelah menjelaskan semuanya dokter muda berhijab itu pergi meninggalkan Wan Abrada yang duduk terpaku menatap jenazah Kartika.
Dia mulai bingung harus berbuat apa lagi, rumah Kartikapun dia belum tau. Dengan lemah dia melangkahkan kakinya mendekati wanita yang selalu memberikan kebahagiaan dengan canada tawa dan sifat periangnya.
Wan Abrada menarik perlahan kain putih yang menutup wajah kartika, sedikit demi sedikit wajah yang mulai memucat itu terlihat jelas menujukan raut wajah seakan menahan sakit luar bisa, melihat itu air mata Wan Abrada kembali membasahi pipinya.
__ADS_1
Dia bisa merasakan keperitan hati Kartika diakhir hayatnya, bukan saja karena penyakit kangker yang dideritanya, tapi karena penghianatan suaminya yang dia lihat dengan mata kepala sendiri.