BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR19


__ADS_3

Dada sesak, nafas pun terasa berat. Pandangan kabur dan Sri langsung roboh tidak sadrkan diri.


"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga Sri. Hampir dua jam kamu tidak sadarkan diri."


"Untung tadi Tuan Embara sudah memanggil dokter pribadinya, katanya kamu kecapekan sama banyak fikiran."


"Apa yang kamu rasakan Nduk? minum ya,"


Aku hanya bisa menggelengkan kepala, rasanya sesak di dada ini masih menghimpitku, dan tangisku pecah.


Pernyataan ibu mertuaku membuat aku tak ingin lagi menjalani hidup, beliau memberi tahuku kalau Rizki sudah meninggal seminggu yang lalu. Kenapa Bang Sayid bisa setega itu membohongiku. Baru saja kemaren dia bilang kalau Rizki anak kesayanganku baik baik saja, padahal kenyataanya dia telah pergi untuk selamanya.


"Aku ingin menyusul anakku saja, tidak ada lagi alasanku untuk hidup."


"Kenapa Nduk? biar lega cerita sama ibu, siapa tau bisa bantu."


Bu titi membelai rambut Sri, bukanya diam tangisan nya malah semakin menjadi jadi."


Sri memeluk Bi titi dengan erat, dan tanpa mereka sadari sososk pria tinggi mendengarkan mereka dari balik pintu kamar Sri, pria itu hanya tertegun tanpa berani masuk.


"Sudah Nduk, mending kamu minum dulu habis itu sarapan. Kalau sudah tenang nanti bisa cerita sama Ibu semuanya ya."


Sri melepaskan pelukannya, dia tidak ingin minum apa lagi makan. Yang dia rasakan hanya kesedihan dan keperitan yang mendalam.


"Saya mau sendiri dulu ya Bu."


"Iya Sri, tapi jangn lupa kamu makan itu ya."

__ADS_1


Menunjuk meja rias yang sudah ada segelas susu dan sepiring nasi lengkap dengan lauknya.


"Iya Bu."


Menjawab dengan lirih.


Sejujurnya Bu Titi tidak tega meninggalkan Sri sendirian, tapi karna permintaan Sri sendiri dia pun terpaksa keluar kamar.


"Eh Tuan Embara."


Bu Titi terperanjat ketika dia membuka pintu kamar Sri ternyata ada tuanya berdiri tegap menghadap pintu.


"Macam mana kabar dia Bu?"


"Masih menangis Tuan, Sri minta sendiri dulu."


Embara berlalu meninggalkan Bu Titi yang masih kaget dengan kehadiran tuanya itu.


*******


Sepeninggalnya Bu titi, Sri hanya menangis dan memanggil manggil Rizki.


Rasa penyesalan dan bersalah membuat hatinya semakin sakit, hanya kata "seandainya" yang menari dibenak Sri.


Seandainya tidak meninggalkan Rizki, seandainya tidak menikahi Bang Sayid dan lebih mendengarkan kedua orangtuanya, dan masih banyak lagi kata seandainya.


Dia menatap foto Rizki yang ada di gawainya, tangan ya tidak berhenti mengelus layar gawai itu.

__ADS_1


"Maafkan Mama anaku sayang, di saat terakhirmu mama tidak ada di sampingmu, tolong jangan benci mama Nak,,"


"Ajak mama sayang, tidak ada gunanya mama hidup kalau kamu pergi meninggalkan mama."


"Kembalilah Rizkiku sayang!"


Tangis Sri pecah lagi, dia tidak lagi perduli berada dimana dan sebagai apa dirumah itu.


"Mama jahat ya Nak, sampai kamu ninggalin mama di sini sendiri."


"Tuhan, tolong ambil nyawaku juga, akus tidak ingin hidup lagi."


Sri pun kembali menangis, dan pingsan lagi. Tapi tidak ada satupun yang mengetahui kalau Sri terkapar tidak bergerak. Karna Bu Titi belanja ke pasar dan Embara berada di kamar nya seperti biasa. Sementara Cik Nur pergi keluar kota bersama anaknya sudah sejak dua hari yang lalu.


********


Tok!


Tok!


"Sri! Sri! buka pintunya."


"Ade ape Bu?"


"Ini tuan, anu Sri belum keluar juga dari tadi lagi, Ibu khawatir kalau terjadi apa apa."


Dengan terpaksa Embara mendobrak kamar Sri, dan setelah pintu terbuka mereka menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Sri tergeletak di lantai bersimbah darah.

__ADS_1


__ADS_2