
"Mbah Rekso guru spiritual yang selama ini membantu melancarkan segala keinginanku."
"Bisa Abang antar aku menemuinya?
Bang Togar mulai terhasut dan menginginkan hal yang sama seperti Bang Sayid.
"Beres, kapanpun Abang mau, aku siap antar. Sudah jangan bahas itu lagi, sekarang kita nikmatin malam ini dengan bersenang-senang."
***********
"Bang Sayid!"
Sandra memanggil calon suaminya yang telah pergi sekitar dua jam lalu, dia hanya menemukan sebuah pesan di hand pohonnya yang mengatakan kalau Bang Sayid akan menyelesaikan masalah penting di perusahaan.
Baru saja mau membalas pesan itu, tiba-tiba ada panggilan masuk tanpa nama.
"Hallo, dengan siapa?"
"Assalamuallaikum tante, bagaimana kabarnya? saya Sri."
__ADS_1
"Waalaikumsallam, Sri? siapa ya?"
"Masa tante lupa? Sri Gayatri, anak tunggal Abah dan Ambu Burhanudin."
"Owalah, kamu ternyata? bagai mana kabar paman dan bibi sehat?"
"Abah sama Ambu meninggal saat terjadi perampokan."
"Apa? kenapa kamu baru hubungi Tante? kapan kejadianya?"
"Sekitar sebulan yang lalu."
"Iya Tante, terimakasih banyak."
"O iya Sri, besok acara pernikahan Tante, tapi diadakan di bali tempat nenek buyut kita lahir kamu harus datang ya."
"Akan Sri usahakan Tante, sekarang Sri pamit dulu mau mandi."
"Ok Sri, jaga diri baik-baik kalau sudah beres acara di sini Tante pasti main kerumahmu."
__ADS_1
"Iya Tante, Sri tunggu ." Panggilanpun terputus.
***********
"Sandra? bukanya dia saudara sepupu dari abah? kenapa Abah mencoba menghubungi nomor tante Sandra dipanggilan terakhirnya?"
Sri menemukan hand phone jadul Abah yang tergeletak dibawah kasur bagian bawah dekat tiang kasur, secara tidak sengaja. Setelah terbangun karena bermimpi kepalanya dielus Abah sama Ambu, dirinya berniat mandi lanjut sholat ashar, tapi saat hendak melangkah keluar kakinya terhantuk sesuatu dan ketika di lihat ternyata sebuah band phone.
Dan begitu sedihnya Sri ketika banyak panggilan keluar untuk dirinya, sejak setahun yang lalu setelah Sri memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka dan lebih memilih Bang Sayid. Sayangnya nomor yang dulu sudah Bang Sayid buang sehingga panggilan itu tidak mungkin bisa sampai kepada Sri.
Rasa bersalah semakin menyiksa kalbu Sri, seandainya saja dulu tidak terlalu menurut apa kata Bang Sayid, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini, dipeluknya hand phone itu.
Tidak banyak kontak yang Abah hubungi, hanya nomor dirinya dan Sandra yang pernah Abah hubungi, sisanya panggilan masuk dari orang-orang kenalan Abah.
Sri tidak terlalu mengenal dekat Sandra, karena jarak yang lumayan jauh dan kesibukan masing-masing membuat hubungan saudara yang memang sudah jauh semakin jauh lagi, bisa dihitung dengan jari pertemuan keduanya, jadi Sri samar mengingat sosok Sandra seperti apa dan bagaimana.
Dengan penasaran dia coba menghubungi Sandra, dan ternyata panggilan itu langsung mendapat respon. Meskipun awalnya Sandra tidak mengenali namanya, tapi setelah nama kedua orangtuanya disebutkan langsung mengingat Sri.
Dan ternyata Tante Sandra tidak mengetahui musibah yang menimpa kedu orang tuanya.
__ADS_1
Lantas kenapa panggilan terakhir di hand phone itu Sandra? apa mungkin Abah berusaha menghubungi tapi tidak sempat terangkat? dan kenapa dirinya bisa menemukan hand phone itu? apa tidak ada satu orangpun dari penyidik yang menemukannya? padahal siapa saja bisa dengan mudah melihat hand phone itu seandainya menunduk ke bagian bawah ranjang. Begitu banyak pertanyaan di minda Sri yang membuat kepalanya terasa berat dan pusing.