BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR79


__ADS_3

Penglihatan Bang Sayid memang tidaklah salah, Sri ternyata hadir diacara resepsi pernikahan Bang Sayid dan Nayla. Dia hadir bukan sebagai Sri, melainkan Mrs. Gayatri. Karena Nayla sengaja mengundang orang yang merancang baju pengantinya untuk hadir, tujuanya untuk mempermalukan Sri.


Rasa kesalnya terhadap Mrs. Gayatri yang selalu tidak pernah ada di saat dirinya mendatangi boutique milik Sri membuat Nayla berfikir seolah Mrs. Gayatri tidak menghargai dirinya yang seorang anak pejabat.


Sri pun awalnya tidak berniat menghadiri pernikahan mereka, dia memutuskan untuk menjauh dari kehidupan Bang Sayid, karena setelah melihat kondisi Putri, tujuan awalnya yang ingin membalas dendam jadi berubah, Sri hanya ingin merawat Putri dan melihat gadis malang itu menjalani kehidupan yang bahagia tanpa harus bertemu dengan orang yang telah menghancurkannya.


Tetapi entah kenapa hati kecilnya berontak, Sri tidak ingin ada lagi korban kejahatan Bang Sayid, dan karena itu Sri akhirnya memutuskan untuk hadir di acara resepsi Bang Sayid dan Nayla.


Sri sekarang memang jauh berbeda dengan Sri yang dulu Bang Sayid kenal, wajah yang sejak dulu terlahir rupawan semakin glowing setelah rutin melakukan perawatan.


Gaun berwarna peach, dengan belahan di punggung sehingga memperlihatkan kulit putih mulus, rambut panjang ikalnya sengaja dia gerai, meskipun dengan riasan sederhana, tetapi kecantikanya terpancar dan sanggup menghipnotis siapa saja yang memandangnya.


Setelah menunjukan kartu undangan kepada security yang menjadi syarat untuk bisa masuk ke acara pernikahan itu, Sri berjalan dengan anggun memasuki halaman depan yang dijadikan tempat resepsi.

__ADS_1


Matanya berkaca-kaca melihat kemewahan pernikahan Bang Sayid yang sekarang, ingatannya kembali ke dua tahun yang lalu saat dirinya dinikahi Bang Sayid, sungguh pernikahan yang jauh dari kata layak, karena mereka menikah di KUA, tidak banyak yang hadir, hanya orang tua Bang Sayid, dan kerabatnya yang berjumlah lima orang, sementara dirinya diwakilkan kepada wali hakim, karena kedua orang tuanya tidak pernah merestui pernikahan Sri dengan Bang Sayid.


Sri juga merasa tidak habis pikir, kenapa dulu bisa rela menentang kedua orang tuanya, padahal sebelum bertemu Bang Sayid dia tidak pernah sekalipun berani menentang apa lagi sampai berani pergi dari rumah hanya karena tidak ada restu dari keduanya, penyesalan itu kembali membuat dada Sri sesak.


Matanya semakin memerah ketika dia melihat sosok yang tengah dibayangkanya berdiri dengan senyum merekah, terpancar jelas kebahagiaan di wajahnya yang memang bisa memikat setiap perempuan.


Dadanya bergemuruh, kebencian yang selama ini dia coba kubur kembali membara, rasa sakit hatinya yang sudah mulai memudar kembali memenuhi setiap inci tubuhnya, kematian kedua orang tua dan Rizki buah hatinya menambah dendam yang sudah meredup kembali membuncah.


Sri sadar, saat dirinya terpaku memandangi kedua mempelai di kursi pelaminan, Bang Sayid pun menatap ke arahnya, itu juga yang membuat Sri memutuskan untuk pergi.


Setelah mengambil segelas syirup Sri pergi ke arah samping, karena terlihat sepi, sejujurnya Sri ingin segera meninggalkan rumah mewah itu, tapi entah kenapa kakinya enggan beranjak dari tempat itu, bahkan dia merasa ingin mengetahui lebih dalam lagi orang yang senasib dengan dirinya. Yang awalnya berniat menenangkan diri, tetapi kakinya terus berjalan menelusuri halaman samping rumah mewah itu menuju sebuah lorong seperti labirin.


Meskipun mencoba mengontrol diri untuk berbalik arah, tetapi kakinya seolah bukan milik Sri, dia terus masuk ke lorong yang terbentuk dari bunga merambat, dan sampailah Sri di ujung lorong, betapa terkejutnya Sri melihat pemandangan yang ada di hadapannya, Sri melihat begitu banyak pria berpakaian compang caping sedang mengangkat batu dari arah dalam bangunan tua dari bambu. Sungguh berbanding terbalik apa yang ada depan sana dengan yang Sri lihat sekarang, mereka seolah tidak pernah diberi makan, tubuhnya kurus kering, mata cekung, dan lusuh.

__ADS_1


Sri berniat memutar arah kembali ke acara pernikahan Bang Sayid, tetapi lagi-lagi kakinya menolak. Justru dia semakin mendekat ke arah orang-orang yang sedang sibuk bekerja, tidak ada suara dari mulut mereka, bahkan saat Sri semakin mendekati mereka seolah tidak perduli, hanya fokus mengangkat batu-batu besar dari arah dalam bangunan kayu.


"Permisi Pak, saya tersesat, boleh tau ini di mana? dan sedang apa?"


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Bapak tua yang Sri tegur, memandang pun tidak, seolah Sri tidak terlihat orang-orang yang ada di sana.


Sri mencoba melambai-lambaikan tangan di depan orang yang melewatinya, tetapi tetap saja tidak ada respon, karena rasa penasaran, akhirnya Sri masuk ke dalam bangunan dari kayu tempat mereka keluar masuk.


Anehnya Sri berjalan diantara orang-orang itu, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menegur, bahkan melirik pun tidak ada, seolah keberadaanya tidak terlihat.


Setelah berjalan hampir sepuluh menit, akhirnya Sri sampai di depan pintu gerbang yang terbuat dari kayu, dan apa yang ada di hadapannya semakin membuat Sri terperanga, semua orang sedang menggali dinding tanah, sudah lumayan luas yang mereka gali, dan membentuk lorong-lorong, sebagian ada yang mengayak, dan mengangkat batu berwarna hitam, kuning dan putih.


Dia masih tidak habis pikir bisa ada tempat seperti penggalian batu bara dan emas di samping rumah Wicaksono. Belum habis rasa kagetnya, Tiba-tiba dia melihat sosok yang sangat dibencinya berjalan mendekat ke arahnya diikuti Wicaksono.

__ADS_1


__ADS_2