
Akhirnya setelah melakukan pencarian selama hampir sepuluh jam, Sri mendapatkan kabar ada pasien atas nama Putri di rumah sakit umum yang letaknya lumayan jauh dari apartemen tempat Putri tinggal, salah satu anak buah Sri yang mengabarkan temuan itu.
Senja itu meskipun cuaca kurang bersahabat, Sri memutuskan mendatangi rumah sakit yang disebutkan tadi, untuk memastikan orang yang selama ini dia cari benar adanya. Jarak yang ditempuh lumayan jauh, hampir lima jam perjalanan, belum lagi jalur yang dilalui lumayan memacu adrenalin, karena rumah sakit itu letaknya di pedesaan di bawah kaki gunung.
Untungnya Sri mahir mengendarai mobil, jadi medan seterjal apapun dapat dia lewati dengan mudah, meskipun sempat vakum selama menikah dengan Bang Sayid tidak pernah memegang setir, tapi keahliannya telah mendarah daging karena dirinya sering dilatih Abah sejak usianya masih dini.
Penerangan sangat minim, ditambah jalanan yang lengang karena tidak banyak kendaraan menuju desa yang dia tuju membuat Sri kesulitan mencari keberadaan rumah sakit umum yang akan dia datangi, rumah penduduk yang dia lewati pun jaraknya berjauhan, terlihat sepi dan lengang dengan penerangan yang temaram, selama dirinya memasuki perkampungan itu dia tidak menemukan satu orangpun berada di luar rumah.
Di layar hand phone terlihat titik dimana letak rumah sakit itu hanya berjarak satu meter lagi, tetapi setelah pas di titik yang dia tuju tidak terlihat bangunan rumah sakit, yang ada hanya sebuah bangunan tua dengan design mirip rumah ala Belanda, dengan lampu temaram di sekelilingnya. Meskipun bangunan itu terletak di pinggir jalan, tetapi karena tidak ada lagi bangunan lain di sekelilingnya membuat Sri sedikit ragu untuk masuk. Di tambah plang yang sudah lapuk dan tulisan yang ada di papan itu sedikit pudar memaksa Sri harus turun dari mobilnya dan melangkah mendekatinya untuk memastikan tulisan yang ada di papan. Tidak ada satu orangpun terlihat di sekekiking bangunan itu, layaknya rumah penduduk yang Sri lewati sebelumnya, terlihat sepi seolah tidak ada kehidupan, mungkin karena waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam sehingga suasana sangat sepi dan mencekam, ditambah angin dingin yang menusuk kulit membuat tubuh Sri terasa menggigil, dia berdiri mematung di depan plang yang tulisanya samar terlihat.
"RUMAH SAKIT UMUM DESA PANCA"
MELAYANI 24 JAM
Sedikit ragu Sri melangkahkan kakinya ke dalam bangunan tua yang sudah lapuk dimakan usia, pintu masuk terbuat dari kaca dengan prime besi yang sudah berkarat. Baru saja tangannya memegang tuas pintu, tiba-tiba dari arah dalam ada yang menarik tuas yang Sri pegang, dan pintu pun terbuka.
__ADS_1
Sedikit kaget bercampur bahagia, Sri menyapa orang yang ada di hadapannya.
"Permisi Mbak, ruang informasi sebelah mana ya?"
"Cari siapa ya?"
Bukanya menjawab pertanyaan Sri, wanita yang memakai rok putih dengan atasan jaket hitam sepinggang malah balik bertanya.
"Saya cari pasien atas nama Putri, yang mengalami kecelakaan hanyut ke sungai."
" Owhh, silahkan ikut saya, mohon maaf di rumah sakit ini kalau sudah jam sembilan malam, ruang informasi sudah tutup, pasti Mbak bukan warga sini ya?"
"Iya Mbak, saya bukan warga sini, ko Mbak bisa tau?"
Sri berusaha memancing lawan bicaranya untuk menceritakan seperti apa desa yang didatangnya.
__ADS_1
"Saya sudah bisa tebak, kalau warga sini mana mungkin lewat pintu depan, pasti langsung masuk lewat pintu samping menuju ruang rawat inap atau ruang perawatan. Karena kekurangan tenaga medis dan perawat, jadi kalau ada pasien darurat di malam hari para warga sudah tau harus masuk lewat mana.O iya perkenalkan saya Widuri, perwat yang jaga malam ini, ada tiga orang tapi yang dua sedang kontrol ke kamar pasien."
Widuri membuka jaketnya memperlihatkan tag name yang ada di dadanya, sambil menyodorkan tangan.
"Saya Sri, bagaimana keadaan pasien atas nama Putri?
Menjabat tangan Widuri, dan langsung ke intinya, karena dia merasa penasaran dengan pasien Putri yang ada di rumah sakit itu.
"Pasien Putri sudah ada di sini sejak tiga bulan yang lalu, dia ditemukan warga di tepi sungai, dengan luka di kepala yang cukup serius, sepertinya luka itu yang membuat dia koma selama hampir tiga bulan ini, dan alhamdulillah baru tadi siang dia sadar. Tapi sayang, kondisinya tidak baik-baik saja, meskipun sudah sadar tapi dia tidak bisa mengingat siapa dan apa yang menimpanya sampai bisa di rawat di rumah sakit ini."
"Maksudnya Putri hilang ingatan?"
"Iya, itu bisa terjadi karena luka di kepalanya sangat parah, bahkan kami pikir dia tidak akan bisa bertahan, dan dokter menyarankan agar semua alat bantu yang terpasang besok siang akan dilepas, karena tidak ada wali yang menanggung biaya perawatannya, rumah sakit kami pun tidak sanggup lagi menanggung semua biaya yang lumayan besar, tapi sungguh diluar dugaan, dia bisa sadar disaat semuanya sudah mulai menyerah."
Sri mendengarkan semua penjelasan Widuri sambil terus mengikuti langkah kaki sang perawat yang menelusuri setiap ruangan yang ada di bangunan itu, meskipun terbilang tua, tapi isi di dalamnya berbanding terbalik dengan yang terlihat di luar, semua peralatan, kursi, meja, bahkan kasur pasien pun terlihat masih baru dan semuanya terawat dengan baik. Dan di dalam kamar rawat inap banyak pasien dan orang yang menjaganya pun lebih dari satu.
__ADS_1