
"Ada kemalangan yang berlaku terhadap Inspectur Jendral Yaser Ahmad dan keluarge di Singapura, dan dorang semua tak tertolong."
"Ape awak cakap? bile mase?!
wajah Embara terlihat menegang, rahanya mengeras. Sri yang tidak memahami sepenuhnya perkataan polis itu bisa menyadari kalau ada sesuatu yang tidak baik-baik saja, karena sikap Bu Titi terlihat sedih dan gusar.
" Semalam,"
"Ape sebab musabab bise terjadi hal macam tu?"
"Kemalangan pesawat, jenazah dorang nak dikebumikan secara militer, awak kene hadir esok pagi."
Embara hanya terdiam.
"Saye serahkan semue berkas dan barang milik almarhum kepada awak, kite orang nak pamit."
Ketiganya berdiri lalu membungkuk dan meninggalkan Embara yang masih tertegun.
"Sabar Tuan, Ibu turut berduka cita,"
Bu Titi terisak dan berlinangan air mata.
Melihat itu Sri faham kalau ada berita duka, dan dia sekarang memahami situasinya.
__ADS_1
Tanpa menjawab perkataan Bu Titi, Embara berlalu sambil membawa kotak berwarna coklat yang tadi diberikan ketiga polisi itu.
"Bu ada apa?"
"Cik Nur, Sri"
"Kenapa Cik Nur?"
Sri tidak sabar mendengar kelanjutan perkataan Bu Titi yang terhenti karena tangisnya pecah.
"Cik Nur kecelakaan pesawat, anak dan suaminya meninggal semua Sri."
"Apa Bu? kapan?"
"Terus jenazahnya mana Bu?"
"Mereka mau dimakamkan secara militer, jadi gak di bawa pulang kesini Sri."
"Jadi kerjaanya suami Cik Nur polisi ya Bu?"
"Kalau lihat pakaian dan pangkatnya, sepertinya dia agen khusus Sri, makanya jarang ada di rumah dan terkesan misterius, padahal Ibu dulu mikirnya suami Cik Nur itu mafia."
"Terus kita gimana Bu? dateng gak ke sana?"
__ADS_1
"Gimana Tuan Embara aja Sri, kasihan dia ya, hidupnya sekarang sebatang kara hiks."
Ternyata benar, di atas langit masih ada langit. Sri merasa dirinya paling sengsara dan tidak beruntung di dunia ini, padahal masih banyak orang yang senasib, bahkan lebih dari dirinya pasti banyak.
**********
Setelah sholat Dzuhur Sri berniat mengantar makan siang, tapi baru saja kakinya melangkah ke arah dapur dari belakang Embara menghampirinya.
"Panggil Bu Titi, ada hal penting nak saye cakap dekat korang."
Setelah menjawab dengan anggukan Sri langsung ke dapur mencari keberadaan Bu Titi, dan selang beberapa waktu keduanya datang dan duduk di meja makan berhadapan dengan Embara.
"Saye mohon maaf bile selama Bu Titi dan Sri tinggal dekat sini tak nyaman dengan perlakuan saye dan keluarga, saya ucap banyak-banyak terimaksih dekat korang semua dah sudi merawat saye terutama Sri."
"Saye dah putuskan nak pergi ke luar negri, dan tak lagi tinggal dekat sini, jadi awak berdue boleh balik dekat Indonesia bile-bile mase. Semua saye urus kepulangan korang, dan masing-masing boleh pemutusan gaji 10.000 ringgit."
"Maafkan kami Tuan, kalau kerje kite orang tak baik. Kami senang tinggal di sini bisa mengenal keluarga Tuan, diberi kesempatan bekerja dan diperlakukan sangat baik. Kami juga turut berduka cita atas kepergian Cik Nur sekeluarga, Tuan Embara yang sabar."
"iye Bu, terimakasih banyak, sekali lagi saye mohon maaf tak bise tinggal dekat sini, sebab rumah ni terlalu banyak kenangan dengan almarhumah."
"Iya Tuan, tak ape. Lanjutkan hidup Tuan di tempat baru dan berbahagialah di sana."
Bu Titi menggenggan erat jemari Embara, sementara Sri hanya diam karena kurang memahami.
__ADS_1