BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR65


__ADS_3

Setelah sampai di lantai atas, keduanya langsung memasuki ruangan yang berisi banyak monitor. Satu diantaranya mengambil voice recorder, dan menyalakanya.


"Kita ke lantai dua, kata Bos barang itu harus segera ditemukan, kalau enggak nyawa kita taruhanya."


Seorang bertubuh tinggi besar membuka pembicaraan.


"Ini sudah ke tiga kalinya kita mendatang rumah ini, tapi barang itu tidak pernah kita temukan, jujur saja rumah ini terlalu menakutkan."


"Lebih menakutkan Bos kita, kalau dia berucap selalu jadi kenyataan. Salah kita juga sudah menghabiskan uang yang dia berikan, jadi kita belum bisa lepas dari tugas Bos."


"Aku yakin barang itu memang tidak ada, bos saja yang terlalu parno."


Si kecil kurus menimpali.


Dua orang yang ada diruangan lantai dua saling berpandangan, senyum menyeringai terlihat menghiasi wajah cantik keduanya.


"Bos yakin kalau anak dari istrinya yang dia bunuh memiliki bukti atas kejahatannya, katanya dia sering menerima ancaman dan selalu dikirimi suara saat pertengkaran terakhir kali dengan mendiang istrinya, dia berfikir kalau bukti itu pasti ada di rumah ini, karena saat dia cek ke apartemen anaknya tidak menemukan apa pun."


si tinggi besar menerangkan.

__ADS_1


Keduanya mulai menaiki tangga, ke lantai dua.


"Bukanya waktu itu Bos juga berencana membunuh anak tirinya? padahal sayang ya, anaknya cantik."


Si kurus kecil melihat foto keluarga yang ada ditangga.


"Mana mau Bos kita sama bocah ingusan gak berduit, yang dia incar perempuan berduit, tidak perduli gadis atau janda, tua sekalipun bagi dia tidak masalah asalkan kaya raya ha, belum sehari istrinya mati, dia malah mau kawin lagi sama anak pejabat, apa gak luar bisa Bos kita itu, Ha! "


Suara tawa si tinggi besar memecah keheningan malam.


"Hush, pelankan tawamu itu, nanti ada orang dengar berabe kita."


Si kurus mengingatkan.


Brak!


Suara benda jatuh.


"Apa gua bilang, pelankan suaramu Boni, bulu kudu merinding semua ni, coba cek sana ada apa? sepertinya suara itu dari ruangan sebelah kanan."

__ADS_1


Si tinggi besar yang di sebut Boni menghentikan langkahnya, dia juga merasa kaget mendengar suara yang jatoh seperti benda keras dilempar.


"Kagak berani Cung, sana kamu aja yang cek,"


Menarik tubuh Kecil nan kurus yang di panggil Cung, yang ada dibawahnya satu tangga.


"Badan aja gede, tatoan, titel pembunuh bayaran, sama suara kaya gitu aja takut, siapa tau tikus nginjek ompreng."


"jelas-jelas itu suaranya kaya di lempar! kalau bukan demit yang lempar terus siapa? rumah ini sejak disita bank gak ada penghuninya, termasuk satpam dan pembantunya juga udah pada pergi semua, anak tiri bos juga dikabarkan hilang sejak mobilnya mengalami kecelakaan sebulan yang lalu."


Boni naik pitam diejek seperti itu sama temanya.


"Hello, lu mikir aja, masa demit bisa lempar barang? jangan halu, yang kaya gituan hanya ada di sinetron sama cerita novel aja, di kehidupan nyata mana ada, lawong badan aja transfaran, bagaimana dia bisa lempar barang segala, kalau iya ada, habis tu si bos dibunuh bini-bininya yang udah dia mampusin!"


Si Cungkring balik nyewot, posisi mereka yang masih di tangga bisa terlihat dengan jelas dari ruangan tempat kedua perempuan yang sejak tadi merekam semua pembicaraan keduanya.


"Halah udah, kalau emang Lo berani, sana liat!"


Belum sempa si Cungkring membalas kata-kata Boni, Tiba-tiba dari arah ruangan sebelah kanan keluar sosok putih dengan rambut tergerai menitupi wajahnya berdiri mematung sambil tertawa lirih.

__ADS_1


Sontak saja kedua lelaki itu terperanjat, keduanya refleks mundur satu langkah tanpa mereka sadari kalau itu tangga, tak ayal si Boni yang ada satu pijakan lebih tinggi dari Cungkring terjatuh dan menghantam badan si kurus kecil membuat keduanya berguling terjatuh dari tangga.


Tanpa memperdulikan rasa sakit, mereka lari tunggang langgang meninggalkan rumah Sandra melewati jendela samping yang dijadikan pintu masuk, keduanya berebutan keluar lewat jendela itu, sehingga membuat mereka terjepit dan memerlukan waktu lama terlepas dari jendela, karena tidak ada satupun mau mengalah.


__ADS_2