BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR38


__ADS_3

Satu minggu sudah Kartika dirawat, selama itu pula Wan Abrada setia menemani. Dia bahkan menyarankan berobat ke Amerika, tapi Kartika menolak. Dia hanya ingin pulang ke kampung halamannya dan menghabiskan sisa hidup bersama suami dan anak-anaknya.


Meskipun Wan Abrada tau Kartika punya suami, tapi dia terlanjur mencintai dan menyayangi perempuan itu tulus. Dirinya tidak rela mendengar Kartika ingin pergi meninggalkanya. Apa saja yang Kartika mau akan dia berikan asalkan bersedia meninggalkan suami dan lebih memilih tinggal disampingnya.


Tapi keputusan Kartika sudah bulat, memutuskan untuk langsung dari rumah sakit pulang ke tanah kelahirannya.


Akhirnya dengan berat hati Wan Abrada meng iyakan keinginan Kartika.


Hari itu juga Wan Abrada pesan dua tiket, dia berniat mengantarkan Kartika, dengan alasan tanggung jawab sebagai anak majikan dan rasa terimakasih selama ini sudah merawat orang tuanya, padahal dari lubuk hati terdalam dia merasa tidak tega melihat pujaan hatinya bepergian sendiri dalam keadaan sakit. Kartika juga menghargai niat baik Wan Abrada.


setelah membayar biaya administrasi dan menebus obat, keduanya langsung berangkat ke bandara, karena semua barang Kartika dan baju Wan Abrada sebelumnya sudah diambil Sopir pribadinya.

__ADS_1


Istri Wan Abrada selama ini tidak pernah mengetahui perselingkuhan suaminya, yang dia tau pergi ke rumah orang tuanya untuk merawat mereka yang telah lanjut usia dan sakit. Kesibukan mengurus bisnis restoran turun temurun dari keluarga Wan Abrada membuat dirinya sedikit mengabaikan suaminya, bahkan diusia pernikahan yang ke lima belum ada buah hati diantara mereka.


Selama ini Wan Abrada juga tidak pernah menuntut istrinya lebih, mereka fokus dengan kesibukan masing-masing sehingga rumah tangga yang mereka bina terkesan dingin meskipun tidak pernah ada pertengkaran diantara keduanya.


Jadi saat Wan Abrada pergi berhari-hari pun sang istri tidak pernah ada rasa curiga, dia selalau berbaik sangka.


********


Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya sampai di Bandara S, tanah kelahiran Kartika. Wan Abrada memapah Kartika yang lemah. Sejak divonis kangker, semangat hidup seakan hilang. Yang tadinya energic, ceria dan penuh semangat berubah jadi pendiam dan lemah.


Tapi Kartika mengabaikannya, matanya fokus menatap sosok pria gagah dengan setelan jas hitam sedang berpelukan dengan wanita seksi lagi modis.

__ADS_1


Kakinya perlahan menuju pasangan yang sekarang bahkan berciuman, seolah mereka tidak perduli dengan berpasangan mata yang menatapnya, mereka terlihat menikmati ciuman itu, dengan pelukan erat seolah tidak ingin berpisah.


Saat jarak seratus meter ke arah mereka, tiba-tiba keduanya mengakhiri ciuman dan pelukan, si wanita berlalu pergi menuju pintu masuk keberangkatan dengan lambaian tangan dan senyum merekah, sementara si lelaki terpaku sambil membalas lambaian tangan dengan senyuman khas yang Kartika kenal dan sangat dia rindukan.


Ya, Kartika melihat Bang Sayid yang mengantar kepergian Sandra untuk bertugas keluar kota selama tiga hari. Hubungan keduanya semakin lengket dan mesra, mereka memutuskan akan segera menikah setelah Sandra pulang dari tugasnya.


Bang Sayid tidak mengenali Kartika yang sekarang, tubuhnya kurus dan wajahnya pucat, lain dengan Kartika dulu, yang bertubuh bohay dan selalu berdandan menor.


"Abang,"


Suara itu tercekat, Kartika ingin berteriak dan memeluk suami yang selama ini dia rindukan, tapi kenyataan pahit justru dilihat dengan mata kepalanya sendiri tanpa sengaja.

__ADS_1


Wan Abrada yang mendengar Kartika memanggil seseorang dan menatap lelaki tampan dan gagah yang ada di depannya seolah tau dengan apa yang terjadi. Dia merengkuh bahu Kartika dan menarik perempuan itu kedalam pelukanya, dengan lembut dia membelai rambut Kartika. Tangisan Kartika terdengar begitu pilu, hanya Wan Abrada yang mendengarnya, karena keramaian Bandara dan suara deru pesawat menyamarkan tangisan Kartika.


Sementara Bang Sayid berlalu pergi setelah memastikan pesawat Sandra take off, dia sama sekali tidak mendengar panggilan Kartika karena terlalu fokus dengan kepergian Sandra dan suara bising.


__ADS_2