
"Apa kalian berhasil menemukannya?"
"Maaf Bos, kami sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada satupun rumah sakit yang memiliki pasien yang mengalami kecelakaan seperti yang Bos sebutkan."
"Kalian sudah pastikan tidak ada rumah sakit yang terlewati di sekitar TKP?"
"Yakin, kami sudah memastikannya berulang kali, iya kan Bon?"
"Kapan kita mandi di kali?, jelas-jelas aku tadi mandi di rumah, aneh saja kamu Kring."
"Hadooh kumat lagi,"
Cungkring bergumam sambil tepok jidat.
"Malah ngelantur kamu Kring, masa bilang mau kiamat segala, jangan sembangan ngomong, bagaimana kalau beneran terjadi."
"Tobat, bener-bener kacau,". Cungkring menundukan kepalanya.
"Kamu saja yang makan obat, ngomongnya ngelantur kaya gitu pake ngomong kiamat segala, aku ini masih waras gak butuh obat!"
"Maafkan Boni Bos, sejak gendang telinganya pecah gara-gara tertusuk tuas jendela di rumah mantan istri Bos, jadi budeg kaya gitu."
"Curang kamu Kring, aku ko tidak di bagi? kamu tau kan gudeg itu makanan kesukaanku, kenapa tadi cuman disisain tahu tempe aja pas kita sarpan."
"Sett! diem kamu Bon! keluar sana, biar aku yang membuat laporan sama Bos."
Sedikit berteriak Cungkring menunjuk ke arah luar.
__ADS_1
"Ihh kamu itu bener-bener ya Kring, gak ada kenyang-kenyangnya, udah sarapan sama gudeg, malah sekarang bilang laper lagi,"
Pergi keluar sambil terus ngedumel.
"Ya salam, berabe kalau terus kaya gini, bisa kacau semua."
Cungkring mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa tidak kau ganti saja Boni dengan orang yang lebih kompetent, jangan sampai budegnya dia menghancurkan rencana kita."
"Maaf Bos, tapi kekuatannya tidak ada yang sebanding dengan Boni, dia jago silat, karate, taekwondo, bahkan tubuhnya kebal. Pendengarannya juga terganggu seperti itu akibat kejadian tempo hari saat mencari barang bukti yang Bos perintahkan, selain itu dokter bilang hanya sementara, kalau lukanya sudah sembuh, kemungkinan pendengarannya normal lagi,"
Cungkring membela Boni yang selama ini telah menjadi partner kerjanya dan selalau bersama kemanapun mereka pergi.
"Bagaimana kalau dia salah mengartikan intrusi?
"Nyawa saya yang jadi taruhannya, kalau sampai terjadi sesuatu yang merugikan Bos. Benar, kami sudah mengecek hampir semua rumah sakit sampai berkalu-kali, tetap saja orang yang bernama Putri tidak pernah kami temukan. Kami juga mendapat informasi kalau orang yang mengalami kecelakaan mobil jatuh ke sungai, sampai sekarang jasadnya belum ditemukan, polisi yakin kalau korban kecelakaan itu hanyut dan tidak selamat."
"Bagus, itu yang aku harapkan, tapi tetap saja rasanya belum tenang kalau mayat Putri belum diketemukan."
"Tenang saja Bos, kami akan selalu memantau kasus kecelakaan Putri. Bagai mana kalau barang bukti itu ikut hanyut bersama Putri?"
"Haha itu justru yang aku harapkan, benda sialan itu ikut hanyut bersama Putri."
Bang Sayid tertawa puas mendengar kemungkinan yang diucapkan Cungkring.
"Bagaimana kalau benda itu disimpan Putri di suatu tempat, dan Putri selamat?"
__ADS_1
"Sialan kamu Kring! sudah bosan hidup hah!"
Mata Bang Sayid terbelalak seolah ingin keluar, mulut mengancing, kedua tangan mengepal siap menghajar Cungkring.
Melihat gelagat yang bisa mengancam keselamatan hidupnya, Cungkring segera angkat kaki dari hadapan Bang Sayid.
"Maaf tadi ngantri, kamu udah laper banget ya sampe lari kaya gitu, ini aku udah beliin nasi padang, katanya tadi laper."
Boni menyodorkan keresek yang ada di tangannya.
"Cepetan kita pergi dari sini Bon, kalau gak mau kena amuk si Bos."
Meraih tangan Boni untuk berlari.
"Wah, aku lupa gak beli Kerupuknya, ya udah ayo kita beli di warung depan rumah Bos saja, sekalian aku juga pengen minum kopi, emangnya kamu saja yang laper sama haus."
"Hadooh, kalau bukan karena kamu sering menyelamatkan hidupku, udah aku kasih makan Buaya saja kamu Bon."
"Kayanya kalau pepaya gak ada, lawong warung kelontongan, mana jual buah-buahan."
"Sudah kamu diam, bikin emosiku naik saja. Mau ikut apa enggak?!"
"Ikut kemana?"
"Ke markas kita!"
Cungkring berteriak agar Boni mendenar, dan segera meninggalkan rumah Bang Sayid yang berada di lingkungan perumahan elite, rumah itu pemberian Nayla.
__ADS_1