
Sri terpana menatap seorang anak kecil berumur sekitar dua tahun, yang menatapnya di seberang jalan. Anak itu berparas sangat tampan, dengan kulit putih bersih, dan lesung pipit di kedua pipi tembemnya terlihat jelas saat tersenyum. Rambut hitam tebal dan alis yang tebal juga menambah ketampanan anak itu. Mata Sri seakan terhipnotis menatap tak berkedip ke arahnya yang seolah melakukan hal yang sama menatap Sri dengan lekat. Tangannya tiba tiba melambai, Sri melihat ke belakang dan sekeliling dia berdiri, tapi tidak ada satupun orang berada didekatnya.
Apakah anak itu memanggilnya? pikir Sri.
Kemudian matanya beralih lagi ke sebrang jalan, dan anak itu masih saja melambaikan tangan.
Ketika dia masih terpaku dan berfikir apa yang harus dia lakukan tiba tiba anak itu berlari ke arahnya, Sri terperanjat kaget apa lagi dari sebelah kanan sebuah truk melaju dengan kencangnya, belum sempat Sri melakukan apa apa Truk itu menghantam anak lelaki itu dengan kencangnya.
"Brak!"
"Akgghh, Tidakk!"
Tiba tiba Sri terperanjat dan terbangun dari tidurnya.
Ketika sadar semuanya hanya mimpi, Sri sangat bersyukur. Tapi rasa sakit melihat anak itu tertabrak seakan membekas di hatinya dan membiat sesak dan tanpa sadar air matanya menetes.
Dia langsung teringat anaknya Rizki, dengan mengenyampingkan rasa benci terhadap Bang Sayid Sri akhirnya memutiskan untuk menelpon suaminya itu. Tapi niatnya segera dia urungkan karna berfikir malam selarut ini Bang Sayid pasti sudah tidur.
__ADS_1
Dia pun langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajud, meminta kesembuhan untuk putra kesayanganya.
********
Setelah semua tugasnya selesai, Sri langsung masuk ke kamarnya dan menghubungi Bang Sayid.
Rasanya Sri lega setelah mendengar kalau Anaknya baik baik saja, bahkan kata suaminya ada kemajuan. Dengan semangat dan wajah ceria Sri pergi menemui Ibu Titi berniat membagi kebahagiaanya.
"Bu Sudah makan belum?"
"Sudah Sri, baru saja."
"Wahhh ada angin apa nih, tumben mukanya beraeri banget Sri? apa tuan Embara melunak dan memberikan hadiah?"
"Enggak Bi, kalau melunak ia, sekarang dia sudah lebih baik sama saya. Tapi bukan itu yang membuat saya bahagia."
"Lha terus apa dong? apa Ibu boleh tau?"
__ADS_1
"Anak saya Rizki sekarang sudah banyak perkembanganya ke arah lebih baik Bu."
"Alhamdulillah, Ibu ikut seneng. Sejak mendengar cerita kamu tentang suami dan anakmu, Ibu jadi ikut kesal sama suamimu, tapi kalau dia bisa menjaga anakmu dengan baik ya gak apa apa kamu disini semangat cari duit buat pengobatanya."
"Iya Bu, asalkan Rizkuku sehat,saya rela ngelakuin apa saja."
"Ayo kamu makan dulu, biar enggak sakit harus semangat dan jaga kesehatan biar anakmu di sana juga merasakan semangat ibunya."
"Iya Bu."
Sri makan dengan lahapnya, perkataan Ibu Titi ada benarnya, aku harus lebih semangat dan bahagia karna biar Rizki merasakan dan melakukan hal yang sama.
Hari itu dilewati Sri dengan keceriaan dan waktu pun terasa lebih singkat, terlebih lagi sekarang Tuan Embara yang dirawatnya bisa menuruti semua jadwal makan dan minum obat dengan patuh tanpa ada perlawanan dan perdebatan seperti hari hari sebelumnya.
Ya, sejak kejadian Sri menyelamatkan nyawa Embara dan memarahinya, Embara sekarang jadi patuh dan lunak terhadap Sri.
Seperti hari hari sebelumnya, rumah Cik Nur memang terlihat sepi, bukan karna tidak ada penghuninya, tapi karna kesibukan masing masing yang membuat rumah itu terkesan tidak ada orang.
__ADS_1
Seperti malam itu, sejak pulang rumah Cik Nur langsung masuk kamar dan biasanya keluar kalau ada keperluan saja, putra satu satunya pun setelah seharin full dengan kegiatan sekolah dan berbagai les dia langsung melakukan hal yang sama dengan Ibunya, etah apa yang mereka lakukan tidak ada satupun yang mengetahuinya.
Sri dan Bu tuti juga melakukan hal yang sama, jarang ada kegiatan diluar kamar setelah jam delapan malam..