
Setelah kepergian Cungkring dan Boni, sosok berbaju putih menyibak rambutnya yang tadi menutupi seluruh wajahnya, sambil tertawa cekikikan.
"Hush suara tawamu itu menyeramkan Put, persis Mbak Kun, bulu kudu Mbak sampai berdiri."
"Habis lucu Mbak, masa mau keluar jendela aja sampe rebutan, jadinya kejepit deh dua-duanya hihihi. Mbak gak liat sih, coba tadi keluar terus videoin pasti viral kalau di apload ke sosmed."
"Mbak juga lihat kamu dari belakang kaya gitu jadi ngeri-ngeri sedep, meskipun yang kamu pake mukena tapi liat jalanmu tadi kaya melayang jadi ngefreeze, serius serem."
"Ah Mbak sama aja penakut hihihi. Ternyata bener dugaan Putri kalau si beren##ek itu yang telah mencelakakan mama sampai meninggal."
__ADS_1
Suara Putri tiba-tiba berubah berat dan serak seolah menahan dendam yang membara.
Sri yang mendengar perubahan suara Putri kembali merasakan bulu kudunya berdiri.
Sejak dirinya memutuskan untuk mendatangi rumah Sandra, perasaan Sri mulai gak enak, entah kenapa ada hawa dingin di sekelilingnya.
Setelah selesai makan malam keduanya langsung berangkat menuju rumah Sandra, mereka sengaja memesan mobil online agar lebih praktis. Mobil yang mereka tumpangi sengaja berhenti agak jauh dari pintu gerbang, dan saat keduanya menuju pintu masuk, mereka melihat dua bayangan hitam sedang mengendap-endap dihalaman rumah, meskipun tidak terlihat jelas, tapi mereka bisa tau kalau ada orang yang mau memasuki rumah Putri.
Setelah berhasil masuk, barulah Sri dan Putri ikut masuk lewat pintu belakang tempat bisa Putri kalau pulang malam selalu lewat situ, karena di balik pintu itu ada tangga yang menghubungkan lantai satu ke kamarnya di lantai dua, bukan tangga utama yang ada di ruang tengah. Setelah berada tepat di depan kamarnya, Putri mengajak Sri keruangan monitor tempat dimana dia dan Ibunya memantau pergerakan yang ada di luar dan dalam rumah, memang lantai dua jadi tempat kekuasaanya Putri, karena jarang ada orang yang berani naik ke lantai dua kecuali ibunya, itupun kalau tidak terdesak, dan hanya pembantu yang sering membersihkan lantai dua tanpa pernah diperbolehkan membuka ruangan monitor sama Putri dan Sandra, yang memegang kuncipun hanya Putri
__ADS_1
"Sudah Put, jangan terbawa emosi, kita harus main cantik untuk mengalahkan Bapak tirimu itu, karena kalau kita gegabah pasti akan sulit membuktikan kejahatannya, selain belum ada bukti yang kuat, dia juga pasti memiliki segudang alasan untuk menyanggahnya."
"Tapi Putri bener-bener gak terima Mbak, setega itu dia mencelakakan mama sampai harus mengalami koma dan akhirnya meninggal. Dia pun tidak ada di lima bukan terakhir mama hidup, bahkan saat pergi untuk selamanya dia tidak menampakan batang hidungnya, yang lebih gila lagi, rumah ini sekarang sudah disita bank, Putri yakin kalau semua ini ulah si beren##ek itu."
"Bukan hanya kamu yang kehilangan orang tersayang gara-gara dia Put, Mbak juga sama,"
"Pokonya akan Putri balas semua kejahatan lelaki itu Mbak, sebelum ada korban lain kita harus bisa menyeretnya ke penjara, kalaupun tidak ada bukti biar Putri yang bunuh dia."
"Jangan bicara seperti itu, masa depan kamu masih panjang, biar Mbak yang akan membalaskan dendammu, hiduplah dengan baik dan bahagialah selamanya."
__ADS_1
Sri meleluk Putri dan mengelus rambutnya, meskipun tubuh Putri masih terasa dingin seperti awal bertemu di mushola depan kamar mayat tapi Sri tidak mempermasalahkannya.