
"Apa yang Bapak perintahkan telah saya laksanakan, dan saya akan menagih janji yang telah kita sepakati sebelumnya."
"Baik, karena kerjamu bagus dan berhasil melenyapkan target yang aku perintahkan, sekarang sebutkan apa permintaanmu?"
"Jabatan tertinggi di perusahaan Bapak, dan saham lima puluh persen!"
"Gila! kamu pikir itu perusahaan milik nenek moyangmu?! Kalau sekedar jabatan akan aku berikan, toh pemimpinnya sudah mati, tapi kalau masalah saham tidak semudah itu."
"Kalau permintaan saya tidak Bapak penuhi, semua kejahatan yang kita lakukan akan saya beberkan di media sosial."
"Kamu ngancem saya hah?!"
"Saya tidak bermaksud mengancam, tapi semua ini sesuai dengan apa yang Bapak harapkan dan dapatkan bukan?"
"Kamu jangan coba-coba menekan saya! lupa siapa saya!?"
"Bapak Wicaksono yang terhormat, tidak perlu anda mengingatkan Saya, karena semua kelemahanmu sudah ada di sini."
Bang Sayid mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah Plashdisk.
"Kamu pikir aku takut?! aku yakin itu hanya gertakanmu saja biar semua keinginanmu bisa terpenuhi, kampungan!"
Wicaksono tersenyum sinis.
"Anda yakin kalau benda ini sampai ke media atau polisi tidak akan membuatmu kehilangan semuanya, bahkan putri kesayanganmu akan membenci dan meninggalkanmu."
"Haha! polisi? mereka bisa dengan mudah aku beli, tidak akan ada yang bisa menyentuh tubuhku, kamu belum tau kalau aku bisa memutar balikan fakta?"
Bang Sayid termenung, dia merasa usahanya akan sia-sia, karena apa yang baru saja dikatakan Wicaksono ada benarnya juga. Selama ini banyak media yang menyentil kejahatan dan pelanggaran hukum yang dilakukan ayah mertuanya, tetapi selalu berakhir diam karena mereka dibungkam dengan uang, kalau pun ada yang tidak bisa mereka suap, pasti berakhir dengan kematian.
"Maafkan saya sudah lancang,"
Bang Sayid menunduk.
"Jangan pernah kamu ulangi lagi! selama kamu patuh dan setia kepadaku, hidupmu akan baik-baik saja, tapi sekali saja kamu membuat aku kecewa, jangan harap hidupmu akan tenang."
Wicaksono membetulkan merah baju Bang Sayid.
"Kring!"
"Kring!"
__ADS_1
"Siapa?"
"Nayla, sepertinya dia sudah mendengar kematian Ibu,"
Bang Sayid menjawab lirih perkataan Wicaksono.
"Tidak perlu kau jawab! biarkan saja dia berfikir kalau kita sedang melakukan pemeriksaan di rumah sakit, setengah jam lagi baru kita pulang dari rumah singgah ini."
"Baik, Pak,"
Pandangan Wicaksono beralih ke gawainya yang berbunyi, dan setelah dia lihat ternyata Nayla menghubunginya juga. Seperti yang diperintahkan kepada Bang Sayid, dia pun tidak menerima panggilan itu.
Gawai keduanya terus berbunyi sahut sahutan, tetapi mereka hanya membiarkannya, Bang Sayid yang sejak awal tidak pernah mencintai Nayla, sedikitpun tidak merasa khawatir dengan keadaan istrinya, dia lebih memilih menjadi budak Wicaksono.
Sebelum meninggalkan rumah singgah, Wicaksono pergi ke halaman belakang, meskipun Bang Sayid sedikit penasaran dengan apa yang mertuanya lakukan, tetapi dia tidak berani mengikutinya. Ditambah bagian belakang rumah itu terkesan gelap karena lampu penerangan temaram, serta banyak pepohonan besar yang rimbun sehingga membuat pandangan dirinya terbatas.
Setelah menunggu lumayan lama, Wicaksono kembali dengan wajah sembab seperti habis menangis, meskipun berusaha menutupi dengan bersikap angkuh dan memasang wajah kerasnya, tetapi Bang Sayid yang sudah terbiasa menyakiti hati orang lain paham betul kalau lelaki yang ada di hadapannya berusaha menyembunyikan kesedihan.
"Ayo kita pulang."
"Mohon maaf apa Bapak baik-baik saja?"
Tanpa menjawab Wicaksono memasuki mobil, diikuti Bang Sayid yang masih penasaran dan berharap mendapatkan penjelasan, meskipun semua itu tidak dia dapatkan.
Hampir tengah malam Wicaksono dan Bang Sayid meninggalkan rumah berlantai dua yang berada dipinggiran kota, meskipun terlihat mewah, tetapi rumah itu sedikit tidak terawat, seperti bangunan lama yang jarang ditempati.
*************
Baru saja kakinya melangkah masuk kedalam rumah, tuba-tiba Bang Sayid diterjang tubuh gempal Nayla sambil menangis tersedu.
"Abang sama Daddy jahat! kenapa tidak angkat panggilan Nayla hah!? huhuhu!"
"Maafkan Abang, tadi lagi nunggu Daddy chek up, handphone kita tertinggal di mobil, belum sempat Abang cek sampai sekarang. Kenapa sayang Abang nangis?"
Mengelus rambut istrinya yang memeluk dengan erat sambil terus menangis.
"Mommy Bang, Mommy!"
"Kenapa dengan Mommy? bukanya tadi sudah berangkat?"
Bang Sayid masih bersikap seolah tidak tau apa-apa.
__ADS_1
"Mommy pergi, huhu!"
"Kamu kenapa Nay? baru Daddy pinjam sebentar suamimu udah nangis kaya gitu, malu tuh sama badan."
"Daddy jahat!"
Berhambur memeluk tubuh Wicaksono, sambil terus menangis.
"Lha ko nangisnya pindah ke Daddy, ada apa Nay?"
"Mommy, mommy per_gi! huhu."
"Kamu ini sudah punya suami Nay, apa gak malu nangis sampai kaya gini gara-gara mommy pergi, kaya baru ditinggal aja. Sudah ah, Daddy mau istirahat capek."
Wicaksono masih berpura-pura tidak mengetahui penyebab kesedihan putri semata wayangnya itu.
"Mommy meninggal Dad! hikz."
Wicaksono yang baru melangkah tiba-tiba terhenti.
"Jangan ngaco kamu Nay! sembarangan kalau ngomong!"
"Nay serius Dad! Mom kecelakaan dan meninggal di tempat,"
"Kamu dapat kabar dari mana? jangan asal percaya kabar gak jelas Nay!"
Wicaksono melakukan panggilan ke nomor istrinya berulang kali, tetapi tidak ada jawaban.
"Percuma Dad menghubungi Mom! tidak akan ada jawaban, Mommy udah gak ada di dunia ini lagi Dad,"
"Apa Nay? coba kamu ulangi lagi!"
"Mommy sudah meninggal!"
Gawai yang ada di genggamannya terjatuh,dengan langkah lunglai wicaksono memasuki rumah diikuti Nayla yang berusaha menopang tubuh si ayah.
Bang Sayid terpukau melihat adegan di depan matanya, meskipun dirinya selama ini memperalat perempuan untuk memenuhi segala hasrat duniawinya dan merasa paling hebat dalam masalah tipu muslihat tetapi melihat kepiawaian Wicaksono dalam menutupi kejahatanya dia merasa tidak ada apa-apanya.
Dengan jelas dia bisa melihat sorot mata Wicaksono sama sekali tidak menggambarkan kesedihan, meskipun postur tubuhnya bersikap sebaliknya.
"Aku pikir dia menyesal dan bersedih atas kematian istrinya, tapi ternyata bukan itu yang membuat dia sembab ketika akan pulang ke rumah ini, lantas apa yang membuatnya bisa sesedih itu? aku semakin penasaran, ternyata selama ini ada yang lebih hebat dariku. Lihat saja, aku akan mengalahkanmu."
__ADS_1