
Segera dia buka gorden dan jendela, baru setelah udara luar masuk, terasa segar.
Sri menuju kamar kedua orang tuanya, saat pintu terbuka bau amis menyeruak, meskipun tidak ada sisa darah yang tertinggal, tapi bau amis masih tercium tajam.
Sri duduk di kasur, dia kemudian mengelus sebuah foto dirinya waktu kecil dalam dekapan Abah dan Ambu.
"Abah, Ambu tolong maafkan Sri, sungguh , Sri sangat menyesal. semoga Allah memberikan tempat terbaik. Sri janji akan menggunakan kesempatan ini dengan menjalani hidup lebih baik lagi, semoga Abah sama Ambu bahagia di sana.
Karena kelelahan setelah perjalanan jauh dan menangis akhirnya Sri terlelap di kamar kedua orang tuanya.
Baru saja matanya terpejam, terasa ada yang membelai lembut kepalanya, Sri mencoba membuka mata tapi tidak bisa, namun meskipun terpejam tapi bisa merasakan apa yang sedang terjadi.
"Akhirnya kamu pulang Nduk, Ambu sangat merindukanmu, apapun yang terjadi janganlah putus asa dan hiduplah dengan bahagia, Ambu sama Abah sangat menyayangimu."
Terasa ada dua tangan yang membelai lembut kepalanya.
"Seberat apa pun cobaan hidupmu tolong jangan pernah menyerah, jangan tinggalkan sholat, dan selalu berbuat baiklah sekalipun terhadap orang yang membencimu."
Suara Abah terdengar begitu lembut.
Ingin rasanya Sri meminta maaf langsung, tapi mulutnya seolah terkunci.
"Ambu sama Abah sudah memaafkanmu, jangan merasa kalau kami benci, tidak ada sedikitpun rasa benci untukmu putriku sayang. Kami pamit, jaga diri baik-baik."
__ADS_1
Sekuat tenaga Sri berteriak memanggil Abah sama Ambu agar tidak meninggalkan dirinya, tapi meskipun sudah berusaha tetap saja mulutnya seperti terkunci. Hanya air mata yang terasa nyata menetes dikedua pipinya.
Terdengar Azan berkumandang, barulah Sri bisa membuka mata, dia langsung berteriak memanggil kedua orang tuanya tapi tidak ada jawaban.
**********
Setelah memberikan servis terbaiknya kepada Sandra, Bang Sayid langsung pergi meninggalkannya begitu saja. Tujuanya hanya satu, mencairkan cek yang tadi diberikan Sandra. Setelah uang itu ada di tangannya dia langsung pergi menuju bar tempat dia kumpul bersama teman-temannya.
"Hallo Bang Sayid, kemana aja? ko baru nongol?"
Bang Togar yang lagi asik main judi menyapanya.
"Biasa, lagi banyak bisnis, sendiri aja? Kang Asep kemana?" duduk di sebelah Bang Togar.
"Tenang aja Bang, kalahpun aku bayar satu juta."
"Yang bener nih Bang? roman-romanya baru dapet rezeki nomplok."
"Pastinya, ha!"
"Enak bener jadi Abang, hidupnya gak pernah susah, tak macam saya ini Bang, susah kali nyari duit, judipun tak pernah menang banyak. Sudahlah modal kecil berharap dapatnya banyak malah minus, yang ada pulang bini ngomel uang belanja kurang. Cobalah kasih saya ilmunya biar bisa hidup enak macam Abang."
"Gak ada ilmunya Bang Togar, hanya ada satu rahasia saja."
__ADS_1
"Apa pula itu Bang?"
"Wajah ganteng dan tubuh yang menarik."
Membusungkan dada.
"Kalau itu saya nyerah, macam mana pula mau ganteng, ini sudah dikasihnya macamni."
"Pakai susuk saja Bang." Setengah berbisik.
"Hah! yang benar saja kau Bang Sayid, macam mana pula aku harus pasang susuk, apa bisa jamin hidupku berubah kalau sudah pasang?"
Mata terbelalak menatap Bang Sayid."
"Saya jamin, pakai ilmu pelet sekalian, cari wanita kaya yang kesepian, bila perlu istri pejabat atau konglomerat juga bisa dengan mudah ditaklukan."
"Apa Abang pakai susuk sama pelet juga?" setengah berbisik.
Karena penasaran dengan apa yang disarankan Bang Sayid akhirnya Bang Togar mengakhiri permainan judinya dan lebih memilih mendengarkan cerita Bang Sayid.
"Iya, aku pakai itu semua. Meskipun wajahku sudah ganteng sejak lahir, di tambah pelet dan susuk membuat siapapun perempuan yang jadi incaranku pasti akan aku dapatkan."
"Darimana Abang mendapatkan itu semua?"
__ADS_1
"Mbah Rekso."