
"Hati-hati naik tangganya Bu, lututnya nanti sakit."
Sri mengingatkan Bu Titi yang menaiki tangga dengan tergesa, karena sering mengeluh sakit di lututnya.
Sampai di depan pintu Embara, Bu Titi langsung mengucapkan salam sambil mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam, keduanya tambah khawatir. Setelah tiga kali mengetuk Bu Titi perlahan membuka pintu.
"Klak"
Pintu terbuka perlahan.
"Maaf Tuan, Ibu masuk ya."
Di edarkanya pandangan Sri dan Bu Titi ke dalam ruangan kamar Embara, tapi di dalam sepi, bahkan kasurpun masih rapi. Keduanya melangkah masuk.
"Tuan! apa di dalam?"
Bu Titi memanggil-manggil.
"Jangan-jangan di toilet Bu?"
"Tapi ko sepi gak ada suara air Sri?"
"Pingsan mungkin Bu?"
"Ah kamu bikin Ibu tambah khawatir aja, tapi gak berani kalau masuk toilet Sri."
"Ayo masuk aja Bu, kalau terjadi sesuatu seenggaknya kita bisa menolongnya."
"Tapi kamu yang buka ya Sri."
__ADS_1
"Iya Bu, "
Sri maju kedepan pintu toilet, dia mengetuk sekali lagi berharap Tuannya menjawab.
Tapi apa yang Sri harapkan tidak terjadi meskipun sudah mengetuk dan memanggil sampai berkali-kali. Dengan perlahan Sri mendorong pintu Toilet.
"Krakk!"
Pintupun terbuka, dan lagi-lagi di dalam tidak ada orang.
"Gak ada Bu,"
"Masa Sri, jangan main-main, kamu tau sendiri kondisi Tuan Embara kalau lagi banyak masalah tingkahnya suka aneh-aneh."
"Beneran Bu gak ada," menggeser badanya memberi celah agar Bu Titi bisa melihat ke dalam toilet.
Bu Titi memeriksa sekali lagi bahkan sampai bathtub yang tertutup gorden bening, tapi Embara tidak ada.
"Kring!"
"Kring!"
"Tolong angkat telponya Sri"
Bu Titi memerintahkan Sri, sementara dirinya masih saja celingukan ke sana sini mencari Embara, karena dia yakin dengan jelas Tuanya masuk kamar dan belum terlihat keluar lagi.
"Ibu!"
Terdengar teriakan Sri dari lantai bawah.
__ADS_1
"Ada apa Sri?"
Setengah berlari Bu Titi menuju Sri yang berlari ke arahnya juga.
"Ibu itu,, itu tadi, itu tadi Bu,"
"Apa to Sri? ada apa? pelan-pelang ngomongnya."
"Anu Bu, itu, itu,"
Menunjuk foto Embara yang terpajang di dinding samping tangga menuju lantai dua.
"Iya, kenapa Tuan Embara? apa kamu menemukannya? trus yang tadi telpon siapa?"
"Anu Bu, Tuan Embara sudah ketemu,, "
"Alhamdulillah, di mana Sri?"
"Di sungai Bu,"
"Sungai mana? kolam renang maksudmu? di sekitaran rumah ini mana ada sungai, ada-ada aja kamu Sri kolam renang ko disebut sungai."
Beranjak pergi menuju kolam renang di lantai satu bagian samping kanan rumah.
"Tunggu Bu, bukan di kolam renang, tapi sungai deket kantor polisi, ternyata bener Bu mobil yang mengalami kecelakaan itu mobilnya Tuan Embara."
Langkah Bu Titi terhenti, dia mematung dengan kepala menunduk. Sri yang ada di belakangan ikut terdiam, merasa kaget dengan tingkah Bu Titi sperti itu.
"Awak tengok dekat bilik saye ade brangkas di sebalik lukisan bunge, masukan kod pin die 000999, awak ambil semua barang berharga dekat situ, bagi sama rata Bu Titi. Semue surat berharga awak serahkan ke balai pemerintahan, cakap dekat korang semue aset yang kite punya termasuk rumah ni bagi anak yatim pihatu dan orang tak mampu. Maafkan saye yang tak bisa menepati janji hantar awak bedue ke bandara. Kemalangan itu tak bisa saye hindari."
__ADS_1