BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR53


__ADS_3

"Hallo Bang, bagaimana kerjaanya? apa sudah beres?"


"Sudah Sayang, ada apa? kangen Abang ya?"


"Iya, Abang tega ninggalin Sandra gitu aja."


"Bukan seperti itu sayang, Abang tidak mau mengganggu tidurmu.


"Ihh Abang ini memang paling the best, Abang terlalu hebat, seluruh badan pegel semua. O iya Bang, jangan lupa malam ini jam tujuh kita sudah harus di bandara, orang tua Abang jangan ada yang bawa baju, semuanya sudah Sandra siapkan."


"Sepertinya orang tua Abang tidak bisa menghadiri pernikahan kita,"


"Kenapa?"


"Mereka suka mabok udara, ma'lum sudah tua, anak Abang juga gak ada yang jagain kalau mereka pergi."


"Ajak sekalian,"


"Lagi ujian akhir semester, tidak bisa libur, sudah lah, cukup Abang aja."


"Ya sudah kalau tidak bisa, yang penting mereka merestui pernikahan kita."


"Pastinya, mereka akan merestui selama Abang bahagia."


Padahal itu semua alasan Bang Sayid semata, dua hari yang lalu sebelum acara tahlil Kartika yang ke lima, Bang Sayid menyampaikan niatnya untuk menikahi Sandra, sontak saja hal itu membuat Abah sama Ambu naik pitam.

__ADS_1


"Tanah kubur Kartika masih basah, ditambah Sri hilang tidak ada kabar, malah mau nikah yang ke tiga kalinya. Dimana hati nuranimu Yid? Pasti mereka akan terluka kalau tau kamu mau nikah lagi. Pikirkan perasaan anak-anakmu juga."


Ambu berbicara sambil berkaca-kaca.


"Kenapa harus mikirin orang yang sudah mati dan pergi ninggalin Sayid gitu aja, yang menjalani hidup itu Sayid, jadi terserah mau gimana, yang penting bahagia, masalah anak-anak itu urusan Ambu sama Abah, Sayid gak bakalan bawa mereka. Pokonya Sayid tetap akan menikahi Sandra, meskipun tanpa persetujuan Abah dan Ambu."


"Kamu gak mikir selama ini sudah menyakiti dan mempermaikan perempuan, Sadar kamu Yid, kamu juga punya anak perempuan, bagaimana kalau anakmu nanti dipermainkan."


"Sayid tidak punya anak perempuan Bah, Hesti bukan anak Sayid."


"Istigfar Yid, jangan sembarangan ngomong, bagaimana kalau Hesti tau?"


"Kenyataanya seperti itu, Kartika mengakui semua kesalahanya, dia hamil sebelum bertemu Sayid, dia juga menjebak Sayid untuk menikahinya, meskipun sampai sekarang tidak ada rasa cinta di hati Sayid untuk Kartika. Dia juga sudah menghianati Sayid, di Arab Kartika jadi gundik anak majikanya."


"Sudah Yid, sudah! berhenti membuka aib orang yang sudah meninggal, kalau kamu mau nikah lagi sana pergi, Abah sama Ambu tidak akan pernah melarangmu, tapi jangan harap kami mau datang dipernikahanmu,"


"Kami tidak pernah malu punya kamu anaku, Abahmu hanya mengingatkan kalau sikapmu itu tidak baik. Tidak salah kalau kamu mau nikah lagi, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Tunggulah sampai empat puluh hari istri pertamamu, dan cari tau kemana perginya Sri."


"Yang sudah pergi biarkan pergi, Sayid tidak akan mencari, kesempatan menikahi wanita seperti Sandra sangat langka, Sayid gak mau kehilangan kesempatan ini."


Berlalu pergi.


"Yid, Sayid anakku!"


Ambu memanggil Bang Sayid dengan deraian air mata, tubuhnya yang rapuh berusaha berdiri hendak mengejar anaknya yang pergi.

__ADS_1


"Sudah lah Ambu, percuma kamu kejar dia, jangan halangi lagi keinginannya, kita do'akan saja semoga Allah membuka mata hatinya dan memberikan hidayah kepada anak kita." Abah menarik tangan Ambu dan memeluknya.


"Meskipun dia bukan anak kandung kita, tapi Ambu tidak mau kalau sampai dia mengikuti jejak Ayah kandungnya. dan berakhir tragis di sisa umurnya."


"Abah ngerti perasaan Ambu, tapi kita bisa apa? Setiap orang sudah ada takdirnya masing-masing, jadi kita hanya bisa mendoakan agar Sayid sadar dan bisa berubah lebih baik lagi."


Mereka tidak menyadari ada seorang gadis terisak di balik jendela kamar, Hesti mendengarkan semua pembicaraan itu, dari awal Bang Sayid mengutarakan niatnya untuk menikah lagi sampai dia pergi entah kemana. Sore itu dirinya sedang bermain petak umpet bersama Arya, dan bersembunyi dibelakang rumah, tepatnya belakang kamar Abah dan Ambu.


Kepergian ibunya masih menorehkan luka yang dalam, meskipun dirinya berusaha tegar demi Arya, tapi menerima kenyataan kalau Bang Sayid bukan ayah kandungnya membuat luka itu tambah menganga. Hesti berlari menuju kubur Ibunya.


"Kenapa Ibu pergi? kenapa Ayah Sayid bukan Ayah Hesti? Terus siapa Ayah Hesti sebenarnya? jawab Bu! jawab!"


Sesampainya di kuburan Hesti meraung sambil memukul-mukul makam ibunya.


"Ibu curang pergi sendirian, Hesti juga mau ikut Bu!"


Tangisnya pecah, kebetulan ada seorang bapak tua yang hendak pulang dari sawah mengenali Hesti, kemudian Bapak itu mendekati Hesti.


"Walah Nduk, kenapa ada di sini, sudah sore ayo pulang sama Bapak. Nanti Kake sama Nenekmu nyariin."


"Hesti gak mau pulang Kake Yanuar, Hesti mau sama ibu disini."


"Gak bagus kalau nangis dikubur ibumu seperti ini, nanti ibu yang sudah tenang di sana jadi sedih lihat Hesti seperti ini. Past Hesti tidak mau lihat ibu sedihkan?


Sudah sore, Arya juga pasti nyariin kamu."

__ADS_1


Dengan lembut lelaki yang tadi Hesti panggil Pak Yanuar membelai pucuk kepala Hesti.


Dengan patuh Hesti mengikuti ajakan Pak Yanuar dan pergi meninggalkan makam Kartika.


__ADS_2